Kesaksian Jama’ah PERSIS

Dipublish pada 06 Oktober 2015 Pukul 13:32 WIB

1034 Hits

Pagi itu, Kamis (24/9) jama’ah mulai bersiap menuju jamarat yang letaknya kira-kira 3,5 km dari maktab di Mina Jadid (perluasan Mina). JKS 61 adalah salah satu maktab yang berangkat pada pagi itu. Masih ada maktab 2 dari Surabaya kloter 48 dan Batam kloter 14 yang tinggal di maktab 1 juga di Mina Jadid. Dengan bismillah dan lantunan talbiyah, para jamaah yang masih mengenakan ihram itu berangkat ke jamarat untuk melempar jumrah aqabah hari pertama.

Ustad Acep Saifudin yang memimpin rombongan berada di belakang. Dia mengaku saat itu membawa 8 rombongan. Pada saat tiba di persimpangan jalan antara Jalan Arab 204 dengan jalan yang biasa dilalui jamaah Indonesia menuju terowongan mina Muaisim 3, kelima rombongan berhasil melaju dengan tenang. Maklum saat itu masih pagi sekitar pukul 06.00. ”Tapi hanya lima rombongan yang boleh masuk. Sementara tiga rombongan yang di belakang termasuk saya dilarang lewat jalan ke terowongan. Kami dibelokkan ke kiri oleh askar Arab Saudi. Kami menolak dan ngotot minta terus karena termasuk satu rombongan. Namun, mereka tetap tidak memperbolehkan. Kami pun mengalah,” ujar Acep.

Tak berapa lama mereka berjalan, tiba-tiba dari arah belakang ada ratusan orang berkulit hitam (Afrika) masuk ke jalan yang lebarnya hanya enam meter itu. “Jamaah sudah mulai kacau. Saya mencoba menenangkan,” katanya.

Keadaan menjadi tambah kacau, karena dari depan berlawanan arah muncul ratusan orang berwajah Arab. Mereka juga merangsek maju. Informasinya mereka berbalik arah karena pintu besi jamarat tiba-tiba ditutup. Akhirnya terjadi dorong-dorongan. “Jamaah sudah saya minta minggir. Namun terus terjepit. Apalagi pintu-pintu maktab yang ada di kanan kiri jalan semua dikunci. Jamaah jadi terdesak, dan saya menyaksikan sendiri bagaimana jamaah kita banyak jatuh. Entah sudah meninggal atau belum. Saya berusaha menolong yang bisa saya tolong,” katanya yang juga terinjak-injak saat kejadian.

Pengalaman pahit dialami Apep Wahyudin ketua rombongan 4 dari kloter 61 Jakarta-Bekasi (JKS). ”Kami berjalan sesuai survei di awal, yakni di jalur hijau. Nah pas di persimpangan itu ada petugas askar yang memblokade mengarahkan kami belok ke kiri. Katanya lebih dekat kalau lurus lebih jauh,” jelas warga Jalan Ciapus, Desa Ciapus, Banjaran, Bandung, Jawa Barat.

Namun, dia terkejut karena di depan mereka banyak jamaah asal Afrika yang berdatangan dari arah berlawanan. Belum hilang rasa terkejutnya, Apep merasa heran dengan pintu teralis pembatas maktab yang berada di pinggir kanan-kiri jalan dikunci semua. Praktis, jalannya penuh sesak dan orang yang berada di situ terjebak tak bisa ke mana-mana.

”Apalagi di depan ada mobil mogok yang dinaiki orang Afrika. Sudah begitu orang Afrika lainnya datang dari arah depan, dan masuk ke arah kami. Akhirnya kami berhadap-hadapan dengan mereka. Posisi saya paling depan. Selanjutnya korban berjatuhan karena saling berdesakan. Saya sampai jatuh tiga kali, istri saya juga,” tuturnya.

Apep menuturkan, saat jatuh dan kemudian dirinya berusaha bangkit untuk mengangkat istrinya yang juga jatuh jamaah dari negara lain (Afrika) sempat menginjak pinggangnya. “Orang yang nginjak saya itu sudah lepas kain ihramnya. Saya teriak help me… help me, akhirnya orang kulit putih saya tarik tangannya. Sama dia saya juga ditarik. Istri saya selanjutnya saya tarik. Saya berjalan satu kali langkah susah karena istri masih terhimpit. Akhirnya saya kembali dan menarik istri saya lagi dan berusaha minggir,” jelasnya sambil terisak. Sampai di pinggir Apep pingsan karena kelelahan.

Dari 45 orang anggota rombongannya yang ikut dalam perjalanan lewat Jalan 204, hanya tinggal 21 jamaah yang tersisa. “Keluarga saya semuanya sepuluh, sekarang hanya tinggal enam orang. Saya lihat bibi saya yang dievakuasi ke klinik jamarat sudah tak bergerak-gerak. Sedangkan paman saya selamat dan dikembalikan tadi malam (kemarin). Yang lainnya saya belum tahu kondisinya bagaimana dan di mana. Mudah-mudahan bisa ditemukan di rumah sakit dalam keadaan selamat,” kata Apep sambil menghapus air matanya.

Ada lagi, Irfan Firdaus (35). Dia bersama tujuh kerabatnya berhaji bersama. Setelah kejadian hanya tiga orang yang selamat. Empat orang lainnya hingga kini belum ada kabarnya. ”Saya hanya mampu menarik dua orang, istri dan kakak perempuan saya. Sedangkan kakak laki-laki saya, istrinya, tidak bisa saya tarik. Saya lihat kakak laki-laki saya pingsan dan dibawa mobil Askar. Sedangkan istrinya lebih parah lagi. Adik saya, dan seorang temannya malah tak saya lihat dan tidak jelas sampai sekarang,” ujar Irfan dengan mimik yang sangat sedih dan suara pelan serta parau.

Sama halnya dengan Aceng Suganda, jamaah dari maktab yang sama. ”Saat ini ada 11 teman kami yang diduga meninggal dan 55 jamaah lainnya hilang pascakejadian,” kata Ketua Kelompok Terbang (Kloter) Jakarta-Bekasi (JKS) 61 Aceng Sukanda, Jumat (25/9) malam.

Aceng menjelaskan, informasi tersebut diperoleh dari ketua rombongan (karom), dan ketua regu (karu) yang membawa jamaah yang diduga meninggal tersebut melewati Jalan 204. Menag pun menanyakan kevalidan informasi tersebut. ”Bagaimana cara memastikan bahwa yang bersangkutan sudah meninggal? Apa ada yang melihat langsung kondisinya mereka,” tanya Lukman.

Aceng yang rambutnya sudah dicukur plontos itu menjelaskan, awalnya mereka berangkat ke jamarat mengikuti jalur sesuai peta yang diberikan oleh Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Peta yang diberikan menunjukkan dua warna, yaitu jalur hijau untuk akses menuju Jamarat dan jalur merah untuk akses kembali ke tenda di Mina. “Awalnya kamu melewati jalur hijau, yaitu melalui Jalan King Fahd yang merupakan jalur lurus. Jalur tersebut memang untuk jamaah asal Asia,” kata Aceng.

Sebelum tragedi berlangsung, ada delapan rombongan dari kloter 61 berangkat melempar jumrah. Saat itu tiga rombongan berjalan lurus melintasi Jalan King Fahd untuk menuju Jamarat tanpa dibelokkan. “Selepas tiga rombongan yang melintas di jalan lurus itu, lalu petugas Arab Saudi (Askar) menghentikan dan kami diminta berbelok ke kiri (Jalan 223) yang selanjutnya bertemu dengan jalan 204 yang merpakan jalur orang-orang Afrika,” ungkap Aceng.

Rombongan pun akhirnya belok ke Jalan 223 yang menjadi penghubung antara Jalan King Fahd dan Jalan 204. “Semuanya ada delapan rombongan. Tiga rombongan bisa lewat lurus (Jalan King Fahd), tiga rombongan berbelok, dan dua yang terakhir bisa lurus lagi,” imbuh jamaah Kloter JKS 61, Roni Herdianto (34 tahun).

Rombongan Roni yang membawa jamaah dengan kursi roda sempat dicegat dan disuruh berbelok ke kiri oleh petugas Arab Saudi (askar). Namun, dia ngotot tetap lewat jalan yang lurus dengan alasan membawa jamaah kursi roda. Setelah berdebat, akhirnya diizinkan oleh askar.

Nah, setelah belok ke kiri dan masuk Jalan 223, jamaah kemudian bertemu Jalan 204 yang arahnya lurus menuju jamarat. Akses ini biasannya dipakai oleh jamaah asal Libanon, Iran, Irak, Nigeria, dan Mesir. Aceng menambahkan, saat masuk Jalan 204 tersebut kepadatan jamaah mulai terasa.

”Jamaah dari Afrika datang dari arah Jamarat selepas melempar jumrah, sedangkan kami mau menuju Jamarat sehingga berpapasan di jalur itu. Kemudian timbul desak-desakan karena sama-sama mau lewat hingga banyak jamaah jatuh dan terinjak-injak,” lanjutnya.

Peristiwa tragis yang berlangsung sekitar dua jam ini, dari 07.30 sampai 10.00 ini diperparah dengan suhu panas dan paparan sinar matahari sehingga membuat banyak jamaah klenger dan meregang nyawa.

Kesaksian Sulwan Kosasih, salah seorang jamaah KBIH Persis yang selamat, bisa dijadikan informasi yang cukup jelas. Ustad Sulwan menulis: Sampai dengan Mabit di Mudzdalifah, seluruh proses ibadah haji itu berjalan lancar sesuai rencana dan skenario.

Start dari Mudzdalifah pukul 06.00 pagi Waktu Arab Saudi, kami berjalan sambil bertalbiyah menuju jamarat hingga masuk di sebuah jalan persimpangan dan harus masuk jalur 204 karena dibelokkan petugas.

Barisan kami mulai bercampur dengan rombongan dari negara lain yang kadang memotong rangkaian barisan, tulisnya. Makin lama, makin kacau, ditambah banyak jamaah yang melawan arah. Jeritan dan teriakan “Allahu Akbar”, semakin riuh dan menggema.

Bendera tanda rombongan yang kami kibarkan, mulai jatuh. Dan saya harus terjepit hingga melemas karena sudah kekurangan oksigen dan dehidrasi hebat. “Laailahailallah” hanya itu yang teringat dan terucap lemah, karena saya merasa malakal maut sudah mau menjemput.

Terasa tetesan darah masuk ke mulut dari gigi yang patah tanpa bisa mengusap, karena kedua tangan terjepit.

Saya ikhlas ya Allah, jika takdir maut menjemput disini. Tapi jika masih mempercayai untuk hidup, berikan saya kekuatan untuk menyelamatkan diri, gumam hati ini sambil berucap “La haula wa la quwwata illa billah”.

Dan kekuatan dahsyat itu tiba-tiba muncul. Tangan, kaki, dan badan yang semula terjepit tanpa daya, seperti enteng terlepas dan tangan dapat meraih besi-besi tenda.

Dan entah dengan cara bagaimana, saya bisa naik ke atap dengan mudah tanpa digelantugi orang-orang dibawah.

Alhamdulillah saya hanya bisa merendam diri dalam kubangan air semprotan yang sudah kotor dan sesekali memeras kain ihram untuk minum. Alhamdulillah hingga terdengar adzan dzuhur berkumandang, atau sekitar empat jam saya bertahan antara sadar dan tidak sadar di bawah teriknya matahari.

Dari kesaksian itu, tentu saja jamaah yang berjalan kaki menuju jamarat setelah bermalam di Muzdalifah untuk melontar jumrah, tidak bisa disalahkan. Para jamaah itu, berjalan dengan bibir basah dengan talbiyah, beringan menuju jamarat yang letaknya kira-kira 3,5 km dari maktab di Mina Jadid (perluasan Mina).

JKS 61 adalah salah satu maktab yang berangkat pada pagi itu. Keterangan saksi mata diatas, sudah cukup menjadi bukti bahwa sebagian jamaah kloter JKS 61 memasuki jalur “tidak resmi” 204 bukan karena mereka tidak disiplin, melainkan “kondisi lapangan” yang memaksa mereka harus melalui jalur itu.

 

KESIMPULAN SEMENTARA

- Jama'ah Indonesia dibelokan oleh Askar dari jalan King Fahd ke jalan 204

- Jama'ah asal Afrika banyak yang melawan arus dari Jamarat kembali ke arah jalan 204 dengan alasan pintu Jamarat dikunci

- Jama'ah Iran melawan atus, masuk dari jalan 225 ke jalan 204.

- Terjadi kepadatan yang sangat, dan mengakibatkan himpitan ribuan manusia, sehingga banyak yang terjatuh dan mengalami dehidrasi hebat.

- Hipotesa ini dibuat berdasarkan kesaksian. Mari kita tunggu hasil investigasi resmi dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?