Mengangkat Tangan Ketika Berdoa Ada di Kitab Taurat (Part-2: Tamat)

Dipublish pada 02 April 2018 Pukul 10:44 WIB

3020 Hits

MENGANGKAT TANGAN KETIKA BERDO’A ADA DI KITAB TAURAT (Part-2: Tamat)

(Studi Kritik Analisis Jalur Periwayatan Innallāha Hayyun Karīm, ….)

 

Sebelumnya pada kajian pertama telah kami post-kan jalur periwayatan Salman al-Farisi dimana kasimpulan penulis bahwa riwayat yang mahfūdz pada jalur Salman adalah mauqūf dengan sanad yang shahih. bagi yang belum sempat membaca post pertama sekaligus menela’ahnya bisa klik disini,..

Berikutnya pada post ke-2 ini kami sampaikan analisis periwayatan yang lainnya dari jalur Anas bin Malik r.a, Jabir bin ‘Abdullāh r.a, dan Ibnu Umar r.a. sebagai kajian terakhir disertai kesimpulan akhirnya.

Berikut jalur-jalur yang kami dapatkan sebagai bahan analisisnya:


  1. HADITS ANAS R.A :


Riwayat Anas bin Malik ini semuanya ada 3 jalur, yaitu:

  1. Jalur pertama terdapat Aban Bin Aby Iyyas


عبد الرزّاق عن معمر عن أبان عن أنس قال: قال رسول الله ﷺ إنّ ربكم حيّي كريم ثمّ يستحيي إذا رفع العبد يديه أن يردّهما صفراً حتى يجعل فيهما خيراً.

Dikeluarkan oleh: Abdurrozzaq; Kitab Al-Mushonnaf ‘Abdurrozzaq. Juz 2. No.3250 hal. 251[1].Al-Baghwy; Kitab Al-Baghwy Fie Syarhi As-Sunnat. Bab Targib Fie Du’a 5/186 no.1386 [2]. Abu Nu’iem; Kitab Hilyatu Al-Auliyai Wa Thobaqotu Al-Ashfiyai  Juz 8 hal.131 [3]

Sanad dan Matan diatas riwayat Abdurrozzaq.

Ahmad bin Hanbal mengatakan: “Aban adalah Munkarul Hadits”. Begitupun Yahya bin Ma’in mengatakan: “Aban Dla’if dan Matrukul Hadits” [4].

Jalur ini dla’if goir muhtamal  (hadits dla’if yang tidak memungkinkan untuk saling menguatkan dengan riwayat yang lainnya)


  1. Jalur kedua terdapat Amir bin Yasaf dan Bisyar bin Walid


أخبرناه أبو عبد الله الصفار ثنا أبو بكر بن أبي الدنيا ثنا بشر بن الوليد القاضي ثنا عامر بن يساف عن حفص بن عمر بن عبد الله بن أبي طلحة الأنصاري قال حدّثني أنس بن مالك رضي الله عنه قال:  قال رسول الله ﷺ : إنّ الله رحيم حيي كريم يستحي من عبده أن يرفع إليه يديه ثمّ لا يضع فيهما خيرا.

Dikeluarkan oleh: Al-Hakim; Kitab Al-Mustadrok ‘Ala Ash-Shahihain lil-Hakim Jilid 1 hal.497-498 [5]

Pada jalur ini terdapat rowi-rowi yang lemah, yaitu:


  1. Amir bin Yasaf : Abu Daud menilai : “tidak apa-apa”. Ibnu Ma’in menilai: “laisa bisyain” (dla’if).  Ibnu ‘Ady menilai: “(dia) Munkarul Hadits”. [6] Dan Ibnu Hajar menilainya : “(Amir bin Yasaf) ini majhul (tidak dikenal) tingkat 9. [7]

  2. Bisyar bin Walid: Imam As-Sulaimany mengatakan: “dia itu Munkarul Hadits”. Abu daud menilainya: “(dia) itu lemah”.


Jalur ini dla’if goir muhtamal (hadits dla’if yang tidak memungkinkan untuk saling menguatkan dengan riwayat yang lainnya)

 


  1. Jalur ketiga terdapat Habieb Katib Malik


حدّثنا المقدام بن داود، ثنا حبيب كاتب مالك، ثنا هشام بن سعد، عن ربيعة بن أبي عبد الرحمن قال: سمعت أنسا رضي الله عنه يقول: قال رسول الله ﷺ : إنّ الله عزّ وجلّ  جواد كريم، يستحيي من العبد المسلم إذا دعاه أن يردّ يديه صفرا ليس فيهما شيء.

Dikeluarkan oleh: At-Thobarāny; Kitab Ad-Du’a Litthobarony Jilid 2 No.204 Hal. 878 [8]

Habieb Katib Malik: Abu Daud mengatakan: “dia termasuk paling dusta diantara manusia”. Abu Hatim berkata: “Haditsnya Matruk (ditinggalkan) meriwayatkan dari Ibn Akhy Zuhry hadits-hadits palsu”. Begitupun Imam An-Nasa’i menilai: “dia Matrukul Hadits”. [9]

Jalur ini dla’if goir muhtamal (hadits dla’if yang tidak memungkinkan untuk saling menguatkan dengan riwayat yang lainnya)

Dengan demikin ke-3 jalur Anas r.a diatas riwayatnya lemah karena melewati rowi-rowi yang lemah dan tidaklah benar riwayat ini Anas r.a mengabarkan dari Nabi saw.

Berikut bagan riwayat Anas r.a dari 3 jalur periwayatan:

 


  1. HADITS JABIR BIN ‘ABDULLAH R.A:


حدّثنا عبيد الله بن معاذ قال : ذكر أبي، عن يوسف بن محمد بن المنكدر، عن أبيه، عن جابر بن عبد الله، قال : قال رسول الله ﷺ إنّ الله تعالى حيي كريم يستحيي من عبده أن يرفع إليه يديه فيردّهما صفراً ليس فيهما شيء.

Dikeluarkan oleh: Ahmad bin ‘Aly bin Al-Mutsanna At-Tamimy: Kitab Musnad Abi Ya’la Al-Musholy.  Juz 3 hal.391-392[10]. Ibnu ‘Ady: Kitab Al-Kamil Fi Dlu’afai Ar-Rijal.  Juz 7 hal.156[11]. Ath-Thobarāny: Kitab Al-Mu’jamu Al-Ausath Lithobarāny.  Juz 5 No. 4591 hal.31[12]

Matan dan Sanad Hadits diatas riwayat Ahmad bin ‘Aly.

Untuk Hadits Jabir r.a ini walau dikeluarkan di 3 kitab namun bermuara pada Yusuf bin Muhammad Al-Munkadir: rowi “Dla’if”.

Abu Hatim berkata: “Tidak kuat, haditsnya ditulis”. Abu Daud berkata: “(dia) Dla’if”. Abu Basyar Ad-Dulaby: “Matrukul Hadits”. Imam An-Nasa’i berkata: “Tidak kuat”. [13]

Dalam kitab lainnya Imam An-Nasa’i berkata: “Matrukul Hadits”. [14]. Imam Al-Azdy berkata: “Matrukul Hadits” [15]

Ibnu Hajar: “Dla’if”. [16]

Hadits Jabir ini versi Imam An-Nasa’i adalah dla’if goir muhtamal  (hadits dla’if yang tidak memungkinkan untuk saling menguatkan dengan riwayat yang lainnya).

Dan versi Ibnu Hajar adalah dla’if muhtamal  (hadits dla’if yang memungkinkan untuk bisa naik saling menguatkan dengan riwayat yang lainnya)

Berikut bagan riwayat Jabir bin ‘Abdullah r.a:

 

 


  1. HADITS ‘ABDULLAH BIN ‘UMAR R.A :


حدّثنا عبيد العجلي ثنا محمد بن عمر ويه الهروي ثنا الجارود بن يزيد ثنا عمر بن ذر عن مجاهد عن ابن عمر قال قال رسول الله ﷺ إنّ ربكم حيي كريم يستحي أن يرفع العبد يديه فيردّهما صفراً لا خير فيهما. فإذا رفع أحدكم يديه فليقل يا حي لا إله إلا أنت يا أرحم الراحمين ثلاث مرّات، ثمّ إذا ردّ يديه فليفرغ ذلك الخير إلى وجهه.

Dikeluarkan oleh: Ath-Thobarāny: Kitab Al-Mu’jamu Al-Kabiru Lithobarāny.  Juz 12 No.13557 hal.423[17]. Ibnu ‘Ady: Kitab Al-Kamil Fi Dlu’afai Ar-Rijal.  Juz 2 hal.173[18]

Riwayat ini walaupun dikeluarkan di dua kitab, namun melewati jalur tunggal yang bermuara ke Jārud bin Yazīd: rowi matrūk.

Imam An-Nasā’i dan Ad-Daraquthny berkata: “Matrūk”. Dan Abu Hatim, Abu Usamah berkata: “Kadzzāb (pendusta)”. Yahya bin Ma’in: “Laisa bisyaiin (Dla’if). [19]

Hadits Abullah bin Umar r.a ini lemah sekali termasuk katagori dla’if goir muhtamal (hadits dla’if yang tidak memungkinkan untuk saling menguatkan dengan riwayat yang lainnya).

 

Kesimpulan:

Melihat keseluruhan riwayat diatas dapat disimpulkan sebagai berikut:


  1. Hadits Salman Al-Farisi r.a terdapat 2 riwayat:



  • Riwayat yang Marfū’: terdapat 2 jalur yang riwayat nya Munkar dan Syādz tidak bisa dijadikan hujjah.

  • Riwayat yang Mauqūf: terdapat 5 jalur yang riwayat nya Mahfūdz (terpelihara). Artinya riwayat ini shahih dan riwayatnya kuat.



  1. Hadits Anas bin Malik r.a terdapat 3 jalur periwayatan yang semuanya Munkar dan Matrūk.

  2. Hadits Jābir terdapat satu jalur yang riwayatnya Matrūk, dan apabila standar penilai Ibnu Hajar dipakai dengan nilai dlaif muhtamal tetap kedlaifannya tidak ada yang menguatkan akan kemarfū’’annya.

  3. Hadits Abdullah bin ‘Umar r.a terdapat satu jalur yang riwayatnya Munkar dan Matrūk.


Dengan  demikian keseluruhan riwayat yang marfū’ adalah Dla’if (lemah) yang tidak bisa saling menguatkan, karena termasuk “dla’if syadīd”. Adapun riwayat yang mauqūf (sampai shahabat) adalah Shahih.

Apakah riwayat yang mauqūf shahih ini bisa dijadikan hujjah sebagai Marfū’ Hukman? (hadits mauqūf yang dihukumi marfū’ sampai ke Nabi saw).

Berikut jawabannya:

Riwayat yang mauqūf shahih ini bisa kita kutip lagi disini:


  1. Jalur Sulaiman At-Taimy:


حدّثنا يزيد أخبرنا سليمان التيمي عن أبي عثمان عن سلمان قال : إنّ الله ليستحي أن يبسط العبد إليه يديه يسأله فيهما خيرا فيردّهما خائبتين.

Salman berkata: “Sesungguhnya Allah swt malu ketika  hamba-Nya membentangkan kedua tangannya kepadaNya dan meminta (berdo’a) padaNya kebaikan, kemudian Ia tidak membalasnya  sama sekali”.

Untuk jalur Sulaiman At-Taimay ini dilihat dari teks matan masih belum jelas apakah ini perkataan Salman saja atau memungkinkan beliau mendengar dari Nabi saw.


  1. Jalur Yazid bin Abi Sholih


حدّثنا وكيع، عن يزيد بن أبي صالح، قال: حدّثني أبو عثمان النهدي، عن سلمان قال: إنّ الله حيي كريم، يستحيي من عباده أن يرفع إليه يده، يدعوه، فيردّهما صفرا، ليس فيها شيء.

Salman  berkata: “Sesungguhnya Allah swt malu kepada hambaNya yang mengangkat tangannya dan berdo’a, kemudian Ia tidak membalasnya sama sekali”.

Untuk jalur Yazid pun sama dengan jalur yang dibawa oleh Sulaiman masih belum jelas.


  1. Jalur Tsabit Al-Bannany, Humaid At-Thowil dan Sa’id Al-Juroiry


أخبرنا أبو عبد الله الحافظ ثنا أبو العبّاس محمّد بن يعقوب ثنا محمّد بن إسحاق الصاغاني ثنا عفّان ثنا حماد بن سلمة عن ثابت وحميد و سعيد الجريري عن أبي عثمان النهدي عن سلمان أنّه قال: أجد في التوراة إنّ الله حييّ كريم يستحي أن يردّ يدين خائبتين سئل بهما خيراً.

Salman berkata: “Aku mendapatkan di kitab Taurat  bahwa Allah swt malu untuk tidak membalas sama sekali do’a (hambaNya) meminta kebaikan”.

Dari ketiga riwayat diatas jelas riwayat pertama dan kedua masih “Ihtimalat” (kemungkinan) namun di perjelas oleh riwayat ke tiga bahwa perkataan Salman itu berdasarkan temuannya di kitab Taurat.

Tsabit bin Aslam yang di gandeng oleh Humaid dan Sa’id sebagai riwayat maqrūn jelas merupakan Ziyadatu Tsiqah. Karena Tsabit lebih Tsiqah daripada rowi yang lainnya.

Ini sudah sangat jelas, bahwa riwayat ini tepatnya adalah bukan dari perkataan Nabi saw karena berdasarkan kajian ilmu hadits riwayat-riwayat yang marfū’ adalah munkar dan syādz. Tepatnya riwayat ini adalah perkataan yang didapat oleh Salman Al-Farisy di kitab Taurat.

Apa saja yang datang bukan dari Al-Qur’an dan Hadits Shahih bukanlah hujjah, terlebih ayat-ayat yang ada di kitab-kitab terdahulu sudah di-mansūkh, tidak berlaku. Kitab-kitab terdahulu sebelum Al-Quran terindikasi banyak ayat-ayat yang sudah dirubah walau mungkin beberapa ayatnya masih orsinil adalah kalam Allah s.w.t. Kita tidak tahu mana ayat-ayat yang sudah dirubah dan mana ayat-ayat yang masih murni kalamullah. Kalaupun diketahui beberapa ayatnya masih terpelihara keasliannya tetaplah bukan menjadi hujjah karena kitab Al-Quran dan Al-Hadits adalah kitab akhir yang menjadi pokok rujukan ibadah umat Islam.

Wallahu A’lam.

 

Abu Aqsith, Dadi Herdiansah

abu-aqsith.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Cetakan: Habibu Ar-Rohmani Al-A’dzomy

[2] Cetakan: Al-Maktabu Al-Islamy

[3] Cetakan: Daru Al-Kutubi Al-‘Ilmiyyati

[4] Kitab Tahdzibu Al-Kamali: Jamaluddin al-Mizzy.  Juz 2 Hal.20  Cetakan: Muassasatu Ar-Risalti

[5] Cetakan: Daru Al-Ma’rifah.

 

[6] Kitab  Tahdzibu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. hal.269 cet. Muassasatu Ar-Risalah.

[7] Kitab Taqribu At-Tahdzib; Ibn Hajar hal.479 no.3129 dan 3118 Cet.Darul ‘Ashimah

[8] Cetakan: Muassasatu Ar-Risalah

[9] Kitab Tahdzibu Al-Kamali: Jamaluddin al-Mizzy.  Juz 5 Hal.369  Cetakan: Muassasatu Ar-Risalti

[10] Cetakan: Daru At-Tsaqofati Al-‘Arobiyyati

[11] Cetakan: Daru Al-Fikr

[12] Cetakan: Daru Al-Haromain

[13] Kitab Tahdzibu Al-Kamali: Jamaluddin al-Mizzy.  Juz 32 Hal.456  Cetakan: Muassasatu Ar-Risalti

[14] Kitab Ad-Dlu’afau Wa Al-Matrukun Lin-Nasa’i. hal. 246 cet.Muassasatu Al-Kutubi At-Tsaqofiyah.

[15] Kitab  Tahdzibu At-Tahdzib; Ibnu Hajar. Juz 4 hal.460 cet. Muassasatu Ar-Risalah.

[16] Kitab Taqribu At-Tahdzib: Ibnu Hajar. Hal 1095 Cet. Darul ‘Ashimah.

[17] Cetakan: Maktabatu ibni Taimiyyati.

[18] Cetakan: Daru Al-Fikr

[19] Kitab Lisanul  Mizan; Ibn Hajar Juz 2 hal.411 no.1748 cet. Maktabu Al-Matbu’ah Al-Islamiyyah.

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?