KH. Abdul Latief Muchtar Ulama "Gibol"

KH. Abdul Latief Muchtar Ulama "Gibol"

Dipublish pada 09 Juni 2021 Pukul 10:03 WIB

870 Hits

KH. Abdul Latief Muchtar Ulama "Gibol"

Oleh: Arip Rahman

Kiai Latief Muchtar, Gus Dur, dan Gus Mus adalah di antara para kiai yang hobi sepak bola. Semasa mereka kuliah di Al-Azhar, Mesir, ketiganya seringkali bermain sepak bola bersama klub mahasiswa Indonesia. Allahuyarham Kiai Latief bahkan tercatat bukan hanya gemar bermain sepakbola, tetapi mengamati, menganalisis, dan mendeskripsikan secara mendalam hal-hal di sekitar sepak bola. 

Sebagaimana judul tulisan di atas, Gus Dur merupakan ulama gibol (gila bola), begitu pula Kiai Latief. Beliau sangat mengidolakan AC Milan serta sangat fanatik terhadap kesebelasan Persib yang berpusat di Bandung, kota sama dengan keberadaan kantor PP PERSIS yang dipimpinnya saat itu. Pengalaman penulis sendiri yang sering diminta oleh almarhum Kiai Latief untuk memijatnya, dan dilakukan sambil menonton sepak bola yang disiarkan televisi nasional.

Ketiga anaknya sering dibawa ke stadion Persib dan stadion Senayan, Jakarta. Satu waktu, setelah melakukan kunjungan muhibah dakwah ke Bali bersama almarhum Kiai Shiddiq Amien, Kiai Latief menelepon anak-anaknya agar bertemu di Jakarta dan berpesan dibelikan kaos Pangeran Biru untuk menonton pertandingan semifinal skuad kebanggaan kota kembang, Persib Bandung. Ketika itu, Kiai Latief kembali ke Jakarta, sedangkan Kiai Shiddiq Amien pulang ke Tasikmalaya.

Saat menonton sepak bola di stadion Siliwangi, Bandung, Kiai Latief pernah diteriaki oleh sesama pendukung Persib supaya duduk, “diuk, diuk, diuk!”. Jawaban Allahuyarham kepada penonton yang meneriakinya tersebut, “Aing rek diuk lamun nu dihareup diuk, 'saya akan duduk kalau penonton di depan duduk juga'." kenang putra bungsunya, Dr. Ihsan S. Latief, yang saat ini aktif sebagai Warek II Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UNIPI Bandung. Bahkan satu hari, Kiai Latief pernah kecurian kacamata dan bungkusnya saat antre beli tiket sepak bola di stadion Siliwangi, Bandung.

Kebiasaannya ketika menyaksikan sepakbola adalah tidak pernah membeli tiket VIP, tetapi dia lebih senang memilih tribun utara atau selatan stadion yang harga tiket per orang hanya tiga ribu rupiah saat itu. Selain ekonomis, alasan beliau memilih kelas rakyat adalah supaya dapat berinteraksi dengan sesama bobotoh Persib secara langsung. Sehingga, ia merasakan aroma kebersamaan dan sportivitas dengan penonton biasa. 

Menurut Dr. Ihsan, ayahnya sangat terkesan dalam sepak bola karena terdapat filosofi teamwork atau kerja sama yang baik sesama pemain, sehingga menghasilkan goal atau tujuan. 

Filosofi teamwork dalam sepak bola tersebut ia bawa dalam memanajemeni ormas Islam terbesar ketiga di Indonesia setelah NU dan Muhammadiyah, PERSIS. Keterampilan untuk dapat bekerja sama di dalam jam’iyah adalah salah satu soft skill yang harus dimiliki oleh anggota PERSIS. Sehingga, berjamiyah akan lebih harmonis dan membuat suasana anggota dan jamaah yang lebih kondusif.

Kiai Latief banyak mendapatkan ide melalui sepak bola. Walaupun memang ada jama’ahnya yang lebih nyaman untuk berjamiyah secara fardiah, namun ada saatnya mereka akan memilih teamwork sesuai dengan moto jam’iyah Yadullahi Fauqa Aidihim 'kekuasaan Tuhan bersama jama’ah'. Karena dalam berjama’ah, kita dapat saling mengandalkan dan menguatkan satu sama lain, serta mendorong rasa kepemilikan anggota dan jamaah terhadap wadahnya secara lebih luas. 

Selain itu, dalam kerja sama memotivasi pengambilan resiko yang lebih sehat. Berjamaah adalah kekuatan utama dalam konsep teamwork. Seorang anggota jam’iyah yang hanya mengerjakan dakwah secara fardiah kemungkinan besar tidak akan memaksakan dirinya untuk dapat memberikan ide yang luar biasa, termasuk dalam jam’iyah Persatuan Islam.

Peningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan masalah dakwah pasti akan terjadi saat kita mampu mengumpulkan beragam karakter anggota jamiyah. Saat terjadi konflik dalam jamiah, misalnya, setiap anggota akan dipaksa untuk bisa menyelesaikan konflik tersebut. Dalam hal ini, pimpinan ormas harus mampu mempelajari manajemen penyelesaian konflik yang baik untuk dapat diaplikasikan dalam kondisi tersebut.

Penulis sendiri melihat Kiai Latief Muchtar yang dikenal sebagai ulama “Gibol” –seperti adik kelasnya saat di Mesir, Mantan Presiden RI Keempat, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur—memiliki beberapa kemampuan karakter pemimpin yang mungkin diambil dari filosofi sepak bola. 

Karakter pemimpin yang ada pada diri almarhum Kiai Latief antara lain: kemampuan komunikasi dengan jama’ah, rasa tanggung jawab yang tinggi baik untuk jama’ah maupun organisasinya, kejujuran antar rekan berjam’iyah, senang mendengarkan dengan baik, empati terhadap anggota yang terbukti dengan banyaknya jama’ah PERSIS yang sering meminta pinjaman uang kepadanya.

Prinsif paling penting dalam sepak bola adalah terjadinya teamwork, dan menurut Kiai Latief, dalam berjam’iyah juga harus terjadi teamwork, berkolaborasi ide, dan tidak boleh egois. Ketawadhuan atau rendah hati dan tidak memiliki perasaan yang paling faqih di antara jajaran pengurus PERSIS, serta saling menghargai diperlukan untuk melahirkan teamwork yang baik dalam jam’iyah. Semangat teamwork bisa hidup secara bersosialisasi dengan umat lainnya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan dalam berjuang.

Penulis sendiri menjadi saksi kegibolan Kiai Latief Muchtar yang selalu mendukung Persib Bandung untuk klub lokal dan AC Milan untuk tim Eropa. Kami berkesempatan membersamai Kiai Latief ke Jakarta, pada saat itu ia menemui temannya yang pernah sekolah bersama di Mesir untuk menitipkan keponakannya yang akan menjadi mahasiswa di negeri Kinanah.

Tanggal 4 Juni 1994, setelah ia menghadiri pertemuan dengan para tokoh PPP di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang membahas persoalan politik umat dan kebangsaan, sore harinya kami ke stadion Senayan untuk menyaksikan pertandingan Persib Bandung melawan AC Milan langsung di bangku terdepan stadion kelas ekonomi. 

Pada saat itu, sebagai kampiun kompetisi Perserikatan 1993-1994, Persib Bandung mendapat kesempatan langka untuk menjajal kekuatan salah satu raksasa sepak bola Italia dan Eropa, AC Milan yang saat itu terkenal dengan The Dream Team. AC Milan berkunjung ke Indonesia dengan status sebagai juara Liga Champions 1993-1994.

Tim I Rossoneri (julukan AC Milan) itu memang tidak memboyong sejumlah pemain bintangnya ke Jakarta lantaran masuk ke skuad timnas Italia yang berlaga di Piala Dunia 1994. Di antara pemain AC Milan yang datang di antaranya adalah Franco Baresi, Alessandro Costacurta, Daniele Massaro, Mauro Tassotti, Demetrio Albertini, Paolo Maldini, Marco van Basten, Florin Raducioiu, Brian Laudrup, dan Stefano Eranio. Sementara Ruud Gullit pada saat itu sedang dipinjamkan ke Sampdoria.

Meskipun demikian, animo Kiai Latief untuk menyaksikan laga Persib vs AC Milan tetap tinggi. Kala itu, Milan dikenal sebagai tim bertabur bintang termasuk bomber asal Prancis, Jean-Pierre Papin dan Marcel Desailly, berhasil mencukur bersih Persib Bandung 8-0. 

Dalam perjalanan pulang ke Bandung setelah menyaksikan dua tim kesayangan bertanding, Kiai Latief mengatakan bahwa kesalahan Persib adalah terlalu banyak bertahan padahal pertahanan yang sebenarnya dalam sepakbola adalah menyerang dengan tidak membiarkan pertahanan lengah. Di samping itu, teamwork Persib tidak berjalan mulus.

Penulis menganalogikan filosofi Kiai Latief tersebut dengan perjuangan dakwah melalui ormas Islam, kurangnya teamwork juga terjadi antar sesama anggota jamiyah. Bahkan, kekompakan sesama teamwork ormas Islam di Nusantara sangat kurang sekali karena hanya memikirkan organisasinya sendiri. Padahal, apabila potensi umat Islam bersinergi dan bekerja sama, terutama para pemimpinnya lebih mengutamakan kemajuan dakwah dalam bingkai ukhuwah Islamiah tanpa mengenyampingkan ukhuwah basyariah dan ukhuwah wathaniah, pasti kita akan mampu menghadapi beragam serangan balik musuh umat Islam.



Qabla Ashar, 7 Juni 2021


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?