Prinsip Kita Tentang Urusan Ghaib 

Prinsip Kita Tentang Urusan Ghaib 

Dipublish pada 09 Desember 2019 Pukul 23:46 WIB

1790 Hits

Penyusun: Dede Ridwan 

Urusan ghaib adalah perkara yang tidak mungkin bisa diketahui kecuali berdasarkan informasi wahyu (Al-Qur`an dan hadis-hadis sahih dari Nabi saw). Perkara ghaib cukup diimani keberadaannya, tidak bisa dipikirkan hakikatnya karena akal tidak mungkin bisa menjangkaunya. Seperti tentang alam jin, alam malaikat, ruh, alam kubur, surga, neraka dan lain sebagainya.

Allah swt berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ 

Dan kunci-kunci semua yang ghaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula pula sesuatu yang basah atau kering, yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Al-An`am: 59) 

Para ulama juga menegaskan bahwa prinsip dalam urusan ghaib adalah sebatas apa yang dijelaskan dalam Al-Qur`an dan hadis-hadis yang sahih, tidak bisa diijtihadi dan diqiaskan dengan yang lainnya.

Di dalam kitab Al- Ajwibatul Kaafiyah (hal:65) dijelaskan:

أن الأمور الغيبية لا دخل للعقل فيها، وإنما تستفاد من طريق الوحي ليس إلا

Bahwasannya perkara ghaib itu tidak ada ruang akal (untuk ikut campur) padanya. Dia hanya bisa diketahui lewat jalan wahyu tidak ada jalan lain. ( Al-Ajwibatul Kaafiyah, I/65. Al-Haidari At-Tunisi, W: 1380)

 At-Tuwaijirii (W: 1413) mengatakan: 

أن الأمور الغيبية لا مجال للرأي فيها

Bahwasannya urusan-urusan ghaib itu tidak ada ruang akal padanya. (Ithaaful Jamaa`at, I: 190)

Beliau juga mengatakan dalam kitabnya al-ihtijaj bil atsar alaa man ankaral mahdiyyil muntadzhar (1/26) :

فإن الأمور الغيبية لا تدرك بالأفكار

Maka sesungguhnya perkara ghaib itu tidak bisa dijangkau dengan pikiran. 

إن الأمور الغيبية لا تعلم بالاجتهاد ولا يسوغ الاجتهاد فيها، وإنما تعلم بخبر الصادق المصدوق -صلوات الله وسلامه عليه

Sesungguhnya perkara ghaib itu tidak bisa diketahui dengan ijtihad dan tidak ada ruang ijtihad padanya, perkara ghaib itu hanya bisa diketahui lewat berita yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw. ( al-ihtijaj bil atsar alaa man ankaral mahdiyyil muntadzhar (1/301)

Syaikh Utsaimin mengatakan:

إن المرجع في الأمور الغيبية إلى النقل المجرد لا إلى العقول

Sesungguhnya tempat kembali untuk mengetahui urusan ghaib adalah kepada nakl (Al-Qur`an dan Hadis) semata, tidak kepada akal. (شرح العقيدة السفارينية: 1/702)


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?