Ketahanan Keluarga Benteng Perilaku LGBT

Dipublish pada 24 Maret 2016 Pukul 13:45 WIB

1485 Hits

Oleh :

Husni Rofiqoh

(Ketua Bidang Tarbiyah PP Persistri)

 

Muqaddimah

Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) belakangan menjadi wacana hangat di masyarakat. Bukan sekedar perbincangan, tapi fenomena perilaku penyimpangan seksual tersebut dinilai sudah masuk ke tahap ancaman terhadap generasi.

Perlu kita ketahui, bahwa di antara stratergi penghancuran agama yang sedang dilancarkan oleh kaum Yahudi melalui faham Liberalisme yang diusungnya, yaitu dengan melegalkan dan menghalalkan perkawinan sesama jenis (Homoseksual dan Lesbian). Yang membuat kita heran, ternyata orientasi sex yang menyimpang ini malah didukung oleh salah seorang tokoh Islam Liberal di Indonesia Prof. Siti Musdah Mulia, guru besar UIN Jakarta. Beliau pernah menyatakan dalam Harian The Jakarta Post, edisi Jum’at (28/3/2008): “Homoseksual dan homoseksualitas adalah alami dan diciptakan oleh Tuhan, karena itu dihalalkan dalam Islam”, sehingga menurutnya tidak ada alasan untuk menolak homoseksual. Astagfirullahal’adzim ! betulkah seperti itu pandangan Islam terhadap Homoseksual dan Lesbian ?

Menghadapi bahaya LGBT yang semakin masip belakangan ini, umat Islam harus bergandengan tangan serta merapatkan barisan dalam menghadapinya. Karena, mereka (kaum LGBT) mendapat dukungan yang sangat kuat, bukan saja dari kelompok yang mengaku sebagai ‘Pembela HAM’, ternyata mendapat dukungan pula dari kalangan Islam Liberal, serta di danai oleh Amerika Serikat.

Sebagai langkah awal, serta yang sangat memungkinkan untuk dapat dilakukan oleh seluruh keluarga muslim, yaitu dengan mewujudkan Ketahanan Keluarga sebagai benteng penghalang menyusupnya perilaku LGBT ke dalam anggota keluarga muslim.

Faktor Penyebab LGBT

Penyebab seseorang berperilaku LGBT sangat variatif, baik karena pengaruh dari luar maupun pengaruh dari dalam dirinya sendiri. Pengaruh-pengaruh tersebut, antara lain :


  1. Cacat pembawaan yang kemudian didorong oleh pengaruh lingkungan. Orang seperti ini sejak lahir sudah memiliki pembawaan yang mengarah kepada perilaku homoseksual. Pembawaan ini akan cepat berkembang apabila didorong oleh pengaruh lingkungan dan pergaulan.

  2. Salah asuh dan salah didik semasa kecil. Hal ini juga dapat menjadi pemicu karena pengalaman masa kecil yang buruk, sehingga menimbulkan traumatik, dan kecenderungan untuk melakukan homoseksual.

  3. Operasi pada alat kelamin terkadang bisa menjadi salah satu faktor pemicu timbulnya perilaku homoseksual.

  4. Pengalaman di masa lampau tentang seks yang membekas pada pikiran bawah sadarnya, seperti korban Sodomi yang di kemudian hari justru menjadi pelaku Sodomi.

  5. Kekerasan pada anak baik fisik maupun psikis menjadi penyebab yang mengakibatkan berbagai kelainan kejiwaan termasuk penyimpangan orientasi seksual.


Dari beberapa penyebab munculnya perilaku LGBT ini, ternyata keluarga berperan sebagai salah satu pemicunya. Oleh karena itu, ketahanan keluarga menjadi penting untuk diperhatikan.

Konsep Ketahanan Keluarga

Keluarga yang sejahtera, selalu menjadi dambaan setiap orang. Dengan mencapai tingkat kesejahteraan tertentu, seseorang akan mampu menikmati hidup secara wajar dan menyenangkan, karena kebutuhan materiil dan spiritualnya terpenuhi. Lebih dari itu, dengan menjadi keluarga yang sejahtera, seluruh anggota keluarga akan dapat mengembangkan diri sesuai dengan potensi dan bakat yang dimiliki.

Secara konseptual, keluarga sejahtera selalu bercirikan ketahanan keluarga yang tinggi. Ketahanan keluarga yang dimaksud adalah kondisi dinamik suatu keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik materiil dan psikis mental-spiritual guna hidup mandiri dan mengembangkan diri serta keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan lahir maupun kebahagiaan batin.

Secara operasional, keluarga sejahtera berkarakteristik keluarga yang dapat melaksanakan delapan fungsi keluarga, yaitu: (1) Fungsi Keagamaan, (2) Fungsi Sosial-Budaya, (3) Fungsi Cinta kasih, (4) Fungsi Melindungi, (5) Fungsi Reproduksi, (6) Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan, (7) Fungsi Ekonomi, (8) Fungsi Pembinaan Lingkungan.

Ketahanan keluarga hanya dapat tercipta apabila keluarga yang bersangkutan dapat melaksanakan delapan fungsi keluarga secara serasi, selaras dan seimbang. Sebuah keluarga tidak akan pernah mencapai tahapan sejahtera apabila fungsi-fungsi keluarga tersebut berjalan secara timpang atau beberapa fungsi tidak dapat dilaksanakan meskipun fungsi lainnya mampu berjalan secara mantap. Sebuah contoh kecil, keluarga yang kaya secara materi yang dalam hal ini fungsi ekonomi keluarga dapat dilaksanakan secara optimal, tidak akan berarti apa-apa untuk mencapai keluarga yang bahagia dan sejahtera bila dalam keluarga tersebut tidak ada rasa kasih sayang.

Membangun Ketahanan Keluarga

Islam sebagai agama yang sempurna, ajarannya bersifat global (kaffah) mencakup segala aspek kehidupan, termasuk masalah keluarga. Di antara ajaran Islam yang menjadi landasan Syar’i mengenai keluarga tercantum dalam QS. At-Tahrim ayat 6 :

“Wahai orang-orang yang beriman ! peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Berdasarkan ayat di atas, ketahanan keluarga dalam Islam adalah suatu konsep dalam menjaga kehidupan rumah tangga Islami dari virus kejahiliyahan dan westernisasi yang mengancam terhadap eksistensinya dalam menjalankan amal-amal Islami.

Kehidupan global yang begitu dasyatnya memberikan dampak positif dan negatif dalam kehidupan manusia. Aspek positifnya adalah manusia mampu mengakses setiap informasi di belahan bumi manapun dengan cepat lewat media cetak, elektronik dan internet. Namun dampak negatif juga dirasakan dengan terjadinya kemajuan teknologi yang super canggih. Munculnya budaya permisif, style kehidupan versi Barat tidak dipungkiri telah merasuk rumah tangga Islami. Sehingga sikap kehati-hatian dan kewaspadaan mutlak diperlukan dengan membangun ketahanan rumah tangga.

Di sinilah pentingnya setiap individu muslim untuk mengetahui dasar-dasar ketahanan keluarga agar keluarganya tidak mudah goyah dan rapuh. Dan dasar itu adalah visi dan misi hidup yang benar dari seluruh anggota keluarga, komitmen keislaman yang kokoh, persepsi yang utuh tentang keluarga dari masing-masing anggota dan membangun keterpaduan dan kemitraan dalam keluarga.

Namun upaya membangun ketahanan keluarga itu juga tidak selalu mulus. Karena selalu ada rival-rivalnya yaitu, dari sisi internal anggota keluarga adalah lemahnya komitmen keislaman, style hidup hedonis dan permisif serta lemahnya komunikasi antar anggota keluarga. Dan secara eksternal adalah dasyatnya arus jahiliyah dan ghozwu al-fikri.

Berangkat dari realita inilah fungsi keluarga harus dioptimalisasikan yaitu fungsi psikologisnya, sosiologisnya, fisiologisnya, serta fungsi tarbiyah dan dakwahnya.

Dasar-Dasar Ketahanan Keluarga

  1. Visi dan Misi Hidup yang Benar


Pengetahuan yang dimiliki oleh setiap anggota keluarga tentang visi dan misi hidup akan menjadi dasar ketahanan rumah tangga. Hal itu akan menjadikan mereka lebih mudah mengatasi setiap masalah dan konflik yang terjadi dalam rumah tangga, karena mereka telah mengetahui dan menyadari akan visi dan misi hidup. Bahwa visi dan misi hidup adalah beribadah kepada Allah. Sehingga mereka tidak akan melandasi kehidupan rumah tangganya dengan hawa nafsunya (QS. Adz-Dzariyat : 56).

  1. Komitmen Keislaman yang Kokoh


Komitmen ini akan menjadi antibody dari setiap hal yang mengganggu terhadap soliditas kehidupan rumah tangga. Virus kejahiliyahan apapun yang ingin merongrong dan menghancurkan ketahanan rumah tangga akan mudah diatasi dengan komitmen ini. Rasulullah Saw. dalam menyelesaikan konflik rumah tangganya dengan isteri beliau yaitu Aisyah saat terjadi haditsul ifki (berita bohong) beliau merujuk kepada wahyu yang dengannya masalah beliau menjadi cair dan selesai dengan baik.

  1. Persepsi yang utuh tentang Rumah Tangga


Pengetahuan dari masing-masing anggota keluarga tentang esensi rumah tangga Islami menjadi modal dasar terhadap ketahanan keluarga. Bahwa rumah tangga bukanlah hanya kumpulan dari ayah, ibu dan anak-anak semata. Lebih dari itu keluarga memiliki tugas kolektif untuk merealisasikan nilai-nilai Islam dalam rumah tangganya untuk kemudian ditransfer kepada masyarakatnya.

  1. Keterpaduan dan Kemitraan dalam Rumah Tangga


Allah Swt. berfirman: Isteri-isteri itu pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka”. (QS. Al-Baqarah : 187)

 

Faktor-faktor yang Melemahkan Ketahanan Keluarga

  1. Komitmen keislaman yang rendah


Kekokohan sebuah keluarga sangat ditentukan oleh pengetahuan dan pengamalan keluarga terhadap Islam. Semakin rendah pemahaman dan pengamalan anggota keluarga terhadap Islam maka semakin rapuhlah ketahanan keluarganya.

  1. Arus Kehidupan Jahiliyah


Arus kejahiliyahan yang masuk di bilik-bilik rumah kita lewat media televisi, internet dan semisalnya sangat mempengaruhi terhadap sikap hidup satu keluarga. Apalagi jikalau keluarga tidak memiliki filter yang kuat yaitu pondasi agama. Maka akan menjadi sumber kelemahan bagi keluarga.

  1. Style Kehidupan yang Hedonis dan Permisif


Hedonisme dan permisifme akan menjadi sumber malapetaka keluarga. Hal itu dikarenakan mereka hanya berpikir tentang kenikmatan duniawi dan pemenuhan hawa nafsunya. Dari sinilah pandangan dan sikap harus dibingkai dengan nilai-nilai Islam agar kekayaan yang dimilikinya tidak menjadikannya kalap dengan gemerlap dan keglamoran duniawi.

  1. Arus Infasi Pemikiran yang tidak Terantisifasi


Kejahatan dan kemaksiatan yang terorganisir yang sengaja dibidikkan ke arah keluarga-keluarga muslim inilah yang patut mendapatkan perhatian setiap muslim. Karena selalu ada tangan-tangan yang bermain di balik deharmonisasi keluarga-keluarga Islam yaitu lewat ghazwu al-fikri (infasi pemikiran).

  1. Komunikasi Keluarga yang Minim


Tuntutan ekonomi yang tinggi bisa jadi akan menjadi malapetaka jikalau kemudian setiap keluarga mengalami kemandulan komunikasi. Sedangkan komunikasi adalah cara yang paling efektif dan termurah dalam menyelesaikan masalah. Maka menjalin komunikasi adalah kewajiban bagi pecinta harmoni keluarga.

  1. Lemahnya Pembinaan Keluarga


Membina adalah sikap yang paling bijak agar keluarga kita tetap memiliki ketahanan rumah tangga. Sehingga pembinaan keluarga adalah solusi bagi ketahanan rumah tangga. Meninggalkan hal ini berarti merobohkan sendiri bangunan keluarga.

 

Fungsi Keluarga dalam Perspektif Islam

  1. Fungsi Psikologis


Maksud dari fungsi ini adalahbagaimana kita memperlakukan semua anggota keluarga secara wajar, apa adanya dan mereka mendapatkan kenyamanan serta dukungan untuk berkembang secara psikologis.

  1. Fungsi Sosiologis


Maksudnya adalah bagaimana keluarga harus difungsikan untuk tempat semua anggota keluarga mendapatkan lingkungan yang terbaik dan sekaligus menjadi jembatan interaksi positif di antara mereka.

  1. Fungsi Fisiologis


Fungsi ini memerankan bagaimana agar semua anggota keluarga mendapatkan tempat berteduh yang baik dan nyaman.

  1. Fungsi Tarbiyah dan Dakwah


Maksudnya adalah keluarga merupakan obyek pertama yang harus menerima nilai-nilai dakwah untuk kemudian dijadikan sebagai model keluarga ideal bagi masyarakatnya dan memberikan kontribusi dakwah secara aktif dan maksimal.

 

Maka, di sinilah keluarga akan mendapatkan antibody dari berbagai kejahatan dan kemaksiatan, termasuk perilaku LGBT yang sedang merasuk ke dalam keluarga dan generasi muslim. Insya Allah !

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?