Saudarakah Kita?

Dipublish pada 22 November 2016 Pukul 15:44 WIB

1139 Hits

Rumahku memang kejam, tidak lagi busur yang menikam

Berjalan kaki tak peduli telapak legam menghitam

Aku boleh saja berkilah, namun sebrang sana ada yang lupa kata indah

Bukan lagi hari, mereka menanggung beban tiada henti tanpa permisi

Berlayar di atas kayu lusuh lebih berarti, daripada harus mati dalam balutan ironi

 

“Saya juga manusia”, bisiknya dalam derita

Saat keberadaannya dianggap kubangan parit tak berguna

Kami egois, melupa kalian saat penguasa kami sendiri semakin bengis

 

Ya Rabb,,,

Jika kau anggap kami sebagai hamba-Mu tanpa tersebab

Lalu, akibat mana lagi yang harus kami terima tanpa beradab

Pagi ini, kutuang secangkir kopi hangat

Di ujung sana, rasa pahit kopi sama sekali tak ingat

 

Ya Rabb,,,

Lihatlah mata mereka yang selalu sembab

Keringnya saja tak pernah dirasa meski sekejap

 

Inilah karunia, inilah karunia,,,

Saat seluruh mata dunia sengaja melupanya

Saat terbujur kaku di atas kapal, menjadi satu-satunya bekal

Adakah yang melupa bahwa di dunia tiada yang kekal?

 

Ya Rabii,,,

Siksa demi siksa, tubi demi tubi

Caci demi caci, kematian tengah dinanti

Sedetik pun tak kuasa kami menyembah, pantasakah nyawa ini kupersembahkan?

 

Ya Ilahi,,,

Biarkan saja kami pergi tanpa sepotong roti

Meski dahaga dan lapar menjadi makanan setiap hari

Kenyang tidaklah kami cari, ibadahlah dambaan kami selama ini

 

Tuhan…

Jika Engkau tiada pernah tidur, Tunjukkan!

Kami tidak sedang meragukan kekuasaan

Tidak pula amnesia terhadap pujian

Kami hanyalah hamba, yang selalu ingin hidupkan kekuatan dalam do’a

Meski kucuran darah adalah terbiasa

Meski desingan peluru selalu dirasa

Meski sakit adalah nikmat yang dilupa

Tuhan, pantaskah kami kau sebut hamba?

 

 

***

 

Oleh:

Ali Muhtadin, Sekretaris Pesantren Sastra Pemuda Persis

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?