Menilik Pena Fakhri: Melawan Insekuritas Demi Karya Berkualitas

Menilik Pena Fakhri: Melawan Insekuritas Demi Karya Berkualitas

Dipublish pada 25 Agustus 2021 Pukul 05:39 WIB

277 Hits

Mood kerap berubah membuat tangan ini menahan pena. Godaan untuk menunda karena pelbagai hal yang belum tentu terjadi itu sering sekali menghampiri. Hanya dua jam untuk fokus dalam menyusun karya. Itupun ketika hari libur kuliah seperti  Sabtudan Minggu. terus konsisten menyusun walau masih terbilang jarang.

Terkadang, ketika tulisan sudah mulai rampung, muncul rasa takut dikritik. Karena tulisan yang baik ialah yang bisa masuk ke pembaca, dan itu harus melewati berbagai perkataan dari pembaca. Entah dari segi isi, urutan tulisan dan nilai. Terkadang, terbesit jika sudah berhasil menjadi buku pasti akan ada yang mengkritik. Isinya tidak seru, tidak menginspirasi dan lain-lain. Dan hal tersebut memang benar adanya.

Self reward jika istilah orang bilang, untuk bisa mengembalikan dan juga membuat usaha jadi lebih baik. Itu ia lakukan, dengan memberi reward makan bakso setiap berhasil menyelesaikan target. Kenikmatan dari satu mangkok bakso, untuk mengembalikan tenaga dan pikiran.

Belum selesai dari sana, ketakutan menghampiri kembali. Padahal tulisan ini sudah selesai menurut target yang ia mau. Ini takut jika tulisan ini belum bisa diterima oleh penerbit. Sudah pernah sebelumnya beberapa tulisan lepas belum bisa diterima oleh penerbit. Pemberitahuan yang tidak sesuai harapan, terkadang membuat takut untuk terus memperbaiki dan melanjutkan agar tulisan ini bisa terpublish.

Tapi tekad untuk membawa karya selain skripsi, harus terus dilanjutkan. Karena itu sebuah gerbang awal untuk membuat karya yang lebih baik bahkan bermanfaat lagi. Maka, semester tiga sudah terus difokuskan untuk membuat pengabadian cerita, yaitu sebuah karya tulisan. Jangan sampai waktu ini sia-sia hanya karena penolakan dan kemalasan.

Itulah sosok Fahri Fauzan Azhari, alumni Komunikasi dan Penyiaran Islam STAI Persis Bandung. Mengalami insekuritas ketika memulai untuk berkarya. Beliau adalah contoh kegigihan dalam diam untuk adik-adiknya di prodi KPI.

Setelah melewati hal-hal tersebut, Allah mendatangkan rezeki di waktu yang tepat. Karyanya bisa diterima oleh salah satu penerbit ketika menuju semester akhir. Dan tulisan pertamanya yang berjudul Nak-Nak 06 Sebuah Aksi, Refleksi, dan Filosofi berhasil meluncur menjadi sebuah kumpulan kertas, bersampul dengan tulisan " oleh Fahri Fauzan Azhari".

Tulisan yang berisi tentang cerita pengalaman pribadi semasa dengan teman senagkatannya di MA. Tapi dikemas dengan bahasa yang penuh refleksi dan filosofis. Makna dan nilai sederhana dari karyanya tersebut tersirat dalam benak pembaca.

Berhasil membuat satu tulisan, karya lainnya yang masuk ke penerbit pun menyusul. Karya lainnya Jantung Ibu, Ramadhan Tanpa Bapak, Remaja Ideal. Dari Fahri kita belajar, jika hal-hal yang tidak mungkin harus kita lawan dengan usaha keras, keyakinan dan doa. Bermimpi besar bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti cerita masa lalu bisa jadi karya. Itu yang dilakukan fahri. (/Anggi)


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?