Hari Anak Indonesia, Potret Ketimpangan Ekonomi.

Hari Anak Indonesia, Potret Ketimpangan Ekonomi.

Dipublish pada 24 Juli 2020 Pukul 21:45 WIB

359 Hits

Tanggal 23 Juli adalah hari anak Indonesia. Berdasar proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018 Indonesia mempunyai 79,55 juta jiwa atau 30.1 persen dari total populasi penduduknya adalah anak anak berusia antara 0-17 tahun.

Hingga tahun 2020 ini, nasib sebagian besar anak-anak Indonesia masih sangat miris dan menyedihkan.

Bagaimana tidak? Masih ada ratusan ribu bahkan mungkin jutaan anak-anak Indonesia yang masih mengalami gizi buruk, tinggal di rumah dan lingkungan yang tidak layak, berkeliaran di jalan menjadi peminta-minta, dan putus sekolah karena tidak punya biaya.

Bahkan masih ada yang tidak bisa bersekolah dengan sepatu yang layak karena tidak mampu beli.

Di musim pandemi covid-19 ini, kondisinya lebih menyedihkan lagi. Banyak keluarga miskin di negeri ini anak-anaknya berantem berebut Handphone butut satu-satunya punya ibunya, untuk bisa belajar online dan mengerjakan tugas sekolah dengan sistem belajar jarak jauh. Tidak sedikit juga cerita sedih anak keluarga miskin Indonesia yang harus berebut makan untuk sarapan pagi antara adik kakak mereka.

Banyak juga sekolah anak Indonesia yang belajar dengan ruang kelas yang tidak patut dan layak untuk jadi ruang belajar. Jangan tanya sarana sanitasi dan MCK nya.

Namun sangat ironis dengan cerita di komunitas lain, ada anak anak dari keluarga konglomerat di Indonesia yang mereka sedang berebut harta warisan orangtuanya lebih dari 600 triliun..

Ada lagi cerita bahwa dua yayasan sekolah swasta milik minoritas yang semua anak sekolahnya diantar jemput mobil mewah orangtuanya dan semua ruang kelas serta pasilitasnya serba mewah mendapat dana bantuan pemerintah masing -masing 20 Miliar Rupiah.

Sementara ada puluhan ribu pesantren dan ratusan ribu sekolah swasta tempat sekolah mayoritas anak anak Indonesia yang rata-rata kondisinya memprihatinkan hanya mendapat alokasi bantuan 25 sd 50 juta Rupiah untuk penyedian sarana sanitasi dan alat kesehatan.

Saya hampir tidak percaya ketimpangan ekonomi dan sosial yang sangat zalim ini bisa terjadi di negeri yang ber Pancasila ini yang Sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa dan Sila terakhirnya adalah Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia...

Bekasi, 23 Juli 2020

Dr. KH. Jeje Zaenudin -Wakil Ketua Umum Persatuan Islam.


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?