Majalah Iber, Warisan Terakhir Ustad Emon

Majalah Iber, Warisan Terakhir Ustad Emon

Dipublish pada 28 Maret 2019 Pukul 02:43 WIB

660 Hits

Harimau Mati Meninggalkan Belang, Ustad Wafat Mengalirkan Jariyah, saya kira pepatah itu tepat jika ditujukan kepada Ustad Emon Sastranegara. Allohuyarham yang baru saja wafat meninggalkan kita pada hari Senin, 25 Februari 2019 Pukul 01.15 di Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung. Beliau adalah tokoh Persis yang juga pengelola setia  Majalah Sunda Iber.

Sejarah mencatat, salah satu peran yang menonjol dalam dakwah Persis adalah dakwah melalui tulisan dengan menerbitkan banyak buku-buku dan majalah-majalah. Sejak awal berdirinya, Persis telah menerbitkan beberapa majalah, di antaranya majalah Pembela Islam (1929), majalah Al-Fatwa (1931), majalah Al-Lissan (1935), majalah At-Taqwa (1937), majalah berkala Al-Hikam (1939), majalah Aliran Islam (1948), majalah Risalah (1962), majalah Pemuda Persis Tamaddun (1970), Majalah berbahasa Sunda Iber (1967), dan berbagai majalah ataupun siaran publikasi yang diterbitkan di cabang-cabang Persis. Sampai saat ini majalah yang masih bertahan terbit adalah majalah Risalah serta beberapa majalah dan siaran publikasi di beberapa cabang Persis. Penerbitan inilah yang menyebabkan luasnya daerah penyebaran pemikiran Persis. Lagi pula penerbitan buku-buku dan majalah-majalah ini sering dijadikan referensi, baik oleh para da'i maupun organisasi-organisasi ke-Islaman lainnya.

Majalah Iber sebagai majalah dakwah berbahasa Sunda, pertama kali diterbitkan oleh Pimpinan Cabang Persis Kota Bandung, pada bulan Agustus 1967, yang dipelopori oleh Ustad K.H.E. Abdullah. Ustad Emon Sastranegara semasa hidupnya,  memberi penjelasan bahwa Iber berarti berita atau pemberitahuan. Iber hanya memberitakan yang benar, utamanya berita dari Al Quran dan Sunnah.  Sebagai media dakwah, Iber  memiliki visi yang dapat dilihat dengan mudah  dari cover depan, dengan huruf kecil, yang berbunyi: Siaran Persatuan Islam Majalah Dakwah Bahasa Sunda  dengan  jargon: Basana Moal Basi.

Sebagai “Siaran Persatuan Islam”, menunjukkan bahwa Iber membawa visi dan misi dakwah dari organisasi Persatuan Islam yang berorientasi pada penyebaran Al-Quran dan Sunnah. Kemudian jargon Basana Moal Basi seolah ingin menegaskan  kepada para pembacanya, bahwa bahasa, kajian, isi, dan substansi yang ada di dalam majalah itu tidak dibatasi  oleh waktu dan tanggal penerbitan. Tentu saja, karena topik  bahasannya berdasarkan pada kajian Al-Quran dan Sunnah yang abadi sepanjang zaman. Di sinilah, Iber memiliki misi yang luhur dan mulia, yakni mengajak masyarakat luas---utamanya masyarakat Sunda---agar dapat melakukan kebijakan (khaer), dapat  memerintah yang maruf, dan mencegah yang munkar. Meskipun pembahasannya telah melewati ruang dan waktu---ketika terbit---tetapi isinya dapat dipetik di masa depan bahkan di hari akhir. Dalam brosur promosinya tertulis: Iber, ngandung harti beja. Kangaranan manusa, sok pasti aya pohona. Ari poho, sok ngabalukarkeun salah. Mun ningali nu poho, urang kudu sili bejaan. Tangtu teu sagala rupa jeung sagawayah nu dibejakeun. Iber ngan ngabejakeun beja-beja nu bener, utamina beja tina Al-Quran & Sunnah. Ku jalaran kitu, insya Allah, basa Iber moal bari. Sok sanajan bahasanana geus kaliwat, tapi eusina bisa lumangsung keur mangsa hareup. Jaga dina poe kiamat.

Sebagai media dakwah jamiyyah, Iber dikelola oleh para aktivis Persis. Memang pada awalnya,  Iber diterbitkan sebagai media dakwah bagi para anggota dan simpatisan Persis yang paling banyak tersebar di tatar Sunda. Majalah Iber dikelola pertama kali oleh Ustad Abdullah. Pada Iber No. 177 yang terbit pada tanggal 27 bulan Djulhijjah 1402 H (15 Oktober 1982)  dapat dilihat susunan redaksinya. Dalam majalah itu, tertulis  Ais Pangampih (Pimpinan Umum) al-Ustadz KHE. Abdullah (alm) yang memegang rubrik tetap Tafsir dan Istifta ditambah dengan Mudrodat. Kemudian al-Ustadz K.H.M. Syarif Sukandi (alm). Lalu rubrik Tamaddun yang selalu diisi  oleh tulisan-tulisan segar  dari al-Ustadz Marzdedeq, ditambah tulisan para ustadz lainnya, seperti  al-Ustadz KH. Ahyar Syuhada, Drs. Saefuddin, HMI Sudibja, Usman Shalehuddin, dan tidak kalah pentingnya penata gambar tangan yang cekatan oleh Ustadz Abdul Kodir dari Nanjung, Kabupaten Bandung Barat.

Majalah Iber, meskipun sederhana, tetapi memiliki isi yang memikat, bahasa yang mudah difahami, dan kajian yang mendalam. Sejak wafatnya Ustad Abdullah pada tahun 1994, Iber tetap terbit oleh generasi berikutnya yang ingin berjihad dakwah melalui pena. Genteng-genteng oge teu kungsi pegat; walaupun pernah kritis tetapi tidak pernah putus,  Iber tetap setia melayani para pembaca fanatiknya. Iber lalu dikelola oleh cabang-cabang Persis yang ada di kota Bandung. Sejak tahun 1991, pengelolaan  Iber berada di bawah tanggung jawab Pimpinan  Daerah Persatuan Islam Kota Bandung dengan Susunan redaksi sebagai berikut: Pupuhu merangkap Girang Rumpaka: KHE. Abdullah; Staf Rumpaka: H. Emon Sastranegara, K.E. Nasrullah, AD EL. Marzdedeq, Dedy Rahman; Juru Titen: HE. Mansyur ZM; Khath: Rahmat Najieb, dengan alamat redaksi di Jalan Astanaanyar 53/21 Bandung. Selama lebih dari sepuluh tahun, Iber berada di bawah tanggung jawab Pimpinan Daerah Persis Kota Bandung. Untuk memperluas wilayah persebaran dakwah, mulai tahun 2001, pengelolaan  Iber menjadi tanggung jawab Pimpinan Wilayah Persatuan Islam Jawa Barat dengan Susunan redaksi sebagai berikut: Panaratas: KHE. Abdullah (1967-1994); Pupuhu: Pimpinan Wilayah Persis Jawa Barat; Girang Rumpaka: H. Emon Sastranegara; Wakil Girang Rumpaka: H. SZ Rustaman Luqman KS; Rumpaka: KHA. Syuhada, AD. El. Marzdedeq, KH. Abdurrahman KS, KH. Rahmat Najieb; Litbang: H. Yusuf Badri; Girang Serat: H. Sayub Sayidin; Juru Duum: Hj. Emma, Agus, Neng; Juru Warta: A. Saeful Azis; Juru Pair: HE. Manshur Zainal Muttaqin. Alamat Redaksi: Jl.Astana Anyar 53/21 Kompleks Sarana Terpadu Ar-Risalah, Bandung.

Konten Majalah

Untuk sekedar contoh, dapat dikemukakan profil dan konten majalah Iber bernomor 526/Taun 44/19 Dzulhijjah 1432 H/15 Nopember 2011 M. Iber terbit sebulan sekali setiap tanggal 15. Iber Nomor 526 menandakan majalah ini telah terbit 526 kali. Taun 44, menandakan Iber telah menginjak usia 44 tahun. Di cover majalah, tertulis:  Iber dengan huruf agak besar yang terlihat menonjol dan diberi warna merah. Di atas huruf e dan r tertulis dengan huruf yang lebih kecil: basana moal basi. Dan di bawah tulisan Iber, tertulis: Siaran Persatuan Islam Majalah Dawah Basa Sunda. Untuk menarik minat pembaca, di cover depan yang berlatar belakang foto jembatan. Saya tidak memahami latar belakang foto jembatan yang ditampilkan di cover depan karena tidak ada penjelasan dan tidak ada pembahasan tentang foto tersebut. Memang biasanya, pemilihan foto untuk latar belakang cover sering kali tidak menggambarkan isi majalah, kemungkinan hanya kreativitas redaksi. Redaksi beralasan, gambar cover tidak terlalu penting, karena yang dijual Iber bukan gambar, tapi isi.

Kemudian ditampilkan empat judul topik bahasan yang dimuat pada majalah ini, yakni: Hukum Kopi Luwak;  Tujuh Rupa Dosa Gede; Qurban Asal Tina Impian; dan Mujizat Al-Quran (4) dengan tambahan info; Seratan Pileuleuyan ti al-Ustadz KH SZ Rustaman Luqman. Ustad Rustaman Luqman adalah Wakil Girang Rumpaka Iber yang juga penasihat Pimpinan Daerah Persis Kota Bandung, beliau wafat pada tanggal 29 Oktober 2011. Ditampilkan pula foto ustad Rustaman Luqman. Di balik cover depan, satu halaman penuh ditampilkan ucapan  belasungkawa dari Pimpinan Pusat Persatuan Islam atas wafatnya Ustad Rustaman Luqman. Di cover itu tertulis: Sakumna rengrengan Pimpinan Pusat Persatuan Islam & sadaya Bagian Otonomna, Majalah Iber & Risalah, ngahaturkeun taziyah ku pupusna  Al-Ustadz KH SZ Rustaman Luqman (65 taun), di Bandung, Saptu 2 Dzulhijjah 1432 H/29 Oktober 2011; dikurebkeun di Pekuburan Astanaanyar, Bandung dinten eta keneh. Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wafu anhu wa akrim nuzulahu wa wasi madkhalahu. Amin ya mujibassailin.

Di bagian awal majalah, rubrik Intisari menjadi pembuka sajian di halaman 3---karena Iber menetapkan cover luar dan cover dalam sebagai halaman 1 dan 2. Intisari dalam terbitan ini membahas mengenai kurban, dengan judul: Qurban Asal Tina Impian. Di bawah Intisari, ditampilkan susunan redaksi Majalah Iber.  Rubrik Intisari disebut oleh redaksi sebagai ruhnya Iber. Rubrik Intisari, disambung oleh rubrik Baca (Balaka tinu Maca) yang mengambil ruang dua halaman, untuk menampilkan pesan singkat (sms) pembaca  beserta jawaban redaksi, serta tulisan berupa surat pembaca.

Setelah Intisari dan Baca dimulailah pembahasan topik inti, diawali dengan rubrik Rohangan Tafsir yang  diasuh oleh KH. M. Abdurrahman Ks. yang membahas Tafsir Surat Al-Maidah 1-3 dengan judul Bulan Haram jeung Masjidil Haram. Lalu Rohangan Hadis oleh H. Emon Sastranegara yang mengangkat materi Tujuh Rupa Dosa Gede, dilanjutkan rubrik Elmu Hadis, oleh Drs. KH. Ahmad Daerobby M.Ag dengan judul Sifat Sanad alias Wangunan Riwayat; berikutnya Bina Akhlak oleh  H.M. Sayub Sayidin dengan topik Allah Maha Pinuji.

Salah satu bahasan yang menjadi ciri khas majalah Persis adalah pembahasan soal jawab masalah-masalah keagamaan. Soal jawab ini telah muncul sejak jaman Majalah Pembela Islam (1929). Di majalah Iber, soal jawab ditampilkan pada ruang Istifta. Di ruang ini, ditampilkan tiga pertanyaan dari pembaca, yakni Hukum Kopi Luwak---yang juga ditampilkan judulnya di cover  majalah---Qodoan dina Sasih Rajab;  dan Fidyah Dicicil. Pertanyaan pembaca dan jawaban redaksi ditampilkan sangat singkat. Untuk tiga pertanyaan dan jawabannya hanya memerlukan satu halaman saja. Misalnya dalam judul Hukum Kopi Luwak. Tanya: Kumaha hukumna tai careuh/luwak anu ngaluarkeun kopi (kopi luwak)? Dengan identitas penanya ditulis: PC. Persistri Cingambul via Pa Abad S. Jawab: Tai Luwak kawas endog anu kaluar tina bujur hayam, kapanan teu disebut kotoran hayam. Pertanyaan berikutnya dengan judul Qodoan dina Sasih Rajab. Tanya: Kumaha hukumna  qodho shaum dina sasih Rajab? Jawab: Qodho dilaksanakeun dina bulan salian ti Ramadhan, kalebet Rajab. Sakumaha pidawuh Allah SWT dina Al-Quran: Jeung sing saha nu gering atawa di panyabaan, nya (wajib manehna puasa) sababaraha poe (nu ditinggalkeun) dina poe-poe liana (Q.S 2:185). Terakhir mengenai Fidyah Dicicil. Tanya: Sim kuring teu puasa, saur dina katerangan agama, upami teu aya kamampuhan puasa tapi digentosan ku fidyah upami leres-leres aya alesan anu kiat, upamina tos pikun, naha mayarna kedah sakaligus atanapi tiasa dicicil. HMB. Majalengka. Jawab: Teu janten masalah fidyah bade dicicil atanapi dibayar sakaligus, margi agama henteu nangtoskeun iraha-irahana. Firman Allah: Jeung pikeun jalma-jalma anu kuat puasa tapi ripuh (lamun tea mah teu puasa) diwajibkeun mayar fidyah, nyaeta mere dahar hiji jalma miskin (saban poe) (QS 2:184).    

Rubrik berikutnya adalah Atikan yang diasuh oleh Drs. H. Abad Suryawirawan, yang dalam terbitan ini membahas Kakaren Lebaran. Berikutnya  Rohangan Aqidah, yang diasuh oleh Ustad KH. SZ. Rustaman Luqman. Rohangan Aqidah  pada terbitan ini membahas Mujizat Al-Quran yang merupakan tulisan keempat sekaligus tulisan terakhir almarhum.

Rubrik-rubrik selanjutnya lebih bernuansa informasi bagi para anggota dan simpatisan Persis. Mulai dari rubrik Akhbar, yang menampilkan tulisan berjudul Zakat, Ubar Kasakit Nagara; lalu rubrik Wawasan yang diasuh oleh H. Ekik Barkah, yang menampilkan tulisan Bilatung Warung. Ditambah rubrik Eunteung yang menyajikan cerita Joha Jeung Kalde. Rubrik berikutnya adalah Akhbar Jamiyyah yang mewartakan Bakti Sosial Pimpinan Daerah Persistri Majalengka; Rohangan An-Nisa yang mengetengahkan tulisan Hayang Untung Tina Enteng oleh Atin Prihatini; dan rubrik Rohangan Haji yang memberi informasi mengenai haji.

Pada bagian akhir, ditampilkan setengah halaman rubrik Bahasa Jawa, mengenai Sholat yang disajikan dalam bahasa Jawa. Ada pula ruang Emutaneun Urang yang memberi ruang bagi para pembaca untuk berinfak bagi para ustad yang bertugas di luar Jawa. Majalah Iber ditutup dengan rubrik Uswah, yang menampilkan H. Sahwanoedin Djojoprajitno (Saurang tokoh ti tungtung Pulo Jawa Madura).

Menilik isi Majalah Iber, tentu lebih banyak menampilkan masalah-masalah keagamaan dengan kondisi kekinian. Namun, sebagai majalah sebuah organisasi Islam, informasi tentang berbagai aktivitas Persis, juga ditampilkan pada beberapa rubrik khusus.

 

Terbitkan Kembali Majalah Iber

Saat ini, Majalah Iber tidak lagi terbit. Awalnya, Iber terbit  sangat sederhana, sesederhana para pengelolanya tetapi tentu tidak sederhana untuk isinya. Letahun yang lalu, Iber lahir dalam bentuk majalah stensilan hasil raneo yang diputar dengan tangan. Seiring dengan   perkembangan zaman, Iber terbit dengan desain yang cukup baik. Penerbitan Iber, tentu tidak dapat dilihat dari kesederhanaan cover, tata letak, dan hasil cetakannya, tetapi lebih jauh pada nilai isi yang diwartakannya.  Para muballigh  dan muballighat Persis, dari generasi ke generasi, terpenuhi hajatnya terhadap bahan-bahan dakwah yang disajikan di majalah Iber. Mereka menyampaikan pesan-pesan dakwah, berbicara dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Quran dan Hadis yang disajikan dari sebuah majalah yang tampil sederhana dengan harga yang sangat murah.

Sejak terbit No. 1 di bulan Agustus 1967 sampai dengan edisi terakhir, Iber hanya dicetak antara 1500 sampai 3000 eksemplar.  Pernah diterbitkan lebih dari 3000 eksemplar, namun  seperti falsafah pohon yang bisa rimbun daunnya karena jasa daun tua yang jatuh dijadikan pupuk alami, oplah sebesar itu tidak bertahan lama, karena peribahasa: genah maca teu genah mayar. Padahal seharusnya: resep maca resep mayar”. Majalah Iber saat ini dicetak sekitar 2.700 eksemplar setiap bulan,  dengan harga jual (infaq) saat ini Rp. 7.000. Majalah dengan harga jual berlabel infaq yang sangat murah, tentu berdampak pada biaya operasional dan honorarium penulis yang tidak besar. Untuk honor penulis masih amat rendah antara Rp 20.000 sampai Rp 60.000 sedangkan pegawai tetap diberi honor Rp 50.000 per bulan. Iklan yang dimuat juga dihargai saridona diserahkan kepada pemasang iklan. Itulah ciri khas majalah dakwah yang tidak mengejar oplah, tetapi mengejar tujuan mulia yang lebih besar yakni syiar Islam.

Majalah Iber yang kini tiada, nampakmya perlu dihidupkan kembali untuk mengalirkan amal jariyah dari para pendahulu kita. Karena itulah, ke depan Iber perlu melakukan penataan dalam berbagai hal:

Pertama, Iber dapat lebih memberikan nuansa syiar keagamaan  yang mencerahkan dan mencerdaskan, tidak hanya bagi jamaah Persis tetapi juga bagi kaum muslimin di tatar Sunda. Pembatasan  siaran Persatuan Islam dapat diartikan luas, bukan hanya untuk jamaah organisasi Persatuan Islam, tetapi menjadi media yang mempersatukan umat Islam.  

Kedua, harus diakui, dari sisi konten, pada umumnya masyarakat Sunda dewasa ini  kurang tertarik membaca media berbahasa Sunda,  karena dianggap tidak sesuai dengan selera masyarakat yang berkembang dinamis. Karena itulah, diperlukan inovasi baru untuk menyuguhkan media berbahasa Sunda yang memadukan antara konten yang mendidik, menghibur, dan menarik untuk dibaca oleh setiap generasi.

Ketiga, seiring dengan kemerdekaan media massa atau kebebasan pers, sesungguhnya Iber dapat memberi warna yang menyejukkan  sebagai wahana penyedia informasi, pengembang syiar Islam, dan penyejuk kalbu. Iber  dapat tampil paling depan mengembangkan pendidikan karakter Islami berdasarkan kultur kesundaan, ditambah dalil yang tepat dan tafsir yang akurat berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, menjadi nilai lebih untuk mendidik masyarakat Sunda yang religius, membina nilai-nilai luhur, akhlak mulia, dan karakter bangsa sekaligus memelihara  jati diri kesundaan.

Keempat, dari sisi perwajahan, konten, dan bahasa diperlukan perubahan artistik yang menarik pembaca untuk menoleh dan membaca Iber;  konten yang aktual dengan muatan dakwah yang disajikan dengan tambahan isu-isu kekinian; serta disuguhkan dengan sajian bahasa Sunda yang mudah difahami,  sehingga mudah dicerna oleh pembaca khususnya generasi muda.

Kelima, perlu regenerasi penulis, mengingat para penulis Iber  sebagian sudah tiada, kalaupun ada sudah berusia senja. Inovasi baru dari para penulis muda dengan bimbingan para penulis senior, akan membawa nuansa baru pada isi majalah.

Keenam, pentingnya rasa kepemilikan dari pembaca dan pelestari budaya Sunda untuk mendukung eksistensi Iber ke depan dengan mengubah gaya manajerial yang alakadarna; genteng-genteng ulah potong dengan manajemen yang lebih maju.

Apapun yang terjadi, Majalah Iber yang hampir 50 tahun tahun terbit, merupakan prestasi yang luar biasa. Majalah Iber dapat terbit hampir 50 tahun dengan  hanya mengandalkan motivasi dan idealisme dari para pengasuhnya untuk menyebarkan dakwah Islam.  Ruh kecintaan pada Islam, melebihi kebutuhan akan materi. Falsafah sederhana dari redaksi: sebenarnya tiada manusia yang merugi, sebab kerugian itu hakikatnya adalah keuntungan yang tertunda. Hanya masalahnya, banyak manusia yang tidak sabaran menunggu itu semua.

Pendiri majalah ini, Ustadz KHE Abdullah telah tiada, Pengelolanya yang sabar dan setia, Ustad Emon, juga telah pergi. Karenanya Majalah Iber harus lahir kembali. H. Emon Sastranegara, Girang Rumpaka Iber berandai-andai: Andaikan Al-Ustadz Abdullah masih hidup dan berada ditengah-tengah kita sekarang ini, beliau tidak akan kecewa, bahkan bangga  melihat Iber masih tetap eksis, dan mungkin beliau berkata: Teruskeun anaking, Iber ulah pegat, sing jadi shadaqah jariyah.

Insya Allah.

 

 

***

Penulis: Dadan Wildan Anas


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?