Ketika Hati Terluka

Ketika Hati Terluka

Dipublish pada 21 September 2019 Pukul 09:28 WIB

577 Hits

Bagi mereka yang pernah mengalami sakit hati luar biasa akibat dibully, dikhianati, digunjing atau bahkan difitnah. Perlakuan orang itu terhadap kita bukan hanya menyayat-nyayat hati, tetapi sampai membuat harga diri kita terasa jatuh dan muncul stigma negatif dari orang-orang yang ada di lingkaran kita.

Biasanya apa yang kita pikirkan kalau sudah kadung sakit hati dengan perlakuan orang terhadap diri kita? Tentunya muncul keinginan untuk segera membalas dan berontak dari keadaan yang menyakitkan itu.

Kita tak mungkin disukai oleh setiap orang. Tak semua orang juga bisa menerima diri kita apa adanya. Haters (yang membenci) akan selalu ada. Yang jelas, Itu bukan salah kita. Orang lain boleh tak suka pada kita, orang lain boleh tak menerima diri kita apa adanya, tapi kita tak boleh memicu orang lain untuk membully diri kita.

Ketika orang lain menemukan celah membully diri kita, lalu ia melakukannya, hal pertama yang mesti kita lakukan adalah mengkomunikasikan perasaan. Sampaikanlah bahwa perbuatan dia menyakiti dirimu. Jika dia merasa punya power (kekuasaan), dan engkau terlihat lemah di hadapannya, maka langkah selanjutnya adalah melakukan tindakan tegas.

Jangan merasa lemah. Jangan merasa tak bisa menghadapi permasalah yang ada. Tunjukan kekuatanmu. Tunjukan keberanianmu menyelesaikan masalah dengan orang tersebut. Kau mampu berpikir. Kau mampu mengubah keadaannya.

Aku tidak berani, terus harus bagaimana?  Meski harus babak belur, engkau mesti melakukan tindakan tegas. Tak boleh membiarkan orang lain seenaknya berlaku dzalim terhadapmu. Setidaknya engkau komunikasikan kepada orangtua, guru, atau sahabat dekatmu. Yang terpenting, minta perlindungan dan kekuatanlah kepada Allah.

Engkau hanya perlu satu momen untuk mengubah kondisi. Memberi efek jera pada mereka yang melakukan bullying atau menindasmu. Namun tetap dengan cara cara yang tak keluar dari akhlak Islam. Adapun jika engkau disakiti dalam bentuk verbal, misalnya dengan hinaan dan ejekan para haters (orang-orang yang benci padamu). Maka berdamailah dengan pikiranmu.

Engkau hanya akan sakit hati yang teramat dalam, jika engkau mengiyakan perkataan orang itu (accepted). Namun ketika engkau melakukan mental block (pikiranmu menolak apa yang dikatakan orang itu), maka serangan verbal itu tak akan terlalu menyakiti dan membebani pikiranmu.

Sadarkan dirimu, bahwa kemuliaan itu hanya dibangun dengan ketaqwaan kepada Allah saja. Andai pun kita dihina, itu tak akan menurunkan derajat martabat kita dihadapan Allah. Tetap sabar dan berpikir jernih ketika banyak orang meremehkan dirimu.

Hal yang bisa membungkam perilaku menyakitkan dari mereka diantaranya adalah dengan pembuktian. Buktikan apa yang engkau perjuangkan itu tak sesuai dengan perkataan mereka. Tunjukan keindahan akhlak Islam. Tapi di sisi lain, jangan juga terjebak dalam dendam kesumat.

Jangan bersedih pula jika semua kebaikan diri kita tak pernah dianggap orang. Bukankah kita tak memerlukan pujian dari manusia? Kadang pujian manusia lebih mematikan, ketimbang dihina. Dipuji puji seringkali jadi lupa diri. Dihina sering kali membangkitkan kesadaran kita akan hal-hal yang mesti kita perbaiki, dan rasa sakitnya bisa mendekatkan diri kita kepada Allah.

Mereka yang membenci dirimu, begitu detail memperhatikan segala kekuranganmu, melebihi dirimu sendiri. Jadi, di sisi lain ia juga berjasa memberitahu mu aspek mana saja yang mesti engkau perbaiki.

Pahami juga,  bahwa di dunia ini pasti ada orang yang mengasihi dan menyayangimu. Tak mungkin engkau diperlakukan seperti binatang oleh semua orang. Lihatlah sekali lagi, bahwa ayah ibu dan keluargamu pada hakikiatnya benar-benar menyayangi dirimu dengan gaya khas mereka. Lihat sekali lagi kenyataan yang lain. Masih ada yang lebih menderita dari dirimu. Masih ada orang yang parah sakitnya, dibanding rasa sakit hatimu itu. Jadi, bertahanlah dan bersabarlah.

Ubah rasa sakit hatimu itu jadi sebuah energi untuk bangkit dan melakukan perubahan terbaik. Caranya dengan abraksi pikiran. Ini telah Allah jelaskan dalam Al-Quran, yaitu dengan memaafkan orang dan mengendalikan kemarahan diri atas segala perlakuan menyakitkan selama ini. Yakinlah, Allah akan memujudkan mimpi dan cita cita luhur yang kau doakan selama ini.

Semua kebaikan yang kau lakukan. Semua ikhtiar yang kau jalankan.  Semua nilai-nilai kebaikan mu pada orang lain itu pasti akan berbalas. Pasti akan membawa kebaikan lagi kepada dirimu, meski dalam wujud dan setting yang berbeda.

Juga sebaliknya, jika kita memilih untuk membabi buta karena tidak mampu memaafkan dan mengendalikan amarah, maka kita akan kehilangan kejernihan berpikir. Jika pikiran mulai error, maka tindakan yang diambil bisa konyol. Yang ada, malah menambah penderitaan dan sakit hati yang tak berujung. Masalah semakin memburuk, dirimu semakin tak karuan arah.

Jadi, leburlah rasa sakit hatimu itu dengan memaafkan dan mengendalikan amarah. Ia akan menjadi kekuatan seizin Allah. Allah akan memberikan hidayahnya untuk mu menemukan solusi terbaik. Di sisi lain, kau akan tumbuh jadi lebih kuat, mandiri, dan dewasa dalam pemikiran. Disakiti pada akhirnya membuat dirimu jadi lebih kuat dari sebelumnya. Dan menjadi nilai ketaqwaan di hadapan Allah .

 

 

***

Penulis: Taufik Ginanjar


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?