Marhaban Yaa Ramadhan 1438 Hijriyyah

Dipublish pada 03 Mei 2017 Pukul 02:25 WIB

992 Hits

Tamu itu akhirnya kembali tiba. Dia menyapa setiap hamba yang siap, siap menyambutnya, siap menyapanya, dan siap menemaninya hingga akhir.

Kehadirannya membawa sejumlah berkah bagi umat manusia, tidak hanya kaum muslimin tetapi juga mereka yang tidak menganut ajaran Islam pun dapat ikut merasakan keistimewaan dan keuntungan kedatangannya. Dialah bulan Ramadan.

Keberkahan bulan Ramadan tidak hanya terdapat dalam satu aspek, keberagamaan (religiusitas dan spiritualitas). Akan tetapi dia memberikan nilai positif dalam tatanan sosial masyarakat secara umum. Misalnya, dari aspek ekonomi, entah berapa milyar uang yang berputar di masyarakat selama bulan suci tersebut. Aktivitas perekonomian meningkat dari hari pertama. Bahkan terus mananjak hingga menjelang akhir ramadan.

Sementara itu, dari aspek sosial lainnya pun memiliki hal yang sama. Kepekaan terhadap kaum dhuafa, anak yatim, dan kelompok sosial lainnya mengalami peningkatan. Keistimewaan-keistimewaan bulan Ramadan berhasil “menghipnotis” masyarakat kita untuk lebih bersimpati dan empati kepada sesama.

Sudah lebih dari seribu empat ratus kali tamu tersebut datang menghampiri umat manusia (QS. 2 : 183). Zaman berganti zaman dan generasi berganti generasi, namun dia tetap tidak berhenti menyapa setiap pengisi bumi dan tidak bosan pula berbagi keistimewaannya dengan hamba-hamba Allah yang taat dan patuh pada setiap aturan-Nya.

Apabila dia tetap konsisten dengan sifat dan cirinya sebagai tamu yang mulia dan diberkahi, lantas bagaimana dengan umat manusia yang menyapa dan menyambutnya?

Dalam sebuah kesempatan, penulis memperoleh pertanyaan dari seorang jemaah pengajian terkait fenomena terbalik yang hadir dalam bulan Ramadan.

Dia menggunakan metode komparasi (perbandingan) dengan menanyakan, “Bukankah apabila bulan Ramadan tiba maka pintu-pintu surga dibukakan, pintu-pintu neraka ditutup, dan setanpun dibelenggu.

Akan tetapi saya menyaksikan ternyata dalam bulan ramadan kemaksiatan dan kemunkaran tidak berkurang apalagi hilang sama sekali. Bahkan terkadang pada hari tertentu cenderung mengalami peningkatan. Mengapa demikian?”

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ.روَاهُ الْبُخَارِىُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abi Huraerah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, “Apabila Bulan Ramadan datang maka akan dibukakan pintu-pintu surga, ditutup (dikunci) pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.” HR. Bukhari dan Muslim.

Sang penanya mengemukakan kegundahannya atas pandangan dan pengalaman yang dihadapi. Selama bulan Ramadan memang tampak bahwa aktivitas sosial keagamaan mengalami peningkatan. Misalnya, masjid-masjid cukup ramai hampir setiap malam dan kegiatan-kegiatan keagamaan tidak hanya terjadi di masjid tetapi juga merambah ke tempat-tempat umum, mulai dari hotel dan restoran terutama menjelang berbuka dan malam hari.

Padahal pada hari-hari diluar ramadan kenyataan tersebut relatif jarang ditemukan. Akan tetapi diluar itu semua, tindakan-tindakan pelanggaran, baik terhadap aturan manusia maupun Allah cukup marak sehingga perkataan Rasul diatas menjadi sebuah persoalan dan kemudian menjadi pertanyaan yang tidak dapat dihindarkan.

Sabda nabi tersebut menjelaskan tentang sifat bulan Ramadan. Hal itu akan tetap seperti itu hingga akhir zaman. Tentu yang harus diperiksa bukanlah keabsahan sabda nabi tersebut, tetapi faktor-faktor lain dari diri setiap muslim.

Bagi seorang nabi atau Rasul sangat mustahil melakukan kebohongan dan penipuan karena mereka selalu mendapat pengawasan langsung dari Allah swt. Dia tidak akan membiarkan para utusan-Nya berada dalam kekeliruan yang terus-menerus.

Persoalan yang dikemukakan diatas dapat terjawab dengan sebuah perumpamaan sederhana. Kita tentu tahu rasa dari gula dan garam. Kedua benda tersebut memiliki sifat yang baku dan tidak akan berubah sampai kapanpun. Rasa gula dimanapun didapati akan tetap manis. Begitu pula dengan garam akan selalu asin sampai kapanpun. Akan tetapi, kedua rasa tersebut akan tidak lengkap dirasakan manakala kondisi kita dalam keadaan sakit.

Coba perhatikan mereka yang mengalami sakit. Beragam makanan yang disuguhkan sekalipun enak rasanya dan harganyapun mahal, namun tetap akan terasa “tidak enak” dilidah yang sakit. Hal itulah sebagai jawaban dari perbandingan antara sabda nabi saw dan kenyataan hari ini yang terjadi di masyarakat.

Akhirnya, kita sangat berharap dengan datangnya bulan ramadan maka dia dapat memberikan keberkahan seperti yang disifati oleh nabi saw. Sehingga persoalan yang muncul dan ditanyakan di atas tidak kita alami. Karena jika hal demikian yang terjadi berarti terdapat masalah pada diri kita masing-masing atau dengan kata lain, hati ini sedang mengalami sakit.

Wallahu alam bis shawab.

 

***

Penulis: H. Muslim Nurdin, M.Hum, Ketua 1 PP. Pemuda Persis, Dosen STKIP Persatuan Islam Bandung

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?