Berdosakah kita Memilih Partai atau Pemimpin Yang Menyeleweng?

Dipublish pada 15 November 2016 Pukul 08:26 WIB

1776 Hits

Dari pertanyaan tersebut ada kesan bahwa pemilih tidak tahu kalau pemimpin yang dipilihnya akan menyeleweng. Dalam artian, pemilih sebelumnya tahu betul bahwa pemimpin yang tidak shalih, baik, jujur anti korupsi dan sebagainya. Tapi ketika sudah jadi pemimpin ternyata ia menyeleweng juga.

Jika demikian seperti itu kasus yang terjadi, maka pemilih tidak berdosa. Karena ia memilih berdasarkan ketentuan syari'at yang ada, yakni orang orang yang memang layak dipilih baik dari segi profesionalitasnya ataupun integritasnya (kepribadiannya). Adapun tindakan menyeleweng dari sang pemimpin yang dipilih, maka kesalahan itu murni ditanggung olehnya.

Dalam hal ini, Alloh Swt berfirman:

 

أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

(yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain,

 

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, (QS An-Najm 38-39).

Maka dari itu sudah selayaknya jika kita melakukan shalat istikharah sebelum menentukan pilihan kita. Mengingat partai politik pemilhan pemilu beragam corak dan alirannya. Ditambah lagi beberapa diantaranya sama-sama "berkampanye" sebagai partai Islam tujuannya, tentu saja agar pilihan kita berada dalam ridla-Nya Swt.

Selain itu guna mengantispasi kasus diatas sudah semestinya kita mengikat "kontrak" dengan calon pemimpin yang akan kita pilih. Paling tidak kita punya akses yang kuat untuk melakukan monitoring (pengawasa) kepada sang calon pemimpin yang bersangkutan. Ini harus dilakukan agar ketika ia menyeleweng kita mampu melakukan. Karena jika pekerjaan ini (baca; amar ma'ruf nahyi munkar) tidak dilakukan kemungkinan besar dikarenakan kita tidak mungkin melakukannya, maka berdosalah kita karenanya. Buka karena tindakan "memilih" kita, tetapi tindakan tidak melakukan amar ma'ruf nahyi munkar kepada pemimpin yang dipilih oleh kita.

Jadi sekali lagi lakukan sholat istikharah, lalu pastiakan calom pemimpin yang kita pilih adalah orang yang memungkinan kita untuk mengawasinya. Dan untuk terakhir ini, anda bisa mengajak rekan-rekan seperjuangan anda dala pelaksanaannya. Atau anda bisa mempercayakannya kepada teman seperjuangan anda dan dekat dengan anda, jika anda merasa awam dalam hal yang satu ini.

 

■sumber Istifta

Majalah Risalah 1968

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?