Islam, Soekarno dan Kemerdekaan Indonesia

Islam, Soekarno dan Kemerdekaan Indonesia

Dipublish pada 28 November 2019 Pukul 00:17 WIB

649 Hits

Bandung - persis.or.id, Beberapa hari kebelakang, Masyarakat Indonesia dikejutkan dengan ucapan kontroversial Sukmawati Soekarnoputri pada acara forum diskus dalam rangka hari Pahlawan. Acara tersebut bertajuk “Bangkitkan Nasionalisme bersama Kita tangkal radikalisme dan berantas terorisme” dan acara tersebut digelar oleh Divisi Mabes Polri dengan pembicara lain seperti BNPT, NU, dan sebuah Perguruan Tinggi. Adapun ucapan kontroversialnya adalah Sukmawati membandingkan Pancasila dengan Al qu’an dan Soekarno dengan Nabi Muhammad Saw. Maka dari itu, Penulis mencoba bijaksana dalam menyikapi persoalan tersebut dengan menguraikan polemik ucapan Sukmawati dan menulis seputar Islam, Soekarno, dan kemerdekaan Indonesia. Harapan Penulis, pembahasan seputar demikian bisa menyikapi kegaduhan publik secara bijaksana dan membaca kembali sejarah bangsa kita.

Kontroversi ucapan Sukmawati                

Berangkat dari Kontroversi kemudian menjadi polemik dalam permukaan Masyarakat atas menyikapi ucapan Sukmawati tersebut. Sehingga Korlabi (Koordinator Bela Islam) melaporkan Sukmawati ke Polda Metro Jaya pada 15 November 2019 lantaran membandingkan Pancasila dengan Al qu’an dan Soekarno dengan Nabi Muhammad Saw. Beberapa kelompok pun demonstrasi minta Sukmawati diadili, seperti FPI Cianjur dan Massa di Pamekasan pada Jum’at, 22 November 2019 di tempat yang berbeda.

Tidak hanya diam, Sukmawati pun memberikan klarifikasi atas kegaduhan yang bersumber dari ucapannya. Sukmawati mengatakan bahwasanya kegaduhan tersebut berasal dari video yang dipotong dan dia merasa dirugikan. Kemudian tambahnya, dia mengatakan apa salahnya?, saya hanya bertanya.kepada generasi muda. Klarifikasi tersebut disampaikan dalam dua program acara televisi berbeda pada 18 dan 21 November 2019.

Penulis menonton video potongan dan video full ucapan Sukmawati pada acara tersebut. Kemudian Penulis menemukan perspektif berbeda setelah menonton keduanya. Ketika Penulis menonton video potongan yang berdurasi sekitar 03.58 menit, Penulis selewat hanya mendengar ucapan Sukmawati berupa pertanyaan kepada peserta forum atas apa yang didengarnya atas rekrutmen calon radikalis dan teroris. Kemudian ketika Penulis menonton video full ucapan sukmawati yang berdurasi sekitar 23.29 menit, Penulis sekejap lemas mendengar apa yang disampaikan Sukmawati. Pasalnya dalam video tersebut, Sukmawati tidak hanya membicarakan Pancasila-Al qur’an dan Soekarno-Nabi Muhammad Saw. Ternyata Sukmawati juga membicarakan kafir atau takfiri, bendera hitam tulisan arab yang Penulis kira maksudnya adalah ar rayah dan al liwa, dan akhirnya setelah Penulis mencermati kembali video tersebut, betul bahwa Sukmawati hanya menyampaikan info yang diterimanya bahwa pertanyaan rekrutmen calon radikalis dan teroris adalah membandingkan Pancasila dengan Al qur’an, tetapi membandingkan Soekarno dengan Nabi Muhammad Saw adalah pertanyaan Beliau. Hemat Penulis, narasi tersebutlah yang membuat gaduh dan pelaporan dirinya.

Jika benar demikian apa yang terjadi, Penulis menyayangkan ucapan yang dikeluarkakan oleh Sukmawati sebagai Seorang Muslimah dan Putri Proklamator RI, Soekarno. Pasalnya Sukmawati menyampaikan seputar agama dengan kurang kehati-hatian. Sehingga lahirlah multi tafsir Masyarakat, kontroversi tersebut juga terjadi kedua kalinya setelah 2018 kemarin ramai dengan kondenya, dan Penulis menyayangkan agama yang dibahas ketika tajuk radikalisme dan terorisme hanya agama Islam. Penulis juga berasumsi narasi sukmawati kering akan religious dan luber akan nasionalisme.

Pasalnya peristiwa tersebut terjadi ketika mendekati moment 212, sehingga euforia Umat berpeluang semakin tinggi. Narasi tersebut didukung dengan pernyataan Sekjend GNPF, Edi Mulyadi pada Sabtu, 23 November 2019 dilansir dari suara.com. maka dari itu beberapa Tokoh berpendapat agar Sukmawati belajar kembali agama Islam dan melakukan mediasi.

Islam, Soekarno, dan kemerdekaan Indonesia

Soal kontroversi sukmawati, hemat Penulis sesungguhnya bisa ditarik pada pembahasan Islam, Soekarno, dan kemerdekaan Indonesia. kenapa? Karna Al qur’an dan Nabi Muhammad Saw tidak bisa lepas dari Islam, Soekarno sebagai objek pembahasan, dan kemerdekaan Indonesia sebagai predikat atau keterangan. Membandingkan Al qur’an dengan apapun adalah kemustahilan. Semua jelas ada di Al qur’an, Al isra: 88 yang artinya “Katakanlah, sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain”. Ada juga di hud: 13, yunus: 39 dan masih banyak lagi ayat-ayat yang mendukung bahwa al qur’an tidak akan pernah ada serupanya. Jadi membahas pembanding al qur’an adalah final, yang harus selanjutnya dibahas adalah hikmahnya atau isi al qur’an tersebut.

Dalam Islam pun juga diajarkan untuk belajar sejarah, bagaimana tidak, setengah isi al qur’an adalah sejarah, contoh ayatnya adalah yusuf: 111. Jadi jika Sukmawati perintahkan belajar sejarah, maka al qur’an lah yang menjadi induk referensinya. Jangan cari juga radikalisme atau terorisme di al qur’an, karna tidak akan pernah ada, justru sebaliknya, yang ada adalah kasih sayang, saling menolong, tanggung jawab, dan seterusnya.

Selanjutnya tentang Soekarno, putra sang fajar ini mudah ditemukan sumber referensi tentangnya. Mulai dari dari buku Cindy Adams (Sukarno an autobiography as told to cindy adams) perdana terbit pada 1966 sampai buku di bawah bendera revolusi kompilasi tulisan-tulisan Soekarno di masa prakemerdekaan. Selanjutnya Penulis mencoba hanya menguraikan nilai-nilai agamis pada Soekarno. Pada wawancara dengan Cindy Adams, Soekarno tegas mengatakan “Saya sangat percaya kepada Tuhan, semua bergantung kepadanya, hidup atau mati, semua bergantung kepadanya”. Kemudian genealogi Soekarno dengan Muhammadiyah cukup kental, mulai dari murid Ahmad dahlan, menjadi kader Muhammadiyah tahun 1930, sampai menikahi kader Aisyiah (organ Muhammadiyah), Fatmawati.

Dalam buku bendera revolusi jilid satu, banyak bab yang dibahas tentang keislaman, seperti nasionalisme, Islamisme, dan maxisme. Surat-surat Islam dari Endeh yang isinya interaksi jarak jauh antara Soekarno dengan A. Hassan (Guru Persis/ Persatuan Islam). Tidak percaya bahwa Mirza gulam ahmad adalah nabi, memudakan pengertian Islam, apa sebab turki memisah agama dari Negara, dan Islam sontoloyo. Melihat garis besar Soekarno dan keislamannya, tidak bisa juga dibandingkan dengan nabi Muhammad Saw. Menggambarkannya saja dilarang. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw melaknat keras orang yang berdusta dengan memakai nama beliau “Barang siapa berdusta kepada saya dengan sengaja maka dipersilakan untuk menempati duduknya di api neraka” (HR. Muttafaq ‘alaih) didukung juga dengan fatwa MUI tahun 1988 menolak keras tentang penggambaran sosok Nabi Muhammad Saw bentuk gambar, patung, dan seni peran.

Sebagaimana dalam al ahzab: 21 Nabi Muhammad Saw adalah panutan (uswatun hasanah),mulai dari yang terkecil sampai terbesar, baik dalam aqidah, ibadah, bahkan muamalah. Sosial, politik, ekonomi, budaya, penddikan, dan seterusnya. Bahkan Soekarno pun sangat mencintai Nabi Muhammad Saw, bisa dilihat dari ibadah haji Soekarno pada tahun 1955. Kemudian Soekarno melepaskan atribut pangkat kenegaraannya di makam Rasulullah Saw, kemudian ditanya oleh Raja Saudi, Ia menjawab “yang ada disana itu Rasulullah Saw, pangkatnya tentu lebih tinggi dari kita”, ia juga merangkak, berdo’a, dan menangis di tempat yang sama. Cerita tersebut satu dari sekian cinta Soekarno dengan Nabi Muhammad Saw.

Terakhir, kemerdekaan Indonesia terjadi dengan kehendak Allah Swt melalui jalur perjuangan Soekarno dan Masyarakat Indonesia sendiri, sebagian besarnya Muslim berjuang melalui perang sabilnya di aceh, perjuangan Diponegoro di Jawa Tengah, Sultan Alauddin di Makasar, kemudian melalui piagam Jakarta (Jakarta charter) bentuk penyaluran cita Umat Islam menjadikan Indonesia merdeka dan bertauhid. Dengan demikian Penulis dan Pembaca yang budiman bisa belajar kembali dan mencoba menyikapi dengan bijak dan arif terhadap permasalahan Agama dan Bangsa. Wallahualam

Muhammad Raihan (Historical Observer).

           


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?