Jangan Sombong dan Membanggakan Diri!

Jangan Sombong dan Membanggakan Diri!

Dipublish pada 20 April 2020 Pukul 16:44 WIB

771 Hits

Oleh: KH. Rahmat Najieb, Anggota Dewan Hisbah PP Persis.

"ََََََوَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ......."

“...Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Q.S. al-Hadid [57]: 23)

Potongan ayat di atas difirmankan oleh Allah Swt setelah Dia menyatakan bahwa segala apa yang terjadi di muka bumi atau pada setiap manusia kapanpun dan dimanapun, semuanya terjadi atas kehendak-Nya semata, bahkan semua itu telah Dia gariskan sebelum alam semesta beserta isinya tercipta, dan itu sangat mudah bagi-Nya (Q.S. al-Hadid [57]: 22). Penegasan ini tiada lain agar manusia benar-benar bertawakal sepenuhnya kepada Allah Swt dengan tidak tenggelam dalam kesedihan atas apa yang luput darinya, serta tidak terlena dalam kegembiraan atas apa yang telah didapatkannya. Karena apa yang sudah ditakdirkan memang tidak mungkin terlewatkan, dan apa yang tidak ditakdirkan oleh-Nya tidak mungkin terjadi.

Perasaan yang tidak terkontrol, terutama perasaan gembira karena berhasil menda- patkan sesuatu yang sesuai dengan—atau lebih dari—yang diharapkan, seringkali menggiring seseorang pada sifat mukhtal fakhur. Dan sebagaimana ditegaskan dalam potongan ayat di atas, Allah Swt sangat tidak menyukai sifat tersebut. Mukhtal adalah sifat arogan (congkak/ angkuh) yang lahir dari perasaan over-superior; menganggap diri lebih baik dan lebih tinggi dari yang lain. Sementara makna fakhur sebetulnya tidak jauh berbeda dengan mukhtal, han- ya saja—menurut para mufassir—wujud mukhtal adalah perbuatan, sedangkan fakhur lebih ke ucapan. Namun secara prinsip, mukhtal dan fakhur intinya sama, yakni membanggakan diri sendiri sembari merendahkan orang lain.

Dalam al-Qur’an, cuplikan-cuplikan tentang kisah orang/kaum yang berwatak mukhtal fakhur (sombong dan over-superior) beserta akibat buruk yang mereka terima banyak diulas oleh Allah Swt, agar menjadi bahan renungan bagi generasi sesudahnya, termasuk generasi kita sekarang. Ditenggelamkannya Fir’aun beserta bala tentaranya di Laut Merah; dibenam- kannya Qarun ke tanah beserta seluruh hartanya; dihancurkannya tentara gajah Abrahah dengan Burung Ababil; Namrud yang kerajaannya diluluhlantahkan dengan gerombolan nyamuk; dll., adalah di antara kisah-kisah dahulu yang patut kita jadikan pelajaran, bahwa sifat sombong dan membanggakan diri hanya akan membawa pada kebinasaan.

Jika kita kaitkan kisah-kisah tersebut dengan apa yang telah dan tengah kita lihat sekarang, tentu kita harus semakin yakin bahwa ancaman Allah terhadap orang/kaum yang sombong dan over-superior benar-benar akan nyata terbukti. Apa yang sekarang menimpa Negri China adalah contoh real-nya. Pertumbuhan ekonomi China yang kian hari semakin meroket serta geliat SDM (saintis, teknokrat, militer, dll.) yang jumlahnya semakin bertam- bah, nampaknya membuat sikap dan sifat arogansi China tidak dapat disembunyikan lagi. Presiden China, Xi Jinping, pada bulan Oktober 2019 sampai berani mengatakan, “Tidak ada kekuatan apapun yang bisa menghalangi bangsa dan negara China untuk terus maju!” Tiga bulan setelah itu, Allah Swt kemudian ‘menjewer’ China dengan mengirim virus corona yang mematikan, sampai mereka dibuat kewalahan menanganinya. Mirip seperti arogansi Fir’aun yang kemudian ‘dijewer’ oleh Allah Swt dengan serangan hama yang berujung krisis pangan, sampai Fir’aun terpaksa ‘menghinakan diri’ memohon kepada Nabi Musa agar berdo’a untuk menghilangkan krisis tersebut. Demikian teguran Allah Swt kepada setiap mukhtal fakhur.

Mudah-mudahan teguran ini membuat China sadar dan kembali ke jalan yang benar, bukan malah seperti fir’aun yang setelah ditolong oleh Nabi Musa, malah kembali kepada mengulangi kekufuran dan sikap arogansinya. Na’udzubillah, semoga kita semua senantiasa dibimbing oleh taufiq dan hidayah Allah Swt agar senantiasa terhindar dari sifat mukhtal fakhur yang dapat membawa petaka bagi hidup.

Sumber Majalah Rislah No.12 THN 57 - Maret 2020


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?