Waris Bagi Yang Membunuh Tidak Sengaja

Dipublish pada 28 Agustus 2015 Pukul 10:20 WIB

2900 Hits

KEPUTUSAN VIII

SIDANG DEWAN HISBAH 25-26 AGUSTUS 2015

TENTANG

WARIS BAGI YANG MEMBUNUH TIDAK SENGAJA

بسم الله الرحمن الرحيم

 

Dewan HisbahPersatuan Islam setelah:

MENGINGAT:

Firman Allah SWT :

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ أَن يَقۡتُلَ مُؤۡمِنًا إِلَّا خَطَ‍ٔٗاۚ وَمَن قَتَلَ مُؤۡمِنًا خَطَ‍ٔٗا فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ مُّؤۡمِنَةٖ وَدِيَةٞ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦٓ إِلَّآ أَن يَصَّدَّقُواْۚ فَإِن كَانَ مِن قَوۡمٍ عَدُوّٖ لَّكُمۡ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ مُّؤۡمِنَةٖۖ وَإِن كَانَ مِن قَوۡمِۢ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَهُم مِّيثَٰقٞ فَدِيَةٞ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰٓ أَهۡلِهِۦ وَتَحۡرِيرُ رَقَبَةٖ مُّؤۡمِنَةٖۖ فَمَن لَّمۡ يَجِدۡ فَصِيَامُ شَهۡرَيۡنِ مُتَتَابِعَيۡنِ تَوۡبَةٗ مِّنَ ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمٗا ٩٢وَمَن يَقۡتُلۡ مُؤۡمِنٗا مُّتَعَمِّدٗا فَجَزَآؤُهُۥ جَهَنَّمُ خَٰلِدٗا فِيهَا وَغَضِبَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ وَلَعَنَهُۥ وَأَعَدَّ لَهُۥ عَذَابًا عَظِيمٗا ٩٣

Dan tidak layak bagi seorang mu-min membunuh seorang mu-min yang lain kecuali karena tersalah (tidak disengaja). Dan siapa yang membunuh seorang mu-min karena tersalah hendaklah ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (korban) kecuali jika mereka bersedekah. Jika ia (korban) dari kaum yang memusuhimu padahal ia mu-min, maka hendaklah si pembunuh memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Dan jika ia (korban) dari kaum kafir yang ada perjanjian damai antaramu dan antara mereka, maka hendaklah si pembunuh membayar diyat yang diserahkan kepada keluarga korban, serta memerdekakan seorang hamba sahaya yang mu-min. Siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia melaksanakan shaum dua bulan berturut-turut sebagai cara taubah kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Siapa yang membunuh seorang mu-min dengan sengaja, maka balasannya adalah jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya serta mengutukinya dan menyediakan adzab yang besar.” (QS An-Nisa : 92-93).

 

Hadis-hadis sebagai berikut :

حدثنا قتيبة حدثنا الليث عن إسحق بن عبد الله عن الزهري عن حميد بن عبد الرحمن عن أبي هريرة : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال القاتل لا يرث

Bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Yang membunuh tidak menerima waris.” (HR Attirmidzi2109 --)

قال أبو عيسى هذا حديث لا يصح لا يعرف إلا من هذا الوجه و إسحق بن عبد الله بن أبي فروة قد تركه بعض أهل الحديث منهم احمد بن حنبل والعمل على هذا عند أهل العلم أن القاتل لا يرث كان القتل عمدا أو خطأ وقال بعضهم إذا كان القتل خطأ فإنه يرث وهو قول مالك

قال الشيخ الألباني : صحيح

Kata Imam Attirmidzi hadits ini tidak shahih, tidak diketahui selain dari jalan ini, dan rawi yang namanya Ishaq bin Abdillah bin Abi Farwah telah ditinggalkan oleh ahli hadits di antaranya oleh Imam Ahmad bin Hambal. Tetapi praktiknya menurut ahli ilmu bahwa “pembunuh tidak mendapat warisan; apakah ia membunuh itu dengan sengaja, atau tersalah.” Namun sebagian lagi berpendapat, “Jika pembunuhan itu karena tersalah, pelaku mendapat warisan” itu kata Imam Malik.

Menurut syekh Al-albani hadits ini shahih.

 

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ ، وَعَبْدُ اللهِ بْنُ سَعِيدٍ الْكِنْدِيُّ , قَالاَ : حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الأَحْمَرُ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ ، أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ , رَجُلاً مِنْ بَنِي مُدْلِجٍ ، قَتَلَ ابْنَهُ ، فَأَخَذَ مِنْهُ عُمَرُ مِئَةً مِنَ الإِبِلِ : ثَلاَثِينَ حِقَّةً , وَثَلاَثِينَ جَذَعَةً , وَأَرْبَعِينَ خَلِفَةً ، فَقَالَ : أَيْنَ أَخُو الْمَقْتُولِ ؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ يَقُولُ : لَيْسَ لِقَاتِلٍ مِيرَاثٌ.

في الزوائد إسناده حسن . قال الشيخ الألباني : صحيح

Dari Amr bin Syu’aib, bahwa Qatadah, seorang dari Bani Mudlaj telah membunuh anaknya. Kemudian Umar mengambil 100 unta darinya: 30 yang tua, 30 yang muda, 40 khalifah. Lalu ia berkata, “mana saudara terbunuh? Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Bagi pembunuh tidak ada warisan” (HR Ibnu Majah : 2646). ***)

Dalam Azzawaid hadits ini sanadnya ‘hasan’. Kata Al-albani : ‘shahih’

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ الْمِصْرِيُّ ، أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ ، عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ أَبِي فَرْوَةَ ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ ، عَنْ حُمَيْدٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ قَالَ : الْقَاتِلُ لاَ يَرِثُ.

Bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Yang membunuh tidak menerima waris.” (HR Ibnu Majah : 2645)

وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ الْحَارِثِ الْفَقِيهُ أَخْبَرَنَا أَبُو الشَّيْخِ الأَصْبَهَانِىُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ رَجُلٍ قَالَ عَبْدُ الرَّزَّاقِ وَهُوَ عَمْرُو بَرْقٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- :« مَنْ قَتْلَ قَتِيلاً فَإِنَّهُ لاَ يَرِثْهُ ».

وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَارِثٌ غَيْرُهُ وَإِنْ كَانَ وَلَدِهِ أَوْ وَالِدِهِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَضَى :« لَيْسَ لِقَاتِلٍ مِيرَاثٌ ».

Telah bercerita Abu Bakar bin Alharits, telah mengkhabarkan kepada kami Abu Syekh Al-ashbahani, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Al’abbas bin Yazid, telah bercerita kepada kami Abdurrazzaq, telah bercerita kepada kami Ma’mar dari seseorang (Amr Barq) dari Ikrimah dari Ibnu Abbas r.a, katanya, telah bersabda Rasulullah Saw, “Siapa yang membunuh korban, ia tidak mendapatkan warisan.” walaupun tidak ada ahli waris yang lainnya, walaupun ia itu anaknya atau ibu-bapaknya, karena Rasulullah Saw menetapkan, “Bagi pembunuh tidak ada warisan.” (HR Albayhaqi : 12604).

 

MEMPERHATIKAN :


  1. Sambutan dan pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah KH.MuhammadRomli

  2. Sambutan dan pengantar dari Ketua Umum PP Persis yang diwakili oleh Ketua Bidang Tarbiyah KH. Aceng Zakaria

  3. Makalah dan pembahasan yang disampaikanoleh KH. Rahmat Najib, S.Pd.

  4. Pembahasan dan penilaian dari anggota Dewan Hisbah terhadap masalah tersebut di atas.


 

MENIMBANG :

  1. Pembunuhan adalah salah satu sebab terhalangnya hak waris.

  2. Pembunuhan bisa terjadi karena disengaja (qatlul-‘amdi), tidak disengaja (qatlul-khatha’), atau seperti disengaja (qatlu syibhil-‘amdi).

  3. Untuk menentukan sengaja atau tidak sengajanya suatu pembunuhan perlu pembuktian melalui proses peradilan.

  4. Perlu ketegasan hukum hak waris bagi pembunuhan tidak sengaja.


 

Dengan demikian Dewan Hisbah Persatuan Islam

MENGISTINBATH :

Pembunuhan yang bukan karena kesengajaan atau karena kesalahan, tidak menghalangi hak waris.

Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?