Jangan Salah Bergaul

Jangan Salah Bergaul

Dipublish pada 19 September 2020 Pukul 14:49 WIB

759 Hits

Oleh: Deni Solehudin

 

Manusia adalah Makhluk Sosial

Dalam Wikipedia disebutkan Manusia sebagai makhluk sosial merupakan mahkluk yang berhubungan secara timbal-balik dengan manusia lain. Dalam sosiologi, mahkluk sosial adalah sebuah konsep ideologis dimana masyarakat atau struktur sosial dipandang sebagai sebuah "organisme hidup".Semua elemen masyarakat atau organisme sosial memiliki fungsi yang mempertahankan stabilitas dan kekompakan dari organisme. Dengan kata lain, manusia tergantung satu sama lainnya untuk menjaga keutuhan masyarakat.

Allah SWT berfirman :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ – الحجرات : 13

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. ( QS.Al-Hujuraat:13)

Rasulullah Shollallahu álaihi wa sallam bersabda:

«الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَفْضَلُ مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ»

Orang mukmin yang bergaul bersama manusia dan bersabar atas gangguannya, lebih utama dari pada orang yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguannya. ( HR.Ahmad, Al-Bukhari dan Abu Daud dari Ibnu Umar ra )

Seorang mukmin yang bertanggung jawab akan diri dan agamanya ia tidak akan berpangku tangan bahkan mengasingkan diri tidak peduli dengan apa yang terjadi di lingkungannya. Tetapi ia akan turut campur walaupun konsekuensinya akan mendapat ketidak sukaan atau gangguan sekalipun ia akan tetap bertahan melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

 

Islam Memerintahkan Hidup Berjama’ah

Hidup bersama-sama membangun masyarakat yang beradab dalam Islam merupakan suatu hal yang diperintahkan dan disukai oleh Allah SWT.  Sebagaimana dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ – الصف : 4

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh. ( QS. As-Shaf : 4 )

Keteraturan diibaratkan seperti bangunan yang tersusun kokoh dijelaskan oleh Rasulullah Shollallahu álaihi wa sallam yaitu ibarat suatu bangunan yang satu sama lain saling mendukung ( saling menguatkan ). ( HR. Al-Bukhari dari Abu Musa ra ).

عَلَيْكُمْ بِالجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالفُرْقَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ، مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الجَنَّةِ فَلْيَلْزَمُ الجَمَاعَةَ، مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكَ الْمُؤْمِنُ"

Hendaklah kalian berjama’ah, dan janganlah kamu memisahkan diri, sesungguhnya syetan itu bersama dengan yang menyendiri, dan syetan menjauh dari dua orang; Barangsiapa yang menginginkan tempat di surga, hendaklah bergabung dengan al-jamaah. Barangsiapa yang amal kebaikannya menyenangkannya, dan amal keburukannya menyusahkannya, maka ia itulah orang mukmin. ( HR. At-Tirmidzi dari Ibnu Umar ra ).

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال قال رسول الله {صلى الله عليه وسلم} لا يجمع الله أمتي أو هذه الأمة على ضلالة أبدا و يد الله على الجماعة هكذا فاتبعوا السواد الأعظم فإنه من شذ شذ في النار

Dari Ibn Umar RA ia berkata, telah bersabda Rasulullah Shollallahu álaihi wa sallam Sesungguhnya Allah tidak mengumpulkan umatku selamanya dalam kesesatan, pertolongan Allah diberikan kepada al-Jama’ah, ikutilah As Sawad Al A’adzom, barangsiapa yang menyendiri, ia akan menyendiri ke neraka. (HR. At-Tirmidzi dari Ibnu Umar ra ).

 

Dalam hadits di atas kita diperintahkan untuk mengukuti As Sawad Al A’adzom kelompok mayoritas umat yang waktu itu berpegang pada pemerintahan Islam yang kokoh dalam bangunan al jamaah. Dalam kondisi seperti itu kita dilarang untuk menyendiri dan nyeleneh dari haq. Akan tetapi apabila mayoritas itu justru mayoritas yang menyimpang dari haq maka kelompok itu bukanlah disebut al jamaah tetapi masuk kategori firqoh-firqoh yang harus ditinggalkan, sebagaimana riwayat dari Khudzaifah bin Yaman yang menuturkan sebagai berikut:

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - عَنْ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنْ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَسْتَنُّونَ بِغَيْرِ سُنَّتِي وَيَهْتدُونَ  بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ هم  قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ. (م 6/ 20)

Orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw tentang kebaikan, sedang aku bertanya tentang keburukan, karena aku kawatir menimpaku. Aku bertanya : “ Ya Rasulullah dulu kami ada pada masa Jahiliyyah dan keburukan, Kemudian Allah mendatangkan kepada kami kebaikan ini, apakah setelah kebaikan ini akan ada lagi keburukan?” Beliau menjawab : “ya”; Aku bertanya lagi : “ Apakah setelah keburukan itu akan ada lagi kebaikan ?” Beliau menjawab : “ya, dan padanya ada benalu.”  Aku bertanya : “ Apakah benalunya itu “ Beliau menjawab : “Orang-orang yang memberi petunjuk bukan dengan petunjuk dariku, sebagian kau ketahui (kebenarannya), sebagain lagi kau ingkari.”  Aku bertanya lagi : “ Apakah setelah kebaikan itu akan ada lagi keburukan ?” Beliau menjawab : “ ya, yaitu para juru dakwah di pintu jahanam, barangsiapa yang mengikutinya akan dicampakkan ke dalamnya” Aku bertanya : “Ya Rasulullah, tolong jelaskan kepada kami cirri-cirinya.” Beliau menjawab : “ Mereka  kulitnya sama dengan kita, dan berbicara dengan bahasa kita” Aku bertanya lagi : “ Apa petunjukmu jika  aku bertemu dengan hal itu ? “ Beliau menjawab : “ Bergabunglah dengan Jama’ah muslimien dan imamnya; “ Aku bertanya lagi : “ Bagaimana jika tidak ada jama’ah dan imamnya ? “ Beliau menjawab : “ Tinggalkanlah firqah-firqah itu, sekalipun kamu harus memakan akar pohon, sampai maut menjemputmu dan engkau dalam keadaan tetap begitu.” (HR. Muslim dari Hudzaifah  ra )

 

Makna Al-Jama’ah

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ"، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: "الْجَمَاعَةُ" , (جة) 3992 [قال الألباني]: صحيح

Dari Auf bin Malik ia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW: “ Yahudi pecah menjadi 71 firqah, satu firqoh di surga 70 di neraka. Kristen pecah menjadi 72 firqah, 71 di neraka satu firqoh di surga dan demi jiwa Muhammad yang ada dalam genggaman-Nya umat ini akan pecah menjadi 73 firqah, satu firqoh di surga dan 72 firqoh semuanya masuk. Mereka bertanya : “ Siapakah (mereka yang selamat itu) ya , Rasulallah ?    Beliau menjawab : “al-Jama’ah.” ( HR Tirmidzi, shahih menurut Al Albani)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بني إسرائيل حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ، وَإِنَّ بني إسرائيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً"، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: "مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي": "هَذَا حَدِيثٌ مُفَسَّرٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِثْلَ هَذَا إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ" , (ت) 2641 [قال الألباني]: حسن

Dari Abdullah bin Amr RA ia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW : Akan datang kepada umatku seperti apa yang pernah datang kepada Bani Israil setapak demi setapak, sehingga jika ada di antara mereka anak yang memperkosa ibunya sendiri dengan terang-terangan, maka di kalangan umatku akan ada pula yang melakukannya. Dan sesungguhnya Bani Israil pecah menjadi 72 millah,  dan umatku akan pecah menjadi 73 millah, semuanya di neraka, kecuali satu millah. Mereka bertanya : “ Siapakah dia ya Rasulallah ?” Beliau menjawab : “ Mereka yang berpegang teguh kepada apa yang aku dan sahabatku pegang teguh “. ( HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin Amer ) ( Tuhfatul Ahwadzi 7 : 399 )

 

Berdasarkan kedua hadits di atas yang akan selamat adalah “Al Jamaah” siapa mereka? Mereka adalah yang berpegang teguh kepada Al-Quran dan As Sunnah.

Berdasarkan keterangan-keterangan di atas, kita diperintahkan untuk bergaul bersama Al Jamaah. Yang keluar dari koridor Al Jamaah walaupun mayoritas mereka dikategorikan firqoh-firqoh yang menyimpang dari agama.

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. ( QS Al-An’am : 159 )

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي - صلى الله عليه وسلم - في قوله: " {إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا} قال: (هم أهل البدع، وأهل الشبهات وأهل الضلالة من هذه الأمة" اهـ. أخرجه الطبري في "تفسيره" 8/ 105، وذكره السيوطي في "الدر" 3/ 117

Dari Abi Hurairah ra berkata: Bersabda Rasulullah saw  tentang ayat ini – Innal ladzina farraquu dinahum – “ Mereka itu adalah ahli bid’ah, ahli syubhat dan ahli kesesatan dari umat ini “  - At-Thabari 8/105,  As Suyuthi 3/117).

 


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?