Fenomena Dakwah Salafy di Indonesia

Fenomena Dakwah Salafy di Indonesia

Dipublish pada 19 Desember 2019 Pukul 06:13 WIB

6271 Hits

Oleh : KH. Shiddiq Amien (Allahu Yarham)

 

Pertama-tama kita panjatkan puji dan syukur Alhamdulillah, yang dengan bimbingan rahmat  dan  inayah-Nya,  saya bisa menyusun makalah sederhana yang disampaikan dalam Majlis  Mubahatasah tentang Salafy yang diselenggarakan oleh PW Persis Jawa Barat, pada tanggal 6 Rabi’ul Awwal 1428 H / 25 Maret 2007 H di Bandung.  Dan atas usulan dan desakan dari banyak ikhwan agar tulisan ini dibukukan dan diterbitkan,  saya lakukan beberapa koreksi dan tambahan. Mudah-mudahan kajian tentang  Salafiyah  ini bermanfaat adanya.  Dengan segala keterbatasan pengetahuan dan kemampuan, izinkan saya menyampaikan  hal-hal sebagai berikut :

 

Salaf, Salafy, dan Salafiyah :

Istilah : Salaf, Salafy, Salafiyah, Salafiyyun berasal dari kata dasar  Salaf  yang berarti: terdahulu, telah lalu, telah selesai, kaum di masa lalu.  Dalam kontek kajian ini, yang dimaksud dengan Salaf adalah  “ Salafus Shalih “  yakni para pendahulu  umat Islam  yang shalih. Mereka adalah : Para Sahabat Nabi saw, Para Tabi’in, dan Para  Tabi’ut Tabi’in.  Salafiyah berarti  ajaran Salafus Shalih. Sementara Salafiyun adalah orang-orang yang mengikuti ajaran Salafus Shalih.  Sedang Salafy adalah sebutan  bagi mereka.  Istilah Salafy juga mencerminkan makna komunitas ideologis yang serupa dengan sebutan : Maliki            ( pengikut madzhab Imam Malik ), Hanbali ( Pengikut madzhab Imam Ahmad bin Hanbal ),  Ikhwani ( Pengikut Ikhwanul Muslimien ), Tabligi (  Pengikut Jamaah Tabligh ), Khariji        ( Pengikut paham Khawarij ).  Salafy juga adalah sebuah madzhab, seperti diakui  oleh Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan yang pernah dimuat dalam situs www.almanhaj.or.id  tanggal 9 September 2006, ketika menanggapi tulisan Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi dalam bukunya “ As-Salafiyyah Marhalatun Zamaniyyatun Mubarokah Laa Mazhabun Islamiyyun “ di halaman 236  Al-Buthi menulis judul  “ Bermazhab Salafy Adalah Bid’ah “. Syaikh Shalih membantahnya dengan mengatakan : “ Perkataan ini mengherankan dan mengagetkan sekali, bagaimana mungkin bermazhab salafy itu bid’ah dan sesat ? Bagaimana mungkin dinyatakan bid’ah Padahal ia mengikuti mazhab salaf. Sementara mengikuti mazhab mereka adalah wajib sebagaimana dijelaskan Al-Kitab dan As-Sunnah dan ia juga haq dan huda ?”  Syaikh Shalih berargumen dengan QS. At-Taubah : 100 dan hadits Nabi saw riwayat  At-Tirmidzi yang memerintahkan untuk mengikuti Sunah Nabi saw dan sunnah para Khulafaur Rasyidin. Syaikh Shalih kemudian menyatakan : “Dengan deminkian bermazhab salaf itu tidak bid’ah melainkan sunnah, dan justru bermazhab dengan selain salaf adalah bid’ah “.

Seseorang  dinilai  sebagai  Salafiyun karena sikap dan prilakunya mengikuti ajaran salafus shalih, meskipun ia  sendiri tidak mengaku sebagai salafy. Sebaliknya tidak jarang  ada orang mengaku sebagai salafy, tapi  sikap dan prilakunya tidak mencerminkan ajaran Salafus Shalih. Kita melihat banyak Pondok Pesantren dengan label  Salafiyyah, tapi tidak jarang di antaranya, di dalamnya masih banyak perbuatan syirik dan bid’ah. Demikian juga  tidak jarang pengakuan sebagai Salafy itu diiringi dengan sikap kibir dan perasaan sebagai orang yang paling hebat dan bersih,  atau dengan mudah menuduh orang lain  sesat atau kafir, sikap seperti itu tentu saja bukanlah ajaran Salafus Shalih.   Allah swt sudah mengingatkan kita dengan firman-Nya :

 

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى –النجم : 32

Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. ( QS. An-Najm : 32 )

 

Nabi saw. juga sudah mengingatkan kita :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ – ر مسلم : ر 4650

Dari Abi Hurairah ra , Rasulullah saw bersabda :  “ Janganlah kalian saling dengki, saling menjatuhkan,  saling benci, saling membelakangi, dan janganlah sebagian kamu menjual barang dagangan sebagain kamu, dan jadilah kamu sekalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim dengan muslim yang lain adalah saudara, tidak boleh menzaliminya, merendahkannya, menghinakannya. Taqwa itu disini !”  Nabi saw menunjuk ke dadanya tiga kali. “ Cukup bagi seseorang terlibat kejahatan dengan cara menghina saudaranya yang muslim. Setiap muslim haram : darahnya, hartanya dan kehormatannya.” ( HR. Muslim : No 4650 )

 

 

Dakwah Salafy di Indonesia :

Prof. DR. H. Dadan Wildan, M.Hum dalam bukunya  “ Pasang Surut Gerakan Pembaharuan Islam di Indonesia  ( 2000 )” menjelaskan bahwa  gerakan Wahabisme di Saudi Arabia  yang dimotori oleh  Imam Muhammad bin Abdil Wahab,  sebuah gerakan pembaharuan yang dalam istilah  Imam Ibnu Taimiyyah disebut  “ Muchyi Atsaris Salaf “   dalam waktu singkat telah menyebar ke seluruh pelosok dunia, termasuk   Indonesia.

Pada akhir  abad ke-18 gerakan Salaf ini telah masuk di ranah Minangkabau. Tercatat tokoh  Haji Miskin dari Pandai Sikat, Haji Sumanik dari Delapan Kota, dan Haji Piabang dari Tanah Datar. Ketiganya menyaksikan secara langsung gerakan kaum Wahabi di Mekah saat mereka menunaikan ibadah haji, mereka kemudian melakukan upaya yang sama di Minangkabau.

Perkembangan gerakan pembaharuan Islam di Indonesia pada awal abad ke-20 ditandai dengan berdirinya beberapa organisasi Islam. Organisasi  yang pertama muncul adalah organisasi pendidikan yang dimotori oleh masyarakat Arab-Indonesia yang prihatin terhadap pendidikan kaum muslimien yang dikuasai oleh kolonial Belanda. Awalnya lembaga pendidikan itu lebih diperuntukan bagi masyarakat Arab sendiri, namun kehadirannya telah membawa dampak positif bagi perkembangan pendidikan Islam selanjutnya.  Pada tanggal 17 Juli 1905 didirikan Al-Jam’iyyah Al-Khairiyyah, yang kemudian lebih dikenal dengan Jami’at Khaer, di Jakarta.  Pada Oktober 1911, tiga orang guru utama dari   Timur Tengah, yakni : Syekh Ahmad Soorkati As-Sudani dari Sudan, Syekh Muhammad Thaib dari Maroko, dan Syekh Muhammad Abdul Hamid dari Mekkah, atas undangan Jamiat Khaer tiba di Jakarta dan bergabung dengan kelompok itu. Dari ketiga  tokoh  itu, Syekh Ahmad Soorkati-lah yang paling banyak memberikan andil bagi upaya pembaharuan Islam di masyarakat Indonesia. Namun karena ada konflik dengan  masyarakat Arab-Sayyid yang merasa memiliki  derajat yang lebih tinggi karena meyakini memiliki garis keturunan dengan Nabi saw. pecahlah Jami’at Khaer ini.  Syekh Ahmad Soorkati lantas mendirikan lembaga lain yang diberi nama Al-Irsyad ( Al-jam’iyyatul Islah Wal Irsyadil Arabi ) yang didirikan pada tanggal 16 September 1914.

Pada tanggal 18 Nopember 1912 KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta mendirikan Muhamadiyyah. Organisasi ini didirikan tidak hanya terdorong oleh  upaya kristenisasi, dan pembatasan akses masyarakat ke dunia pendidikan dan pelayanan publik seperti kesehatan dan sosial,  yang dilakukan oleh kolonial Belanda, tapi juga merupakan perlawanan terhadap tradisionalisme Islam.   Upaya pembaharuan Islam di Jawa berbeda dengan upaya serupa yang dilakukan di Sumatra Barat, tantangan tradisionalisme Islam di Jawa relatif lebih berat. Hal ini disebabkan oleh kuatnya pengaruh nilai-nilai Hindu-Budha serta nilai-nilai paganistik lainnya yang ada pada masyarakat Islam Jawa waktu itu.

Di Bandung juga terdapat gerakan yang mempunyai dasar yang sama dengan Muhamadiyyah dalam menyebarkan ajaran Salaf serta berusaha mengembalikan umat Islam kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Organisasi ini bernama Persatuan Islam (Persis) yang didirikan pada tanggal 12 September 1923 oleh KH. Zamzam dan KH. Muhammad Yunus yang keduanya berasal dari Palembang.  Dalam aktivitasnya Persis berusaha keras mengembalikan umat Islam ke dalam ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah, menghidupkan ruhul jihad dan Ijtihad, serta membasmi segala bentuk : bid’ah, khurafat, syirik dan taqlid buta melalui pendekatan dakwah lisan, tulisan dan lisanil-hal, serta mendirikan lembaga-lembaga pendidikan.

Abu Abdirrahman At-Thalibi dalam bukunya “  Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak, Meluruskan Sikap Keras Da’i Salafi “  (2006) menjelaskan bahwa sejak awal tahun delapan puluhan terjadi perkembangan dakwah yang berbeda di  Indonesia. Saat itu mulai berdatangan elemen-elemen pergerakan dakwah Islam dari luar negri ke Indonesia. Kebetulan jika merunut  sejarah, tahun 70-an merupakan tahun “internasionalisasi” bagi jama’ah-jama’ah dakwah tertentu. Di tahun 80-an mulai muncul :  Tarbiyyah (Ikhwanul Muslimin), Jama’ah Tabligh  (JT), Hizbut Tahrir (HT), Jamaah Islamiyah (IJ)  dan belakangan  mereka yang menamakan dirinya  Salafy.

Menurut At-Thalibi, kini muncul kesan kuat bahwa komunitas Salafiyah di Indonesia terpecah ke dalam dua kelompok besar yang saling “ bermusuhan.”  Kelompok pertama ialah Salafy Yamani, yang merupakan kelanjutan dari Laskar Jihad di masa lalu.  Mereka merupakan jaringan para da’i salafy yang berafiliasi kepada syaikh-syaikh salafy di Timur Tengah. Khususnya Markaz Ilmiyah Darul Hadits Syeikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i, di kota Sa’adah, Yaman.  Kelompok ini sangat menolak metoda pergerakan ( harakiyyah ), sebab hal itu dianggap  sebagai bid’ah dan merupakan praktik fanatisme (hizbiyyah ). Salafy Yamani dulu ditokohi oleh Ustadz Ja’far Umar Thalib dari Malang . Ia yang mendirikan Pondok Pesantren Ihyaus-Sunnah di Degolan, Yogyakarta. Dialah pelopor Salafy Yamani di Indonesia di awal tahun 90-an sampai dibubarkannya Forum Komunikasi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ( FKAWJ ) yang ia dirikan pada 14 Februari 1998  serta sayap militernya yang diberi nama Laskar Jihad  yang ia dirikan pada  tanggal 30 Januari 2000.  Ia juga menerbitkan majalah yang diberi nama Salafy.  Tapi kini Ustadz Ja’far Umar Thalib dianggap bukan lagi bagian dari komunitas Salafy Yamani,  demikian juga majalah Salafy-nya. Para Ulama yang menjadi rujukan para da’i Salafy Yamani, terutama Syeikh Rabi bin Hadi Al-Madkhali dan Syeikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i merekomendasikan agar FKAWJ dan Laskar Jihadnya dibubarkan. Ja’far Umar  juga di-tahdzir ( diberi peringatan keras ) oleh gurunya sendiri. Dan setelah kejadian itu ia dijauhi oleh para pemuda Salafy Yamani, Pesantrennya juga jadi kosong melompong. Para koleganyapun satu persatu menjauhinya, termasuk Muhammad Umar As-Sewed  yang kini menjadi tokoh Salafy Yamani. Dia yang kini memimpin Pondok Pesantren Dhiyaus Sunnah di Kecapi, Cirebon.

Kelompok kedua  ialah  Salafy Haraki, yaitu dakwah salafiyah yang menerapkan sistem pergerakan ( harakiyyah ).  Metoda tersebut meskipun tidak sama persis, serupa dengan metoda yang ditempuh oleh Jamaah-jamaah dakwah Islam seperti : Ikhwanul Muslimien (IM), Hizbut Tahrir (HT), Jamaah Tabligh (JT) , dll.  Pola haraki inilah yang membedakan kelompok ini dengan Salafy Yamani dan Salafy independen yang tidak mengikatkan diri dengan jama’ah, madrasah atau organisasi apapun.  Menurut Salafy Haraki  tanzhim               ( sistem organisasi ) itu dibutuhkan untuk menunaikan dakwah di tengah berbagai fitnah kehidupan zaman modern. Mereka menilai bahwa sistem organisasi itu sebagai bentuk ijtihad yang diperbolehkan dalam Islam.  Di kalangan Salafy Yamani dan sebagian ulama Salafy, baik di Yaman maupun di Timur Tengah pada umumnya ada sebutan bagi komunitas Salafy Haraki ini, yaitu Sururi  atau Sururiyyah.  Dinisbahkan kepada seorang tokoh yang dianggap sebagai perintis gerakan ini, yakni Muhammad Surur bin Neyef Zainal Abidin, mantan tokoh Ikhwanul Muslimin asal Syiria. Muhammad Surur adalah pemimpin Yayasan Al-Muntada’ Al-Islamy yang berpusat di London. Lembaga ini mengkoordinasikan majlis-majlis dakwah salafiyah yang berpola pergerakan. Selain Muntada’ Al-Islamy, ada juga  Jum’iyyah Ihyaut Turats Al-Islamy yang berpusat di Kuwait yang dipimpin oleh Syeikh Abdurrahman Abdul Khaliq. Salafy Haraki ini menjadi identik dengan dua organisasi dakwah ini, meskipun di luar keduanya masih ada lembaga-lembaga lain yang juga menempuh metoda serupa.

“Permusuhan “ antara  Salafy Yamani dengan Salafy Haraki ini nampak sangat tajam. Pihak Yamani menyebut kelompok Haraki ini sebagai ahlul bid’ah, sehingga berhak untuk direndahkan serendah-rendahnya, dihinakan dan dijauhi.   Sekedar contoh saja : Dalam tulisan yang berjudul  “ Membongkar  kedustaan Abdurahman At-Tamimy Al-Kadzab “  seorang tokoh Al-Irsyad di jawa Timur, yang ditulis oleh   Abu Dzulqarnain Abdul Ghafur Al-Malanji, yang pernah dimuat di situs www.salafy.or.id , untuk katagori syururiyyah, Tulisan yang dipublikasikan dalam 4 seri itu  merupakan bantahan atas ceramah Abdurrahman At-Tamimi di hadapan komunitas ilmiyah salafiyah di Markaz Imam Al-AlBani di Yordania. Abu Dzulqarnain menyatakan kepada Markaz Imam Al-Albani Yordania, antara lain : “ Antum sekalian telah salah dengan datang menghadiri daurah yang diadakan oleh ikhwaniyyin itu. Para Kalajengking itu berkumpul menumpuk racun untuk menyengat saudara kalian sendiri, salafiyyin di Indonesia. Antum sekalian telah salah mengundang orang, ular berbahaya telah antum sekalian beri kesempatan untuk menancapkan taring berbisanya kepada penuntut ilmu dan ulama di markaz antum sekalian.”

Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i  ketika ditanya tentang Abdurrahman Abdul Khaliq  ulama  Ihyaut Turats Al-Islamiyyah, Kuwait, seperti dimuat situs www.freelists.org  tgl. 15 Oktober 2003 ,  berkata : “ Jadi sangatlah cocok jika kita katakan bahwa Abdurrahman Abdul Khaliq adalah  SALAFTY, dengan sin, lam, dan fa dari Salafy, sedang  ta dan ya dari DEMOCRATY . Dia hanya patut mendapat kritikan (jarh) tanpa ta’dil (pujian). Dulu ketika dia masih berada di Madinaturrasul  dia masih di atas kebenaran, dan ketika memulai urusannya di Kuwait juga masih di atas kebenaran. Kemudian Jamiyyah Ihyaut Turats          ( Yayasan untuk Kebangkita Kebudayaan Islam ) pantas diperingatkan, karena yayasan itu memecah da’i  ilallah.

Pihak yang paling banyak diserang oleh majalah-majalah Salafy ialah Ikhwanul Muslimien dan tokoh-tokohnya seperti : Hasan AlBanna, Sayid Qutub, Yusuf Qardhawi, Hasan Turabi, dsb. serta  Hizbut Tahrir.  Syeikh Muqbil bin Hadi ketika memberi pengantar buku  “ Raf’ul Litsaam ‘An Mukhalafatil Qardhawi Li Syari’atil Islam “ ( Menyingkap Tabir Penyimpangan Al-Qardhawi terhadap Syari’at Islam ) , dimuat di situs www.Salafy.or.id., 19 April 2004 . Kata Pengantar Syeikh Muqbil diletakkan paling atas sebelum pengantar dari murid-murid beliau dan ulama lainnya. Buku tersebut merupakan karya dari Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al’Udaini. Dalam pengantarnya, Syeikh Mubil antara lain mengatakan : “ Alhamdulillah, tiada seorangpun da’i penyeru  kepada kesesatan dari kalangan  ulama jahat, melainkan ada pada Ahlus Sunnah yang membidiknya, sampai tersungkur dan tersingkap kebobrokannya. Para da’i Ahlus Sunnah senantiasa memperingatkan kaum muslimien dari kebathilan dan kesesatan ulama jahat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala  berfirman : “ Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang bathil, lalu yang hak itu mengancurkannya, maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap. “  ( QS. Al-Anbiya : 18 ).  Di antara sekian banyak da’i  dhalalah yang menyeru kepada kesesatan pada zaman sekarang ini adalah Yusuf Qardhawi, mufti Qatar. Sungguh dia telah menjadi amunisi baru bagi musuh-musuh Islam. Dia telah  mencurahkan pena dan lisannya guna menyerang agama Islam. Da’i Ahlus Sunnah tidak akan tinggal diam. Mereka pasti akan mengarahkan anak panah kepadanya dan menghabisi argumennya, sebagaimana mereka telah menghabisi dai-dai sesat lainnya.  Di antara Da’i Ahlus Sunnah yang melakukan demikian adalah Syeikh Al Fadhil Ahmad bin Muhmmad bin Manshur Al ‘Udaini. Dia telah banyak meneliti sepak terjang kesesatan Qardhawi. Pokok-pokok kesesatan Qardhawi itu dipatahkannya berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. “

Sekitar awal 1996 melalui majalah Salafy, Ja’far Umar  juga pernah melontarkan celaan sangat keras terhadap Yusuf Qardhawi. Ja’far Umar  menyebut Al Qardhawi sebagai ‘Aduwullah “( Musuh Allah ) dan Yusuf Al Quraizhi ( Yusuf dari suku  Yahudi Qurazhah ).  Sebutan –sebutan tersebut  sempat dikoreksi oleh guru Ja’far Umar di Yaman, dan gurunya memberi sebutan yang menurutnya lebih baik, yakni Yusuf Al Qaradha  ( Yusuf Sang Penggunting ) maksudnya, penggunting syaria’t Islam .

Sedangkan pihak Haraki, mereka juga membela diri. Dan sekaligus menyerang balik Salafy Yamani.  Di antaranya seperti disebutkan oleh Mubarak BM Bamuallim, Lc dalam bukunya  “ Biografi Syaikh Al-Albani: Mujadid dan Ahli Hadits Abad ini, hal 187, bagian catatan kaki. Bamuallim menulis :  “ Sebagaimana yang terjadi di negri ini, munculnya beberapa gelintir manusia dengan berpakaian salafiyyah, memberikan kesan seolah-olah mereka mengajak kepada pemahaman Salaf, namun hakikatnya mereka adalah pengekor hawa nafsu dan perusak dakwah salafiyyah, akibatnya mereka hancur berkeping-keping, dan saling memakan daging temannya sendiri.”   Wal-Iyadu billah.

Seorang tokoh Jum’iyyah Ihyaut Turats Al Islamy yang ditugaskan di Indonesia, yang mengajar di Pesantren Al-Irsyad Tengaran, Salatiga, Jawa Tengah, bernama  Syarief bin Muhammad Fuad Hazza,  karena kegerahannya terhadap cara-cara  Ja’far Umar, maka atas inisiatifnya ia menyebarkan selebaran berjudul  “ Penjelasan dan Ajakan “  yang diterjemahkan oleh Yusuf Utsman Baisa pimpinan Pesantren  Al-Irsyad Salatiga. Inti selebaran itu adalah mengajak Ja’far Umar untuk melakukan “ mubahalah “ agar Allah melaknati salah satu dari keduanya yang terbukti sebagai pendusta.  Mubahalah itupun akhirnya terjadi antara dua orang tokoh dakwah Islam, yaitu  Ja’far Umar ( Salafy Yamani ) dan Syarif Muhammad Hazza ( Ihyaut Turats Kuwait / Salafi Haraki ).

Hizbut Tahrir sebagai salah satu pihak yang juga sering dituding sesat oleh Salafy  Yamani atau  Salafy Wahabi dalam istilah Hizbut Tahrir, seperti dimuat dalam majalah Al-Furqan edisi 5 tahun 3,hal 29-33,  menuding balik Salafy dengan pernyataan :  1) Nama Salafiyyah adalah bentuk hizbiyyah dan bid’ah, karena salafi di masa kini hasil upgrade dari faham Neo-Wahabi yang dibentuk pada abad ke-19 Masehi oleh Kerajaan Inggris yang mem-back-up Kerajaan Saudi Arabia.  2) Salafiyyun hanya berkutat pada masalah parsial (juz) Melalaikan masalah secara komprehensif dan masalah mendasar.  3) Dakwah Salafiyyah menyepelekan politik bahkan tidak peduli sama sekali.  4) Bodoh terhadap masalah Waqi’i    ( realita umat) dan tidak  acuh dengan perkara umat ini. 5) Salafiyyun mencari muka di hadapan penguasa dan tidak berbicara dengan kebenaran.  6) Melalaikan jihad fi Sabilillah    7) Tidak memiliki program ke depan yang jelas dan program perbaikan secara komprehensif   8) Dakwah Salafiyah, dakwah pemecah belah umat dan pematik fitnah.  9) Salafiyyun merasa dirinya paling benar, selamat dan masuk surga, sehingga hanya salafi wahabi saja golongan yang boleh eksis di muka bumi ini, sedangkan golongan lainnya sesat, bid’ah dan tidak selamat, sehingga layak untuk dicela dan jangan diungkapkan secuilpun kebaikannya.

 

Keutamaan Para Sahabat Nabi saw.

Kiranya kita semua sepakat dan tidak meragukan lagi tentang keutamaan para Sahabat Nabi saw  baik  Muhajirin maupun Anshar. Mereka adalah komunitas yang mendapat pujian  dan jaminan  dari Allah swt.   tempat kembalinya di surga. Kita berkewajiban untuk memuliakan mereka  dan menjadikan mereka sebagai panutan atau uswah hasanah dalam kehidupan.

Allah swt berfirman :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ – التوبة : 100

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar. ( QS. At-Taubah : 100 )

 

Demikian juga keutamaan para Tabi’in dan Tabi’ut Tabiin, yang di gambarkan dalam  hadits:

عن عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ  - ر البخاري و مسلم

Dari Imran bin Husein ra berkata, bersabda Rasulullah saw : Sebaik-baik kamu adalah generasiku, kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya.  ( HR. Al-Bukhari dan Muslim ).

 

Hanya kaum Syi’ah Rafidah dan yang semacamnya yang merendahkan martabat para Sahabat Nabi saw. mereka menilai bahwa para sahabat sepeninggal Nabi saw semuanya murtad, kecuali hanya tiga orang  yakni :  Al-Miqdad bin Al-Aswad, Salman Al-Farisi dan Abu Dzar Al Ghifari.   Demikian seperti di muat  oleh Al-Kisysyi dalam kitabnya  Rijalul Kisyyi : 12-13  dan  oleh Al-Kulaini dalam kitabnya  Furu’ul Al-Kafi  : 115.  Malah  Muhammad Baqir Al-Majlisi dalam kitabnya “ Haqqul Yaqin : 533 “ dengan menisbahkan perkataan kepada Imam Zainal Abidin  yang ditanya soal Abu Bakar ra dan Umar ra ? Beliau menjawab : “ Keduanya adalah kafir, dan mereka yang mengangkatnya juga kafir.”  Di halaman 519 Al-Majlisi mengatakan  : “ Akidah kami dalam hal kebencian adalah membenci empat berhala, yaitu : Abu Bakar, Umar, Utsman dan Mu’awiyyah, dan empat wanita, yaitu : Aisyah, Hafsah, Hindun dan Ummul Hakam, serta semua orang yang mengikuti mereka. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk di muka bumi ini. Tidaklah sempurna iman kepada Allah, Rasul-Nya dan para Imam, kecuali setelah membenci musuh-musuh tersebut. “  Subhanallah !

 

Al-Qur’an dan As-Sunnah Sebagai Dua Sumber Hukum Islam :

Selama ini para tokoh  dan Organisasi  “ Muhyi Atsari Salaf “ selalu mendasarkan kegiatan dakwahnya kepada  Al-Qur’an dan As-Sunnah . Menyeru umat untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena keyakinan yang kuat atas jaminan Rasulullah saw. yang menyatakan  bahwa siapapun yang berpegang teguh atau berpedoman kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah tidak akan sesat selamanya.

Allah swt. telah memerintahkan :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا – النساء : 59

Hai orang-orang yang beriman, ta`atilah Allah dan ta`atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS.An-Nisa :59).

تركت فيكم أمرين لن تضلوا  ما تمسكتم بهما : كتاب الله و سنة نبيه – ر ملك فى الموطا : ر 1707 و روى  ايضا الحاكم عن ابى هريرة  فى المستدرك 1: 93

Aku tinggalkan dua perkara, kalian tidak akan sesat, selama berpegang teguh kepada keduanya, : Kitabullah ( Al-Qur’an ) dan Sunnah Nabi-Nya.  ( HR. Malik, Dalam Al-Muwatha : No. 1707, juga diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak  1 : 93 ).

Ketika Umat Islam terpecah belah ke dalam banyak firqah atau millah,  Nabi saw menyatakan masih ada satu firqah yang selamat ( Firqatun najiyah ) selebihnya masuk neraka, Nabi saw. tidak menyebut nama atau kelompok, beliau menjelaskan bahwa yang akan selamat itu adalah  “ Al-Jama’ah “ ,yakni mereka yang berpegang teguh kepada apa-apa yang dipegang teguh oleh Nabi saw dan para Sahabatnya, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah.

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَرَقَتْ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَافْتَرَقَتْ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ الْجَمَاعَةُ  - ر ابن ماجه : ر 3982

Dari Auf bin Malik ra berkata, berabda Rasulullah saw : “ Yahudi terpecah menjadi 71 firqah, satu firqah di  surga dan 70 firqah di neraka. Kristen pecah menjadi 72 firqah, satu firqah di surga  dan 71 firqah di neraka. Dan demi diri Muhammad yang ada pada kekuasaan-Nya, umatku akan pecah menjadi 73 firqah, satu firqah di surga dan 72 firqah di neraka. “ Lalu ditanyakan : “ Ya Rasulullah siapakah mereka itu ?”. Beliau menjawab : “Al-Jama’ah “.  ( HR. Ibnu Majah : No. 3982 )

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي – ر الترمذي : ر 6565

Dari Abdillah bin Amer ra berkata, bersabda Rasulullah saw :  Benar-benar akan datang / menimpa kepada umatku seperti apa yang pernah datang/ menimpa kepada Bani Israil setapak demi setapak, sampai jika ada pada mereka ( Ahlul Kitab) anak yang memperkosa ibunya dengan terang-terangan, maka pada umatku akan ada yang melakukan perbuatan (keji) sepeti itu. Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 millah, dan umatku akan pecah menjadi 73 millah. Semuanya akan masuk neraka, kecuali satu millah. “ Mereka bertanya: “ Siapakah dia ya Rasulallah ? “ Beliau menjawab : “ Mereka yang berpegang teguh pada apa yang aku dan sahabatku pegang teguh ( yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah) “ (  HR. At-Tirmidzi, Tuhfatul Ahwadzi 7: 399 )

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ وَعَلَا صَوْتُهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ يَقُولُ صَبَّحَكُمْ وَمَسَّاكُمْ وَيَقُولُ بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَيَقُولُ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ – ر مسلم : ر 1435

Dari Jabir bin Abdillah ra berkata : Rasulullah saw jika berkhutbah kedua matanya memerah, suaranya keras, (seperti) sangat marah, seperti seorang komandan pasukan, beliau bersabda :  “ perhatikan waktu pagi dan sore kalian, Masa kerasulanku  dengan kiamat seperti ini,”  beliau berisyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya, Beliau bersabda: ” Amma ba’du,  Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw, dan sejelek-jelek urusan adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah itu sesat. “ ( HR  Muslim:No. 1435 )

 

(Baca kelanjutannya disini: Manhaj Salafus Shalih sebagai Sumber Hukum Ketiga (?))

 


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?