Persis VS Mikenoh (Mitos JURIG di Warung Peuteuy - Garut)

Dipublish pada 07 Oktober 2016 Pukul 13:13 WIB

2739 Hits

Kondisi masyarakat Warung Peuteuy saat itu mayoritas berprofesi sebagai petani. Hasil pertanianya berupa tembakau, jagung, pete, labu dan kacang serta berbagai macam buah-buahan seperti alpukat, durian dan sawo. Hasil pertanian itulah yang kemudian dijual di warung-warung pinggir jalan raya. Warung-warung itu biasanya menempatkan pete digantung di warung tersebut. Karena itulah kawasan ini mendapat sebutan Jalan Warung Peuteuy.

Pada awal kemerdekaan Indonesia yakni tahun 1945. Di sebuah kawasan yang kini terkenal dengan nama kawasan Warung Peuteuy. Datanglah dua orang da’i yang dikenal berani. Kedua da’i itu bernama Buya Komar dari Gunung Cupu dan H. Bahrudin yang asli orang Salagedang, salahasatu kampung di kawasan Warung Peuteuy.

Buya Komar dibawa oleh H. Bahrudin ke rumah Eyang Hamami, seorang sesepuh di Kampung Lempong. Kemudian, H. Bahrudin dan Buya Komar meminta izin kepada Eyang Hamami untuk menggelar pengajian. Eyang Hamami mengizinkan keduanya untuk menggelar pengajian di rumah beliau bersama anak-anak beliau.

Bahan materi yang dikaji di pengajian biasanya mengenai praktek-praktek ibadah. Diantaranya mengenai tidak sesuainya praktek usholi dan tahlilan dengan dalil-dalil. Disaat itulah keluarga Eyang Hamami dan meninggalkan praktek-praktek bid’ah tersebut.

Kemudian, beberapa waktu, Buya Komar mengajak Ki Edo (anak tertua Eyang Hamami) untuk mengaji di Pajagalan, Bandung kepada Ajengan Romli dan Ajengan Umri.

Sedangkan di Garut sendiri, Ki Edos (salahsatu anak Eyang Hamami) juga ikut mengaji di Pesantren Cipari yakni kepada Ajengan Yusup dan Ajengan Kudus yang juga dalam praktek ibadah sholat mereka tidak menggunakan usholi.

Beberapa da’i Persis yang pernah singgah dan berdakwah di Warung Peuteuy antara tahun 1945-1970 diantaranya; Muallim Ansor, Ibu Aminah, Ust. Shihab, Ust. Jamal, Ust. Komarudin, Ust. Jaenudin, Ust. Rohadi, Ust. Mualim Uum, Ust. Aceng Zakaria dan dari Bandung Ust. Abdullah, Ust. Sudibja, Ust. Nasrullah dan Ust. Syarif Sukandi.

Setelah melewati dakwah panjang dan melelahkan. Akhirnya, berdirilah lima jamaah Persis di kawaan Warung Peuteuy. Jamaah Kampung Lempong dipimpin oleh Ki Edos, Jamaah Kampung Burungayun dipimpin oleh Salim, Jamaah Kampung Salagedang dipimpin oleh Ajengan Encur. Sedangkan Ajengan Sanusi (bapaknya Ust. Maman Nurzaman) di Kampung Teureup dan H. Muchtar (bapaknya Ust. Latif Muchtar) di Kampung Babakan.

Tahun 1960-an berdirilah Madrasah Diniyyah Istiqomah di Salagedang dan Madrasah Diniyyah Attaqwa di Lempong. Madrasah inilah yang kemudian dijadikan sebagai pusat pendidikan Persis di Warung Peuteuy kala itu. Setiap tahun diadakan haflah imtihan yang meriah dan membangkitkan motivasi belajar anak-anak didik. Setiap haflah imtihan itulah, selalu menyembelih beberapa ekor kambing yang dagingnya dimasak dan dibagikan kepada masyarakat dengan bebesek.

Saat Emah (istri Eyang Hamami) meninggal, sempat terjadi keributan antara anak-anaknya dan masyarakat lain. Karena, anak-anaknya tidak menghendaki mengadakan tahlilan. Hampir saja terjadi hujan ”bedog”.

Pada masa berdirinya jamaah Persis di Warung Peuteuy, gebrakan pertama dakwah Persis adalah menyembelih seekor kerbau pada idul adha. Kemudian dagingnya dibagikan kepada seluruh warga di kawasan Warung Peuteuy. Hal ini mengundang simpati masyarakat Warung Peuteuy keumuman terhadap Dakwah Persis.

Pada tahun 1970-an, beberapa orang dikirimkan ke pesantren Pajagalan oleh jamaah Persis di Warung Peuteuy. Diantaranya: Ust. Uud Daud, Ust. Entang Muchtar, Ust. E. Saefudin dan Ust. Dede Shodikin. Sehinga pulang dan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat serta mendirikan Pimpinan Cabang Persis Banyuresmi tahun 1990-an dan lembaga pendidikan Pesantren.

Hingga, prilaku masyarakat Warung Peuteuy yang kala itu gemar menggelar ”kariaan” seperti adu ketangkasan domba, adu bagong dan judi layang-layang semakin tersadarkan, walaupun tidak hilang keseluruhan.

Di masyarakat Warung Peuteuy, kala itu kental dengan kepercayaan akan mitos ”Jurig Mikenoh”. Jurig Mikenoh tersebut digambarkan sebagai sosok perempuan tua yang menyeramkan. Seringkali, sosok Mikenoh ini digunakan orang tua untuk menakut-nakuti anak mereka yang bandel.

Sosok Mikenoh menurut mitos masyarakat adalah sosok seorang perempuan yang mati karena bunuh diri di Pasir Kuyambut. Mikenoh bunuh diri karena merasa frustasi setelah ditinggal mati oleh suaminya yang seorang tentara di zaman kemerdekaan. Kemudian jasadnya dikubur di kaki Gunung Guntur.

Begitu ditakutinya sosok Mikenoh oleh masyarakat warung peuteuy, sehingga ada semacama larangan untuk membicarakan dan atau menyebutkan nama Mikenoh di hadapan umum. Jika hendak menyebutkan nama Mikenoh, biasanya berbisik satu sama lain.

Dari cerita yang beredar di masyarakat, beberapa orang dari mereka mengaku pernah didatangi oleh Mikenoh saat pulang dari ladang. Mereka menceritakan bahwa sosok Mikenoh itu sosok perempuan tua yang berambut putih dan selalu menggunakan kebaya. Ketika berpapasan dengan Mikenoh, biasanya mereka dimintai rokok. Jika tidak diberi rokok, maka Mikenoh akan mencekik dan mengejar mereka.

Cerita itu terus berkembang hingga dakwah Persis datang dan memberangus cerita mitos tersebut. Dakwah Persis yang konsen terhadap pemberantasan tahayul, bid’ah dan khurafat, secara langsung memberangus mitos tersebut.

Bahkan, lebih ekstrimnya, seorang ustadz yakni Muallim Uum pernah melakukan ekspedisi di malam hari menyusuri lokasi-lokasi di Warung Peuteuy yang dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat bersemayamnya Mikenoh. Muallim uum dalam sebuah pengajian menceritakannya kepada jamaah dan meyakinkan bahwa beliau tidak menemui satupun makhluk halus termasuk Mikenoh.

Hingga sekarang, mitos Mikenoh itu tenggelam begitu saja berganti dengan lantunan-lantunan pengajian dari mesjid-mesjid dan Pesantren Persis. Mikenoh nampaknya kalah pamor oleh Persis dengan dakwahnya yang tegas.

Sungguh, hingga sekarang dakwah Persis tetap terdengar dan menggelora di kawasan Warung Peuteuy. Persis telah berhasil mengembangkan beberapa lembaga pendidikan berbagai jenjang dari PAUD hingga Muallimin. Persis pun senantiasa menjadi kiblat fatwa dan acuan dalam beribadah, tidak hanya bagi masyarakat Persis namun juga masyarakat non Persis di sekelilingnya. Saat terjadi gerhana dan idul fitri misalnya, imam-imam mesjid NU senantiasa meminta informasi dan surat edaran kepada Persis.

Demikianlah sepenggal catatan kecil perkembangan Persis di kawasan Warung Peuteuy. Disusun berdasarkan hasil wawancara dan observasi. Semoga dapat menjadi pencerah bagi kita generasi muda penerus dakwah Persis. Wallahu A’lam.

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?