Kesesatan Syakur Yasin: Bukti Kesesatan Program Moderasi Beragama

Kesesatan Syakur Yasin: Bukti Kesesatan Program Moderasi Beragama

Dipublish pada 13 November 2021 Pukul 10:43 WIB

2776 Hits

Oleh: Muhammad Yamin

(Direktur LBH PP PERSIS)

 

Beberapa waktu lalu, viral video ceramah Syakur Yasin, M.A. yang sejatinya merupakan salah satu rangkaian dari  acara “Moderasi Beragama Merajut Nasionalisme dan Toleransi Beragama” di Mabes Polri, Jakarta, pada 1 Juni 2021.

Video ini menjadi viral karena isi ceramah Syakur Yasin (SY) yang bukan hanya menyesatkan, tetapi juga berbentuk penistaan terhadap Islam. Dalam ceramahnya, setidaknya ada 14 poin penyesatan dari pernyataan Syakur Yasin. Salah satunya, SY menyebut, Nabi Muhammad tidak membawa agama baru tetapi hanya membawa satu sekte baru dari agama Nasrani. Kemudian SY juga menyebut kalau Islam bukan agama sempurna, “... mana mungkin di dunia ada kesempurnaan,” tandasnya.

Nama lengkapnya Abdusy Syakur Yasin. Namun lebih dikenal hanya dengan nama KH. Syakur Yasin, oleh santri dan jamaahnya disapa Buya Syakur. Dia merupakan alumni Pesantren Raudlatut Tholibin, Babakan, Ciwaringin, dengan kultur dan pemikiran keagamaannya berbasis tradisi Nahdlatul Ulama. Saat ini, dia merupakan pengasuh Pondok Pesantren Cadangpinggan, Kab. Indramayu Jawa Barat.

Menyimak pemikiran dan pernyataan-pernyataannya, metodologi dan pemikiran keagamaan SY, bersandar pada metode liberalis yang cenderung menganut paham relativisme. Dalam kajian-kajian ilmu Usul al-Din, relativisme ialah sebuah paham yang memegang prinsip bahwa kebenaran dipandang sebagai sesuatu yang tidak mutlak alias relatif. Apa yang dipandang sebagai kebenaran oleh orang belum tentu berlaku untuk orang lain. Menurut paham ini, kebenaran ditentukan oleh siapa yang menjadi pelakon, karena setiap individu dipengaruhi oleh sejarah, budaya, dan psikologi masing-masing. Ukuran untuk memandang suatu kebenaran pun menjadi kompleks dan tak pasti. Karena tidak ada ukuran umum atau satu pijakan tertentu untuk menilai sebuah kebenaran. Labih jauh, setiap orang boleh berpendapat kebenaran sebagai kesalahan atau pun sebaliknya.

Dalam pemikiran keagamaannya, yang penting diketahui adalah, paham ini mempunyai doktrin, bahwa setiap agama tidak boleh merasa benar atau paling benar. Karena dalam keyakinan mereka yang terjerat relativisme, seluruh agama dalam perjalanan sejarahnya mengalami penyimpangan dalam hal doktrin maupun praktek-prakteknya. Sehingga relativisme sangat berbahaya karena diilustrasikan ibarat virus, yang memiliki beberapa dampak dan memiliki potensi untuk merubah cara berpikir umat manusia, yang kemudian melekat hingga menjadi karakteristik manusia berpikiran relativistik, dan tidak meyakini kebenaran apapun, bahkan kebenaran yang bersumber dari wahyu.

Sebagaimana sebuah paham, relitivisme setidaknya terbagi ke dalam tiga kelompok, yaitu: Pertama, dikenal dengan al-lā adriyyah atau the agnostic; Kedua, kelompok yang disebut al-inādiyyah; dan Ketiga kelompok al-‘indiyyah. Melihat pemikiran dan pernyataan-pernyataannya, Syakur Yasin termasuk ke dalam tipe kelompok yang ketiga. Pemahaman kelompok al-i’ndiyyah meyakini, bahwa setiap orang memiliki kebenarannya sendiri, dan setiap pendapat kelompok sama benarnya; benar bagi dua orang atau lebih. Walaupun sebenarnya tidak ada yang benar sekalipun. Kelompok ini menerima kemungkinan kebenaran dan ilmu pengetahuan, akan tetapi menolak tujuan keduanya. Bagi mereka tujuan ilmu pengetahuan dan kebenaran adalah subjektif.

Dalam metodologi berpikirnya, paham ini setidaknya memiliki enam prinsip kunci. Dalam konteks Syukur Yasin, terdapat dua prinsip pemikiran relativisme yang bisa dikenakan kepada Syukur Yasin. Pertama, prinsip yang menyatakan, adalah keliru mengatakan seseorang benar dan mengatakan yang lain salah. Jelasnya, prinsip ini melarang saling memberi peringatan dan memberi nasihat antar satu sama lain. Kedua, kebenaran adalah sebuah kesepakatan umum. Maknanya ketika sebuah kesalahan disepakati menjadi sebuah kebenaran, maka akan merubah statusnya menjadi benar (Al-Baghdadi, Abd al-Qahir. 1928. Us}ūl al-Dīn. Istanbul: Matba’ah aldaulah).

Bagaimanapun paham pemikiran keagamaan ini sangat berbahaya, paham relativisme pada satu titik tertentu secara terang-terangan menggiring manusia kepada sikap skeptis terhadap akidah dan ajaran-ajaran agama. Paham ini juga mengaburkan segala realitas dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan dan diyakini. Karena mengaburkan, pelbagai penafsiran yang muncul secara berkelanjutan, tak berujung dan tidak jelas arah tujuannya.

Maka akan menghasilkan ketidakpastian: tidak ada standar dalam menilai sesuatu, dan semua hal dipandang nisbi. Di sini, dampak yang paling jelas terlihat adalah tidak diperkenankannya seseorang menyalahkan pendapat orang lain, juga membenarkan pendapatnya. Begitu juga sebaliknya. Yang berarti, prinsip ini jelas akan bertentangan dengan konsep amar ma’rūf nahyi munkar, dan pada gilirannya akan menggiring manusia menjadi pribadi penakut, plinplan, standar ganda, inkonsisten, dan tidak berprinsip.

Dengan uraian selintas di atas, membawa kita pada satu pemahaman tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi di Indonesia saat ini. Latar belakang pemikiran dan paham keagamaan seperti yang ditunjukan Syakur Yasin nampak sangat tepat bila dihubungkan dengan tujuan-tujuan moderasi keagamaan, yaitu mengacaukan pemahaman umat, dan menjauhkan umat Islam Indonesia dari keyakinan terhadap ajaran dan norma Islam kaffah. Sehingga kemudian, muncul keraguan umat terhadap kebenaran mutlak wahyu dan risalah yang disampaikan Nabi Muhammad.

Sehingga, tanpa bermaksud mengerdilkan dampak dan bahaya yang ditimbulkan oleh pernyataan-pernyataannya, sosok Syakur Yasin, sebenarnya hanyalah pion, atau alat terapi kejut yang coba dimunculkan oleh kelompok liberalis berkedok moderasi beragama terhadap umat Islam Indonesia. Itu membuktikan bahwa kelompok moderasi beragama telah melangkah lebih jauh dari yang diperkirakan.

Terlepas dari itu semua, pernyataan-pernyataan SY jelas-jelas berbahaya dan menyesatkan. Apabila pernyataan SY ini sampai ke kalangan muda yang awam, akan berpotensi menimbulkan keraguan yang bisa berujung pada kemurtadan. Sebab, caramah SY ini disiarkan secara langsung melalui channel Youtube KH Buya Syakur Yasin MA pada 1 Juni 2021 lalu. Sehingga bisa dikategorikan pernyataannya dilakukan di muka umum.

Lebih mirisnya lagi, pernyataan itu dilakukan SY dalam sebuah acara resmi lembaga kenegaraan, dan diruangan lembaga negara resmi, yaitu Mabes Polri. Tetapi, tidak ada laporan terjadi penindakan atau peringatan apa pun dari lembaga resmi tersebut. Semua yang hadir pada saat itu, atau siapa pun pejabat pemerintah yang menyaksikan pada saat bersamaan atau setelahnya, melakukan pembiaran terhadap pernyataan-pernyataan SY.

Bahkan hingga saat tulisan ini di buat, tidak ada satu pun yang melakukan laporan atau tuntutan terhadap SY. Padahal sangat jelas dan nyata, bahwa pernyataan-pernyataan SY memenuhi unsur sebagaimana yang dimaksud dalam UU No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan dan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama.

Kemudian, Pasal 156 (a) KUHP Indonesia juga dengan jelas menyatakan, “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: a. yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia.”

Kita berharap, pemerintah, dalam hal ini Polri dapat bertindak dan bersikap adil dengan melakukan tindakan nyata terhadap apa pun atau siapa pun yang terbukti memiliki potensi melanggar hukum. Apalagi bila perbuatan itu, secara terang benderang disaksikan secara langsung oleh Polri sendiri, dan oleh khalayak umum. Jangan sampai ada sekelompok umat Islam merasakan adanya ketidakadilan dan diskriminasi hukum.

Penegakkan hukum dengan benar, tegas, dan seadil-adilnya dengan menindak para penista/penoda agama hingga ke pengadilan, akan memberi rasa aman dan tentram dikalangan anak bangsa. Yang pada akhirnya memberi efek positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Wallahu’alam

Allahu ya'khudzu biaidina ilaa maa fiihi khairun lil Islami wal muslimin.

 


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?