Universitas dan Keterbelakang Umat Islam

Universitas dan Keterbelakang Umat Islam

SHARE
Prof. Dr. Hamid Bin Ahmad Al-Rifaie

Prof. Dr. Hamid  Bin Ahmad Al-Rifaie*

Alvin Toffler, penulis dan futurology dari AS dalam bukunya Future Shock berbicara tentang pengajaran –ta’liim– dan ilmu pengetahuan – maa’arif–  di negara yang sedang berjuang sendiri membangun peradaban, terutama bangsa Arab dan umat Islam pada umumnya. Pertanyaannya adalah, kenapa kita tidak menselaraskan ibadah ruhani/ibadah spirituan  dan ibadah ‘imroniyah/ibadah kemakmuran? Kenapa ada tirai penghalang antara umat Islam dangan ilmu pengetahuan? Kenapa keterbelakanggan ini terjadi dimana Universitas di negara Arab berada di urutan paling buncit dalam bidang riset dunia? Misalkan, apabila kita mencari universitas terkemuka dari 500 universitas  dunia jarang sekali universitas yang berasal dari dunia Arab? Apakah  umat Islam mandul dalam  bersumbangsih terhadap pemikiran?, apakah memang ada penyebab lain sehingga seolah-olah agama bertentanggan dengan ilmu pengetahuan?.

Menurut, penulis hal ini merupakan problematika dan tantangan besar yang dihadapi dalam perjalanan peradaban umat Islam. Permasalahan pendidikan dan tantangganya memang berhubungan dengan penegakkan kemakmuran hidup, atau kemungkinan terdapat kesalahan kita dalam memahami prinsip ayat al-Quran di bawah ini :

فامشوا في مناكبها وكلوا من رزقه و كلوامن رزقه

Artinya : ‘… Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya…’ (QS.67, al-Mulk : 15). Sayang,  umat Islam saat ini terbelakang dalam bidang pendidikan dan riset, kita tidak berjalan pada prinsif (فامشوا) dan juga kita tidak belajar dari kesurituladan pendahulu kita. Sehingga kita menjadi bangsa konsumtif, terutama konsumtif terhadap produksi pengetahuan dan budaya lain, padahal kita adalah empunya semua itu. Yang sangat disesalkan, kita juga menjadi tujuan konsumen dari produksi umat lain. Bahkan kita menjadi konsumen utama terhadap keyakinan agama lain, yang hal ini tidak selaras dengan  ayat ini :

..إني جاعل في الأرض خليفة..

Artinya : “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (QS.2, al-Baqoroh : 30).

Ayat pertama yang diturunkan dalam al-Quran dimulai dengan  kata Iqra (bacalah) dengan nama Tuhannya yang telah menciptakan. Bahkan penghormatan Allah swt, terhadap ilmu pengetahuan diabadikannya salah nama ATK yaitu al-Qolam/pensil sebagai salah satu nama surat dalam al-Quran. Sejatinya ilmu pengetahuan dalam Islam berkaitan erat dengan keyakinan, tetapi dalam perjalanan sejarah modern umat Islam sangat ketinggalan sekali. Umat Islam pendahulu berperan penting dan menghiasi nilai-nilai peradaban yang ada di dunia. Menurut hemat penulis, penyebab keterbelakang itu karena kesalahan dalam menimbang terhadap falsafah al-Quran dan tujuan risalah manusia di dunia. Risalah manusia itu, ialah Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi  agar mengelola  semua materi/maadah  yang diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah yang satu sebagaimana tujuan diciptakan manusia. Semua makhluk ciptaan Allah beribadah kepada Sang Pencipta :

وما خلقت الجن و الانس الا ليعبدون

Artinya : ‘dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS.51, ad-Dzuriyaat :56).

Sebenarnya bagaimana ciptaan Allah harus beribadah? Selama ini kita memandang bahwa ibadah itu hanya sholat lima waktu,puasa, zakat, haji dan yang berkenaan dengan masalah spiritual saja. Padahal terdapat ibadah lain yang sangat penting  dan mulia di sisi Allah swt, daripada ibadah spiritual, yaitu ibadah pemakmuran bumi. Penulis dalam hal ini membagi ibadah kepada dua, yaitu yang berkaitan dengan spiritual,   عبادة روحنيةdan ibadah yang berkaitan dengan kemakmurkan ciptaan Allah, khusunya dalam mengelola bumi  عمرانية عبادة.

Ibadah spiritual berfungsi guna membangkitkan/menguatkanibadah ‘imrooniyah. Apalah gunannya, risalah mesjid apabila tidak memberikan pengaruh positif terhadap risalah pasar dan universitas, atau tidak memberikan manfaat dalam bidang mua’malah. Selama ini kita hanya berkonsentrasi di mesjid dan meninggalkan pasar, yaitu ibadah mendirikan norma-norma kehidupan, memanagemen pelaku usaha, mengembangkan produktivitas dan inovasi budaya, pertanian dan bidang lainnya yang kita tinggalkan. Sementara kita hanya ‘ber-thowaf’ di sekitar mesjid. Ibadah spiritual bagus dan penting, tetapi apabila kita melalaikan ibadah imrooniyah ini yang berfungsi  menyiapkan orang-orang  profesional dan istiqomah untuk ibadah di luar mesjid. Barang siapa yang sholatnya tidak berpengaruh terhadap ibadah di pasar dan tidak berpengaruh dalam membumikan kemakmuran kehidupan maka hal itu dipertanyakan kekhusuanya. Yang terjadi kita menutup ibadah ‘imrooniyah dan melemahkan etos produktivitas,  padahal ibadah spiritual seharusnya berfunsgi dalam membangkitkan, mengembangkan dan mengontrol ibadah ‘imrooniyah.

Produksi  tidak dihasilkan karena orang dan agama tertentu, karena maadah atau materi merupakan sumber produksi bagi orang yang berakal dalam beribadah kemakmuran kepada Tuhan. Seorang yang taat beribadah kepada Allah, belum tentu akan membantu kita dalam berkarya apabila dia tidak memiliki kemampuan dan kemahiran bidang tertentu, bahkan non-muslim akan bermanfaat bagi kita karena kapasitas produktivitasnya. Materi/bumi ini diciptakan bagi para orang yang memiliki keahlian sehingga ia dapat memberikan manfaat kepada orang lain, baik dia itu muslim, kafir, fasik atau atheis sekalipun. Seorang yang belajar kimia dia akan membutuhkan kepada ilmuan kimia, apakah dia muslim atau bukan, dia tidak akan memilih seseorang berdasarkan penyembahan kepada  Tuhan yang sama. Dengan demikian, segala produk sangat berkaitan erat sekali dengan kesungguhan dan kecakapan manusianya, dan tidak ada hubungan dengan keyakinan seseorang.

Agama yang dianut seseorang tidak berhubungan dengan produksi  ilmu pengetahuan. Karena agama berkenaan dengan perilaku spiritual yang tugasnya memberikan rangsangan produksi terhadap ilmu pengetahuan.

Misalkan, apabila Uni Soviet memiliki nilai dan norma spiritual, tentunya tidak akan menjadi negara yang hancur karena dia hanya mengutamakan materi, tetapi mengenyampingkan nilai dan norma agama. Bisa jadi penyebab keterbelakang dalam menguasai teknologi/ilmu pengetahuan karena kita memahami agama secara tidak komprehensif,  seperti  pemahaman yang membiarkan para ilmuwan kimia, fisika dan ilmuwan lain berada di seberang yang berbeda jauh dari tujuan Islam. Berdoa untuk dijadikan insinyur yang konsisten dan bermanfaat bagi yang lain adalah baik, tetapi Allah tidak memberikan syahadah insinyur berdasarkan sholat, puasa atau haji seseorang. Kebangkitan teknologi berkaitan erat dengan upaya dan kesungguhan manusia berkarya. Kita hanya berkonsentrasi dari segi spiritual dalam berfikir, spiritual sangat penting tetapi bukan asas dalam pembangunan manusia, karena yang diperlukan adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan keseriusan. Seharusnya ibadah ruhaniyah dan ibadah ‘imroniyah selaras sebagaimana muslim terdahulu sehingga mereka dapat menciptakan peradaban yang bernilai tinggi dalam sejarah manusia.

Universitas di Barat serpeti Harvard  merupakan workshop/bengkel untuk berproduksi tidak seperti Universitas di negara Arab yang masih berbentuk kelas tradisional. Kebanyakkan universitas negara muslim masih berupa kelas sekolah menengah yang diperluas, dan mahasiswa seperti murid SMA yang membawa tas dan hanya mendenggarkan paparan dosen, padahal ini jenjang universitas yang seharusnya berbeda. Unversitas adalah tempat workshop, tempat berlatih kemampuan produksi, untuk itu kita harus mengkaji ulang kurikulum pendidikan Universitas. Contoh kongrit, Jerman pernah jatuh dan hancur paska Perang Dunia II tetapi dia dapat bangkit sehingga menjadi negara maju dan terkemuka serta  disegani oleh dunia juga Jepang pernah mengalami kondisi yang sama?. Kenapa negara non-muslim dapat maju dalam mengemban ibadah ‘imrooniyah? Karena mereka telah meningkatkan dari methode tradisional   – kapur dan papan tulis –  di sekolah sasar dan di universitas menjadi workshop dan sikap inovatif mahasiswa, dan peranan dosen membimbing dang mengarahkan mereka agar aktif berproduksi.

Hal yang sama dilakukan di China, rakyat dibawa ke tempat atau bengkel latihan untuk bekerja dan berkarya. China sekarang mampu menginvansi dunia, termasuk ke Amerika dan Eropa yang dibanjiri beragam produk I Made Ketut dari China. Pada saat penulis mahasiswa, pengajaran di universitas negari Arab dalam 8 jam diisi materi sejarah dan pendidikan agama, padahal mahasiswa diharapkan dapat membuat paku, palu, kanpak dan martil. Sangat disesalkan juga, Universitas di dunia muslim saa ini mengagendakan  bagaimana impor lulusannya ke luar negeri, bukan sebaliknya untuk ekspor produksi dan tidak diajarkan mahasiswa bagaimana menjadi eksportir yang sukses. Perbedaan antara methode pendidikan dunia Islam dan Barat sangat mencolok, Universitas di Barat berpusat kepada aksi yang sesuai dengan kaidah al-Quran  (فامشوا) dan kita berjalan pada kaidah berkatalah (فقولوا), kita tetap berasumsi dan mereka sudah berjalan jauh bahkan berlari kencang. keduanya kaidah itu sama-sama punya iraadah/keingginang, tetapi keingginan dari kaidah ucapan adalah konsumtivitas, dan iradah famsyuu adalah  produktivitas, itulah sekilas perbedaan universitas di negara muslim dan Barat.

*Ia adalah mantan dosen kimia dan pemikir Saudi yang aktif dalam forum dialog antar agama, Presiden International Islamic Forum for Dialogue (IIFD) berpusat di Irlandia, Wakil Ketua Motamar al-Alam al-Islami l The World Muslim Congress (WMC), dan penulis produktif yang telah menerbitkan lebih dari 75 buku dalam bahasa Arab dan Inggris. Diterjemahkan dan disusun ulang oleh Arip Rahman yang tinggal di Rabat-Maroko dari dialog dengan Prof. Al Rifaei