Ikhtiar Menshalehkan Anak; Kembangkan Hereditas Ketaqwaan Orangtuanya

Ikhtiar Menshalehkan Anak; Kembangkan Hereditas Ketaqwaan Orangtuanya

Dipublish pada 11 September 2021 Pukul 08:40 WIB

248 Hits

Pada pembahasan ini, hanya sekedar ikhtiar menyiapkan penerus penerus yang shaleh shalehah. Anak anak yang mampu melanjutkan perjuangan dakwah ayahnya dan bahkan mampu lebih baik dari berbagai aspek kedepannya. Mengembangkan hereditas disini bermakna kita yang saat ini menjadi orangtua harus bisa melahirkan keturunan keturunan yang rabbani. Kita mewariskan sifat-sifat ketaqwaan kepada anak, sejak dini.

Rabbani merupakan istilah bagi generasi unggulan di pandangan Allah. Generasi yang mampu memakmurkan bumi Allah ini. Generasi yang membuat hati kita tenang dan bahagia di kala kita meninggalkan mereka untuk selamanya. Mereka tak hanya berbakti kepada ayah ibunya, lebih dari itu, mereka juga akan menjadi manusia bermanfaat bagi umat, bangsa dan negara.

Buatlah diri kita pantas menjadi teladan baik bagi anak anak. Tak ada cara terbaik untuk mengembangkan hereditas selain dengan jalan kita bertaqwa kepada Allah.

Apa yang kiranya terjadi jika ayah ibunya bertaqwa kepada Allah? Bagaimana jika pola Nabi Ibrahim dan keluarga Imran bisa diimplementasikan dalam keluarga kita, bagaimana dampak perubahannya? Bagaimana pula jika kita meniru pola nabi Zakariya yang sudah memiliki hereditas taqwa. Istrinya meski divonis mandul dan menopause, tetap saja taat ibadah dan tak pernah berhenti berdoa. Bahkan, meski doanya belum terkabum dalam kurun waktu 40 tahun, tetap saja berdoa hingga muncul ucapan nabi Zakariya yang diabadikan dalam Al-Quran. Itu artinya pola ini bisa dipelajari dan ditiru. Muncul miracle (keajaiban). Nabi Zakariya dikaruniai anak yang shaleh bahkan menjadi nabi juga. Ia bernama nabi Yahya.

Al-Quran mengkisahkan keluarga-keluarga yang pantas menjadi teladan. Al-Quran sudah menyuguhkan solusi terbaik untuk masalah masalah manusia hari ini. Tinggal kitanya yang belajar dan terus berjuang berikhtiar.

Boleh boleh saja ayah ibu kita tak memahami agama, bahkan kita dilahirkan dan dibesarkan dengan cara yang tak kita sukai. Boleh boleh saja ayah ibu kita awam dengan nilai nilai Al-Quran. Tapi hal tersebut jangan sampai terulang pada diri kita.

Cukup sampai pada diri kita. Mari kita putus pola pengasuhan dan pola mendidik anak yang awam itu. Mari buat DNA yang baru. DNA yang bisa membuat keturunan keturunan kita jadi generasi rabbani, yang memiliki ketauhidan terpatri dalam jiwanya.

Allah rabb semesta alam yang akan mengarahkan jalan hidup anak kita. Allah yang akan membimbing hati anak kita hingga mereka terus ada dalam kebaikan dan memilih jalan hidup yang baik.

Jangan sampai gagal membuat DNA ketaqwaan pada anak anak kita. Jangan sampai terjadi, kita selaku orangtua sudah taat menjalankan ibadah, namun kita lupa dengan anak sendiri dibiarkan mengambil jalan sendiri. Kita pasti dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti. Luar biasa repot dan celakanya nanti, kalau kita baru sadar tak menanamkan DNA ketaqwaan pada anak anak kita saat di dunia.

Allah akan memberikan kebaikan untuk anak-anak dari ayah yang shaleh. Sebagaimana yang termaktub dalam Al-Quran:

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. (Q.S al-Kahfi: 82)

Dan kebaikan yang benar-benar menyelamatkan kehidupan anak kita terletak pada kefahaman mereka terhadap agamanya sendiri. Akhirnya, kita kembali dituntut untuk senantiasa belajar dan mengkaji ayat-ayat Al-Quran dan mengimplementasikannya dalam kehidupan kita; khususnya di keluarga kita. Semoga Allah memberkahi ikhtiar kita menshalehkan anak-anak kita, dengan cara memulai menghadirkan ketaqwaan di hati kita.

 

***

Penulis: Taufik Ginanjar


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?