Jadilah Hamba Allah yang Arif (Ngaji Kitab Hikam Syaikh Athaillah)

Jadilah Hamba Allah yang Arif (Ngaji Kitab Hikam Syaikh Athaillah)

Dipublish pada 16 Januari 2020 Pukul 20:14 WIB

2075 Hits

Oleh: Dr. Latief Awaludin (Pengajar STAI Persis Bandung)

مِن علامات الاعتماد على العمل  نقصان الرجاء عند وجود الزلل .

“Di antara tanda bahwa seorang bersandar kepada amal usahanya  ialah kurangnya pengharapan kepada Allah tatkala terjadi kesalahan/dosa”

Sahabatku, untuk meraih keridhaan Allah kita diperintahkan untuk beramal shalih, beribadah dan berzikir dan dalam waktu yang sama kita jangan larut dan bangga dengan amal namun bersandarlah kepada kekuasaan Allah. Ketahuilah seluruh amal kita tidak sebanding dengan karunia Allah yang diberikan kepada hamba-Nya. 

Memang, Islam adalah agama amal, ”aku ada karena aku beramal”. Demikian perkataan Muhammad Iqbal filosuf modern pendiri negara Islam Pakistan tentang eksistensi manusia dilihat dari kualitas amalnya,  namun dalam bertauhid kepada Allah jangan terjebak menjadi hamba yang menggantungkan amal sebagai pengharapan penuh dan peneyelamat diri mereka, bukan kepada Allah secara murni,  jadilah hamba Allah yang arif (mengenal Allah).

Karena itulah, seorang muslim dituntut untuk tidak bergantung kepada amalnya. Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda, “Berlakulah kamu setepat dan sedekat mungkin. Ketahuilah bahwa amal salah seorang dari kalian tidak akan memasukkannya ke dalam surga. Mereka bertanya, engkau pun tidak, ya Rasulullah? Baginda bersabda: “Aku pun tidak, hanya saja, Allah meliputiku  dengan ampunan dan rahmat (HR. Enam Imam). Hadis ini menunjukan amal itu sebab ridha Allah memasukkan hamba-Nya ke surga namun bukan sebagai pengganti, karena sebesar apapun amal hamba lebih besar akan ampunan dan rahmat Allah Swt. Saat seorang menyadari  bahwa amalannya tidak mampu menggantikan surga Allah,  disitu ia mengerti amat tidak pantas untuk merasa ‘ujub dengan amalannya

Sahabatku, bersandarlah kepada Allah semata dalam segala keadaan, bahkan dalam urusan rizkimu, janganlah sekali-kali ada dalam benak dan fikiran kita keyakinan ada selain Allah yang memberikan manfaat atau bahaya kepadamu, padahal kita bisa melangkah untuk beribadah dan beramal  semua adalah kehendak dan bimbingan Allah. 

Sahabatku, sering kali bersandar dan menggantungkan kepada amal akibatnya kita tertipu, berlaku ujub dan tidak sopan terhadap Allah. Kita lupa kewajiban bersandar kepada Allah. Tinggalkanlah celah-celah sikap menyombonghkan diri dihadapan Allah termasuk dengan amal ibadahmu. Berbangga kepada amal ibadah yang dilaksanakan sama dengan mendahului Allah, seakan-akan amal ibadahnya telah diterima Allah Swt, ia meyakini amal itu datang dari kemampuannya sendiri lalu mengandalkan amal untuk mencapai tujuan.

Apa tanda si hamba menggantungkan dan bersandar kepada amal? syaikh Atha’illah mengungkapkan kepada kita, ketika seorang tergelincir dalam khilaf dan dosa lalu ia berkurang keyakinan dan penyandarannya kepada karunia Allah maka itulah di antara tanda-tanda orang yang menyandarkan diri kepada selain Allah Swt. Begitu pun dalam menghadapi urusan duniawi kita mendapatkan kegagalan dan kegalalan misalkan urusan bisnis, jodoh, pekerjaan, karir dan target apapun kemudian keyakinan kita kepada Allah melemah, meyusut harapan dan tawakkal kepada-Nya bahkan berburuk sangka kepada-Nya ketauhuilah kita jatuh dalam keterpurukan.

Belajarlah dari para nabi, mereka beramal semata-mata mengabdi dan mengharapkan keridhaan  Allah, mereka tidak menggantungkan diri kepada amalnya namun bersandar kepada karunia Allah. Nabi Sulaiman meyakini semua yang ia dapatkan karena nikmat karunuia Allah ketika mendapatkan istana Balqis: “Ini semata-mata karunia Tuhan-ku, untuk menguji kepadaku apakah bersyukur atau kufur, maka siapa yang bersyukur, maka sykur itu untuk dirinya. Dan siapa yang kufur, maka Tuhan-ku Dzat yang Maha kaya lagi Pemurah (al-An’am: 40).

Menarik sekali ulasan Syaikh Ahmad Zarruq, berkaitan ada 3 golongan hamba yang bersandar kepada amal. Pertama, golongan maqam Islam, yang selalu mengumpulkan amal untuk meraih karunia Allah, karena rasa takut dan harapnya bersama amal. Maqam ini diisyaratkan dalam Firman Allah, “Hendaknya manusia memperhatikan apa yang ia persembahkan untuk esok”. (al-Hasyr: 18). Kedua, golongan maqam iman, yang selalu menyandarkan diri kepada karunia Allah dan tujuan hidupnya melepaskan diri dari segala daya dan kekuatan selain Allah. Semua dikembalikan kepada Allah dengan selalu memuji dan bersyukur sebagaimana disiyaratkan dalam Firman Allah, “apa saja nikmat yang ada padamu, dari Allah datangnya dan apabila kamu ditimpa suatu bahaya, hanya kepada-Nya kamu meminta pertolongan (An-Nahl: 53), dan Ketiga, golongan maqam Ihsan, mereka bersandar sepenuhnya kepada pembagian dan ketentuan Allah yang sudah ditetapkan. Mereka menyadari akan kehadiran Allah, tujuan dan perhatian hidupnya adalah fana dalam tauhid. Pasrah dan diam dalam menghadapi semua ketentuan, rasa khauf (takut) dan raja (harap) tidak berubah, tidak bertambah dan berkutang karena sebab apapun. Ia tidak akan menoleh kepada apapun dan siapa pun selain Allah. Sebagaimana diisyaratkan dalam Firman Allah: “Katakanlah Allah, lalu biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatan (al-An’am: 61).

Seorang yang arif tidak memandang bahwa segala daya dan upayanyalah yang melakukan ketaatan dan kebajikan itu, baginya tidak ada beda saat taat maupun khilaf, kaya atau miskin, senang atau sedih, karena ia telah tenggelam dalam lautan tauhid. Rasa takut dan harapnya dalam kondisi tetap dan seimbang. Kesalahan dan klhilafnya tak pernah mengurangi rasa takunya kepada Allah dan ketaatan pun tidak menambah rasa harap kepada-Nya.

Bandung, 16 januari 2020.


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?