Keteladanan Guru dan Tantangan Era Milenial

Keteladanan Guru dan Tantangan Era Milenial

Dipublish pada 11 April 2019 Pukul 03:17 WIB

1131 Hits

Ujian Nasional Berbasis Komputer tingkat SMA baru saja berakhir. Banyak cerita didalamnya. Mulai dari permasalahan teknis, tingkat kerumitan soal, hingga aksi pendokumentasian soal oleh siswa dan pengawas, yang mana pada UNBK hal tersebut sangat dilarang. Ruangan ujian adalah ruang rahasia. Tidak seorangpun diperbolehkan untuk merekam apa yang ada disitu. Namun, tetap saja kebocoran terjadi. Maka, satu hal yang tidak berubah selama ini adalah masih terdapat mental siswa yang kontraproduktif. Hal ini tidak terlepas dari tantangan berat seorang guru dan sekolah.

Keteladanan Guru

Diksi teladan seakan tak terpisahkan dari seorang guru. Guru laiknya adagiaum klasik, merupakan singkatan dari di gugu (diikuti) dan ditiru, maka nilai keteladanan menjadi begitu urgen bagi seorang guru. Jika merujuk pada Serat Jayengbaya gubahan Ranggawarsita, guru merupakan profesi idaman. Teks sastra yang muncul pada akhir abad sembilan belas itu memberi pemahaman bahwa guru merupakan profesi terhormat. Guru menjadikan orang berada pada kelas priyayi saat itu. Hal ini pun terus berlanjut hingga orde lama dan orde baru.

Menjadi guru ibarat dua mata pisau. Tajam dan tumpul. Tajam jika guru benar-benar menginternalisasi keteladanannya ke dalam diri dan menularkan ke seluruh muridnya. Tumpul jika guru hanya berkutat dengan diktat dan pengajaran, hingga ia lupa dengan tugas utamanya yaitu sebagai sosok teladan.

Maka, tidak heran sering kita temui istilah ‘guru bangsa’ yang merujuk kepada siapa saja individu yang layak dan patut dijadikan teladan bagi seluruh rakyat Indonesia. guru bangsa tidaklah harus individu yang mengajar di kelas, berceramah dari mimbar ke mimbar, ataupun memiliki sederet sertifikat standar profesionalisme guru. Menjadi guru bangsa adalah hak bagi setiap individu yang mampu menjadi teladan dalam setiap tindak tanduk kehidupannya.

Sayangnya, kini diksi ‘teladan’ dengan ‘guru’ seakan jauh panggang dari api. Kita dengan mudahnya menemukan berita maupun kasus perseteruan guru dengan siswa, guru dengan orangtua, maupun sesama guru dengan sekelumit permasalahannya. Lantas, apa yang menyebabkan semua kekacauan ini terjadi?

Kita mafhum bahwa kini guru dituntut untuk menjadi seorang profesional. Yakni, kemampuan mengajarnya ditentukan dari standar sertifikasi yang dibuat oleh pemerintah. Untuk memenuhi semua itu, seorang guru harus melewati begitu banyak persyaratan administratif maupun tes tertulis. Hal ini dilakukan agar hubungan antara kualitas seorang guru berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraannya. Terkadang, melalui sistem ini seorang guru menjadikannya abai terhadap fungsi utamanya seabagai sosok teladan. Berbagai macam cara agar ‘standar profesionalisme’ nya tercapai. Beberapa bahkan tak memperdulikan demoralisasi yang terjadi pada murid-muridnya.

Disisi lain, dengan tantangan zaman yang semakin mengarah kepada digitalisasi, dimana semua kegiatan manusia dipermudah dengan kehadiran gadget maupun teknologi yang berbasis Artificial Inteligence (AI), Big Data, maupun Internet of Things (IoT), para murid menjadi bias dalam menemukan figur yang patut diikuti. Mereka terlena dengan gemerlap dunia maya yang menjelma dalam sosok artis korea, artis hollywood, hingga bollywood. Disamping itu, figur dunia maya menjanjikan keberlimpahan materi yang didapat hanya dengan menggerakkan jari di smartphone maupun joget bebas ala tiktok. Lalu munculah figur seperti vlogger, youtuber, hingga gamer, yang sebetulnya tidak sedikit dari figur tersebut menebar konten maupun komunikasi negatif kepada para subscriber-nya.

Oleh karena itu, harus kita akui bahwa kini peran seorang guru sebagai teladan para murid menjadi berat. Sepatutnya, kita menyusun strategi agar murid bangsa ini terselamatkan secara moral dan intelektual dari godaan zaman digital.

Strategi Keteladanan

Pertama, seorang guru harus memiliki mental seperti apa yang disampaikan Paulo Freire dalam Paedagogy of Freedom, “I am a teacher full of the spirit of hope, in spite of all the signs to the contrary”. Keberhasilan mendidik murid tergantung pada mental seorang guru dalam menangani berbagai masalah yang terjadi pada murid meski seluruh kondisinya bertentangan dengan apa yang diharapkan. Guru wajib bermental baja. Tidak baperan dan fokus pada substansi mendidik.

Kedua, guru harus mengalihkan figur favorit murid dari yang material oriented kepada figur value oriented. Dari youtuber beralih kepada sosok para nabi dan sahabat. Dalam proses ini guru ditantang untuk lebih kreatif dalam menyampaikan nilai-nilai keteladanan dari figur nabi dan sahabat. Bila perlu, kemaslah dengan gaya – gaya khas milenial melalui konten kreatif baik berupa tulisan, gambar maupun video.

Ketiga, guru wajib menginternalisasikan nilai-nilai keteladanan dari para nabi, sahabat, maupun ulama lalu mengaplikasikannya ke dalam kesehariannya. Guru menjadi teladan yang nyata bagi murid. Kapanpun dimanapun seperti adagium  ‘moral is not taught, but caught’.

Keempat, guru beserta seluruh stakeholder masing – masing sekolah, membuat campaign berkelanjutan berkaitan dengan nilai keteladanan tadi, dalam kegiatan yang mampu menarik hari generasi milenial. Guru harus meninggalkan cara lama seperti berceramah atau pun menasehati saat upacara pagi. Guru wajib beradaptasi dengan teknologi yang akrab digunakan oleh generasi milenial.

Setidaknya, keempat strategi diatas, menjadi pemicu semangat bahwa kita semua bisa merubah kekacauan ini. Demoralisasi maupun demotivasi para murid adalah tanggung jawab bersama. Keteladanan guru adalah keniscayaan bagi kebangkitan bangsa, terlebih di era milenial seperti sekarang. (*)

 

 

***

 

Penulis: Irfan Fauzi (Sekretaris PC Pemuda Persis Bekasi Selatan)


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?