Hadis-hadis Dhaif Tentang Hari Akhir

Hadis-hadis Dhaif Tentang Hari Akhir

Dipublish pada 30 Maret 2020 Pukul 07:53 WIB

1559 Hits

Oleh Robi Permana M Ag., Lembaga Kajian Turats dan Pemikiran Islam PP Pemuda Persis

 1. Munculnya Ahli Ibadah yang bodoh terhadap agama dan ahli membaca Quran namun Fasiq

يَكُوْنُ فِي أَخِرِ الزَّمَانِ عُبَّادٌ جُهَّالٌ وَقُرَّاءٌ فَسَقَةٌ. 

Akan ada di akhir masa nanti, para ahli ibadah yang bodoh-bodoh dan para ahli Qur'an yang fasiq-fasiq. [Hadis ini hanya diriwayatkan oleh imam al-Hakim dalam Mustadraknya Kitab al-Riqaq juz IV hal 315 no. 7978 secara infirad]

 Takhrij Hadis

Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dalam Mustadraknya 

Sanad Hadis

Muhammad ibn Shalih, Abu Fadhl Muhammad ibn al-Hasan, Muhammad ibn Muqatil alMarwaziy, Yusuf ibn ‘Athiyah, Tsabit, Anas dari Nabi Saw. 

Derajat Hadis

Dalam sanad hadis ini terdapat rawi bernama: Yusuf ibn ‘Athiyah.

Imam al-Hakim mengomentari pada hadisnya: “Hadis ini (Yusuf ibn ‘Athiyah) menerima dari Tsabit meriwayatkan secara munkar. [Tahdzib al-Tahdzib 4/458.

Imam al-Bukhari berkata: Munkarul Hadits [Tahdzib al-Kamal 32/443]

Al-Hafizh Ibn Hajar menyimpulkan dari beberapa ahl nuqad dengan menetapkan: Matruk. [Taqrib al-Tahdzib: 1/1094] 

Kesimpulan Hadis

Hadis ini matruk / syibh al-Maudhu’

 2. Di akhir Zaman, manusia akan mengekspost kebaikan dan membuat-buat sifat wara’

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَكُوْنَ الزُّهْدُ رِوَايَةً وَالْوَرَعُ تَصَنُّعًا.

Hari kiamat tidak akan terjadi sampai zuhud hanya menjadi informasi; dan sikap wira'i hanya dibuat-buat. [Hulyah al-Auliya Juz 3 halaman 119 karya Abu Nu’aim] 

Takhrij Hadis

Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Abu Nu’aim dalam kitabnya Hulyah al-Auliya 

Sanad Hadis

Dalam sanad ini terdapat kelemahan:  

Al-Hasan, Muhammad ibn al-‘Abbas ibn Ayub, Ismail ibn Bisyr, Yahya al-Qurasyiy al-Jubairi, Abi Raja al-Jundi, Hassaan ibn Abi Sinan, al-Hasan, Abi Hurairah dari Nabi Saw 

Derajat Hadis

Dalam sanad ini terdapat rawi dhaif, yaitu:

1. Al-Hasan rawi yang sanagat Faqih namun ia suka memursalkan Hadis dan mudallis. Disini beliau memakai shighah ‘an. Abdurrahman ibn al-Hakim berkata: al-Hasan tidak mendengar dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah dan tidak pernah melihatnya, tidak mendengar dari Jabir, Imran ibn Husain dan ABi Sa’id al-Khudri [Tuhfah al-Tahshil fii al-Marashil 1/82]

2. Abi Raja’ al-Jundiisaburi, beliau majhul ‘Ain dan Yahya al-Qurasyi mejhul Hal. 

Kesimpulan

Hadis ini Munkar

3. Perzinahan sudah tidak dianggap aneh lagi pada akhir zaman 

لاَ تَفْنَى هَذِهِ الأُمَّةُ حَتَّى يَقُوْمَ الرَّجُلُ إِلَى الْمَرْأَةِ فَيَفْتَرِشَهَا فِي الطَّرِيْقِ، فَيَكُوْنُ خِيَارُهُمْ يَوْمَئِذٍ مَنْ يَقُوْلُ: لَوْ وَارَيْنَا وَرَاءَ هَذَا الْحَائِطِ.

Umat ini tidak akan musnah sampai ada laki-laki menemui wanita lalu dia menyetubuhi wanita itu di jalan. Dan orang pilihan di antara mereka saat itu adalah orang yang berkata: “Hendaknya kita berhubungan badan di belakang tembok ini”. [Musnad Abu Ya’la, tepatnya pada Musnad Abu Hurairah RA- Abu Hazim dari Abu Hurairah RA, Juz 11 halaman 43 no. 6183]

Takhrij Hadis

Hadis ini hanya terdapat dalam Musnad Abu Ya’la 

Sanad Hadis

Dawud ibn Rasyid, Khalaf ibn Khalifah, Yazid ibn Kaisan, Abi Haazim, Abi Huairah

Derajat Hadis

Dalam sanad ini terdapat rawi dhaif yaitu:

1. Yazib ibn Kaisan, Abu Hatim hanya mencatatnya dan tidak menjadikannya hujjah, imam al-Bukhari memasukannya pada al-Dhu’afa (kumpulan rawi dhaif), selengkapnya lihat di Tahdzib al-Kamal 32/230. Al-Hafiz menyimpulkan bahwa ia Shaduq yukhthi. [Taqrib al-Tahdzib 1/1081]

2. Khalaf ibn Khalifah, pada dasarnya beliau rawi yang shaduq, hanya terindikasi sikhtilath di akhir usianya, periwayatan akan diterima jika meriwayatkannya sebelum ikhtilath. Dengan begitu uji analisanya kepada tarikh periwayatan Dawud ibn Rusyd.

Khalaf thabaqah ke-8 lahir pada tahun 91 / 92 H, Wafat pada 181 H, beliau hidup dengan kurun waktu 91 tahun.

Dawud ibn Rusy thabaqah ke-10 Wafat pada 239 H.

Memperhatikan tarikh tersebut, jarak antara tahun Wafat Dawud kepada tahun wafat Khalaf, berbanding 58 tahun, mengindikasikan posisi usia Khalaf memang sudah sangat tua, dan lebih memungkinkan beliau meriwayatkan hadis ini dalam masa ikhtilath, terbukti hadis ini gharib dan tidak ada yang meriwayatkan selain jalur ini. [lengkapnya lihat di Tahdzib al-Tahdzib, Ban huruf Kha 1/547]

Al-Hafizh memebrikan kesimpulan: Shaduq, ikhtilath di akhir usianya. Dia menda’wakan telah melihat Umar ibn Harits al-Shahabiy, namun Ibn Uyainan dan Ahmad mengingkarinya. [Taqrib al-Tahdzib 1/299]

Kesimpulan:

Hadis ini Munkar

4. Banyaknya perbedaan dalam pendapat dan timbulnya saling bermusuhan

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَتَنَاكَرَ الْقُلُوْبُ وَتَخْتَلِفَ الأَقَاوِيْلُ وَيَخْتَلِفَ الأَخَوَانِ مِنَ الأَبِ وَالأُمِّ فِي الدِّيْنِ.

Hari kiamat tidak akan terjadi sampai hati-hati manusia saling bermusuhan; pendapat-pendapat saling berseberangan; dan dua bersaudara dari ayah dan ibu saling berbeda dalam agama. [Hadis ini terdapat dalam kitab al-Firdaus Bima’ tsuuri al-Khatab 5/90 dari Khuzaifah no. 7556 tanpa sanad yang lengkap]

 5. Banyaknya orang Bakhil, rusaknya golongan Wa’ul dan banyaknya golongan Tahut

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَظْهَرَ الْفُحْشُ وَالْبُخْلُ، وَيُخَوَّنَ الأَمِيْنُ وَيُؤْتَمَنَ الْخَائِنُ، وَتَهْلِكَ الْوَعُوْلُ وَتَظْهَرَ التَّحُوْتُ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا التَّحُوْتُ وَالْوَعُوْلُ؟، قَالَ: اَلْوَعُوْلُ وُجُوْهُ النَّاسِ وَأَشْرَفُهُمْ، وَالتَّحُوْتُ الَّذِيْن كَانُوْا تَحْتَ اَقْدَامِ النَّاسِ.

 Hari kiamat tidak akan terjadi sampai marak perbuatan keji dan bakhil; dianggap berkhiatnya orang yang dapat dipercaya dan diberi amanatnya orang yang khianat; akan rusak para wa'ul dan akan marak para tahut". Para Shahabat RA bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud tahut dan wa’ul?” Nabi Saw menjawab: “Wa’ul adalah orang-orang yang terkemuka dan mulya di masyarakat (masyarakat kelas atas); sedangkan tahut adalah orang-orang yang berada di bawah “telapak kaki” manusia (masyarakat kelas bawah). [Shahih Ibn Hibban, Kitab Tarikh Juz 15 halaman 258 no. 6844]

Takhrij Hadis

Mustadrak ‘ala shaihain.

 Sanad Hadis

Umar ibn Muhammad ,Muhamma ibn Ismail al-Bukhari, Ismail Ibn ABi Aus Zufrun Ibn Bai rahman, Muhammad ibn SualimanSa’id ibn Jubair, Abu Hurairah RA dari Nabi Saw. 

Derajat Hadis

Dalam sanad in iterdapat rawi lemah bernama,

1. Muhammad ibn Sulaiman, majhul ‘Ain

2. Zufar ibn Abdirrahman ibn Ardak, Majhul ‘Ain

3. Ismail ibn Abi Aus; Imam Abu Hatim berkatata: menempati tempat shaduq namun ghaflah dalam periwayatannya [Tahdzib al Kamal 3/124), Imam al-Nasai mendhaifkannya, Ibn Hajar menyimpulkan,beliau adalah rawi yang shaduq namun terdapat kesalahan dalam hafalan periwayatan hadisnya. [ Taqrib al-Tahdizn 1/141]

 Kesimpulan

Hadis ini Munkar

 6. Akan Terjadi Huru-Hara Jika Tanggal 15 Ramadhan Pada Hari Jum’at

 Hadits ini terdapat dalam Musnad al-Syaasyi juz II halaman 262 no.837

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ النَّبِيِّ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا كَانَ صَيْحَةٌ فِي رَمَضَانَ فَإِنَّهَا تَكُونُ مَعْمَعَةٌ فِي شَوَّالٍ، وَتَمَيَّزُ الْقَبَائِلُ فِي ذِي الْقَعْدَةِ، وَتُسْفَكُ الدِّمَاءُ فِي ذِي الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ وَمَا الْمُحَرَّمُ – يَقُولُهَا ثَلَاثًا – هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ يُقْتَلُ النَّاسُ فِيهَا هَرْجًا هَرْجًا» قَالَ: قُلْنَا: وَمَا الصَّيْحَةُ؟ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: «هَذِهِ تَكُونُ فِي نِصْفٍ مِنْ رَمَضَانَ يَوْمَ جُمُعَةٍ ضُحًى، وَذَلِكَ إِذَا وَافَقَ شَهْرُ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ تَكُونُ هَدَّةٌ تُوقِظُ النَّائِمَ، وَتُقْعِدُ الْقَائِمَ، وَتُخْرِجُ الْعَوَاتِقَ مِنْ خُدُورِهِنَّ فِي لَيْلَةِ جُمُعَةٍ سَنَةً كَثِيرَةَ الزَّلَازِلِ وَالْبَرْدِ، فَإِذَا وَافَقَ رَمَضَانُ فِي تِلْكَ السَّنَةِ لَيْلَةَ جُمُعَةٍ فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْفَجْرَ يَوْمَ جُمُعَةٍ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ – فَادْخُلُوا بُيُوتَكُمْ، وَسَدِّدُوا كُوَاكُمْ، وَدَثِّرُوا أَنْفُسَكُمْ، وَسُدُّوا آذَانَكُمْ، فَإِذَا أَحْسَسْتُمْ بِالصَّيْحَةِ فَخِرُّوا لِلَّهِ سُجَّدًا، وَقُولُوا سُبْحَانَ الْقُدُّوسِ، سُبْحَانَ الْقُدُّوسِ، رَبَّنَا الْقُدُّوسَ؛ فَإِنَّهُ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ نَجَا، وَمَنْ تَرَكَ هَلَكَ

“Dari Ibnu Mas’ud berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila terdapat suara yang dahsyat di bulan Ramadan, maka akan terjadi huru-hara di bulan Syawal. Akan banyak golongan manusia yang saling memisahkan diri di bulan Dzulqa’dah. Akan terjadi pertumpahan darah di bulan Dzulhijjah dan al-Muharram. Apa yang harus dilakukan di bulan al-Muharram? Rasulullah saw mengulangi hal tersebut sampai tiga kali. Sangat disayangkan sekali saat itu manusia saling membunuh dan keadaannya sangat kacau. Maka kami bertanya, “Apa suara dahsyat itu wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab, “Suara itu terjadi di pertengahan bulan Ramadan, bertepatan dengan malam Jumat dan suara dahsyat ini akan membangunkan orang-orang yang sedang tidur, menjatuhkan orang-orang yang sedang berdiri, dan menjadikan para wanita terhempas keluar dari kamar-kamarnya. Pada saat itu akan banyak terjadi gempa bumi dan cuaca yang sangat dingin. Hal itu apabila (pertengahan)bulan Ramadan di tahun itu bertepatan dengan malam Jumat. Apabila kalian telah melaksanakan salat Subuh di hari Jumat pada pertengahan bulan Ramadan, maka masuklah kalian ke dalam rumah-rumah kalian, kuncilah pintu-pintu kalian, tutuplah jendela-jendela kalian, selimutilah diri-diri kalian, dan tutuplah telinga-telinga kalian. Apabila kalian merasa ada suara dahsyat, maka menyungkurlah sujud kepada Allah dan ucapkanlah, “Maha Suci Allah yang Maha Suci, Maha Suci Allah yang Maha Suci, wahai Rabb kami yang Maha Suci.” Barangsiapa yang mengamalkan hal tersebut maka akan selamat dan barangsiapa yang tidak mengamalkannya, maka niscaya akan celaka.”

Derajat Hadis

Dalam sanad ini terdapat beberapa rawi dhaif yaitu:

1. Muhammad bin Tsabit bin Aslam, Masyhur dengan nama Muhammad bin Tsabit al-Bunaani, belaiu thabaqah ke-7

- Imam Abu Hatim al-Razi berkata : munkarul hadits, Al-Bukhari berkata : dia harus di teliti lagi (fiihi nazhar)

2. Abdul Wahhab bin Husain, ia thabaqah ke-5 – beliau majhul ‘ain

3. Ibn Lahi’ah, thabaqah ke-7

Beliau shaduq hanya mukhtalith dimasa kitab-kitabnya terbakar dan mustaghrab. periwayatannya tidak diterima selain dari para ‘Abadillah. ditetapkan sebagai rawi yang dhaif dan hadits-haditsnya ditinggalka.

4. Abu Umar. nama beliau adalah Hafs bin Ghiyas al-Nakhai, thabaqah ke-8.

Beliau tsiqah hanya hafalannya sedikit berubah di akhir usianya. periwayatan secara sama’i dari kitabnya itu lebih shahih daripada dari hafalannya. imam ahmad menetapkannya tadlis.

5. Nu’aim bin Hammad, thabaqah ke-10, Belaiu shaduq namun banyak sekali kesalahannya.

- al-‘Ijli mentautsiqnya para ulama ahl naqd banyak yang mengkritiknya sebgaai rawi dhaif. (lengkapnya lihat Tahdzib al-Kamal) Syaikhunaa Ibn Baz ra berkata:

Al-Uqaili pernah menyebutkan hadis ini namun dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu. Kemudian beliau nyatakan: “Hadis ini (tentang suara dahsyat di pertengahan Ramadhan) tidak pernah disebutkan dalam hadis dari perawi yang shahih, maupun yang sanadnya sahih. (ad-Dhu’afa’ al-Kabir, 3/52).

 

Kesimpulan:

Hadits ini Maudhu.


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?