Uniknya Ramadhan di Sudan, Mulai dari suhu 45°C sampai kisah seorang Syeikh

Uniknya Ramadhan di Sudan, Mulai dari suhu 45°C sampai kisah seorang Syeikh

SHARE

Sesuai dengan namanya, asal kata Ramadhan diambil dari kata Ar-Ramdh (arab: الرمض) yang artinya panasnya batu karena terkena terik matahari. Sehingga bulan ini dinamakan Ramadhan, karena kewajiban shaum di bulan ini bertepatan dengan musim panas yang sangat terik.

Mungkin di tanah air indonesia akan sedikit kurang merasakan panasnya suhu ketika melaksanakan shaum di bulan yang penuh berkah nan ampunan ini, dikarenakan iklimnya yg tropis sehingga rata-rata suhunya tidak lebih dari 28°C derajat celcius.

Akan tetapi lain halnya di Sudan di negara yang terkenal akan panasnya, ketika berada di bulan ramadhan itulah puncaknya fashlu shaif (musim panas), yang biasanya ‘hanya’ kisaran 38°C di bulan-bulan sebelumnya, kini suhu menjadi naik sampai 45°C di bulan ramadhan, dahsyat bukan serasa di dalam oven saja. 😭😭😭

Selain tentang panasnya, sudan juga terkenal akan kesederhanaan dan kedermawanan masyarakatnya, seperti yang sudah diposting sebelumnya mengenai ‘begal’ ramadhan di Sudan.

Kali ini tentang seorang syekh juga pengusaha, beliau syekh Abdul Aziz yang menyediakan ifhtar jama’i (buka shaum bersama) untuk mahasiswa-mahasiswa asing yang berada di sudan diantaranya mahasiswa asal yaman, thailand, malaysia, kamboja dan masih banyak lagi, yang mana ifthor ini diadakan selama 30 hari penuh dan mahasiswa indonesia lah jumlah terbanyak yg mengikuti acara ini sekitar 50 orang termasuk saya juga kedua sahabat saya kang Indra Nuryana dan kang Rahmat, yang mereka juga anggota PCI PERSIS Sudan asal kota bandung yang baru merasakan ramadhan perdana disini.

Untuk menu makanannya pun dicocokkan dengan lidah kita dan beberapa menu lokal yang ringan serta tak terlewatkan beraneka macam ‘ashir (jus) yang siap menghilangkan dahaga. 😃

photo_2017-05-31_05-57-13
Tak hanya menyediakan ifthor, syekh pun menfasilitasi kendaran untuk menjemput dan mengantar para mufthirin (orang yang berbuka) sampai ke tempat acara yang bertempat di halaman luas depan rumahnya sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan uang saku untuk ongkos perjalanan, bahkan kita lah yang nanti akan menerima ‘salam tempel’ dari syekh sebagai tanda kasih sayang beliau terhadap para penuntut ilmu di Sudan ini. Maa syaa Allah.

Semoga menjadi teladan bagi kita semua untuk senantiasa berbagi kepada sesama dan Allah lah yang akan membalas segala kebaikannya.

 

***
Kontributor; Ilham Maulana, Sekertaris PCI PERSIS Sudan