Wisuda: Antara Kemuliaan dan Syukur

Wisuda: Antara Kemuliaan dan Syukur

Dipublish pada 27 September 2021 Pukul 12:38 WIB

506 Hits

Untuk kesebelas kalinya, STAI PERSIS Garut menyelenggarakan wisuda Sarjana S-1. Kegiatan yang mengakhiri empat tahun studi ini tentu sangat sakral dan berharga. Berbagai pihak yang terkait dengannya menilai terhormat, bernilai, dan bahagia karenanya.

Di samping rasa Bahagia, ada kesan yang muncul dari peristiwa wisuda tersebut. Prosesi kesebalas ini tentu memberikan pengaruh kepada yang terlibat di dalamnya.

“Pertama-tama saya sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ketua Senat STAI PERSIS dan jajarannya, yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan pidato ilmiah. Menyampaikan pidato ilmiah dalam suatu forum berwibawa yang dihadiri kaum cerdik pandai merupakan suatu kehormatan yang besar bagi seorang dosen. Karena, tidak semua dosen dapat memperoleh kesempatan seperti ini. Mahasuci Allah yang telah memberi kesempatan terhormat ini kepada saya melalui Pimpinan STAI PERSIS,” ucap Prof. Edi sebelum memulai orasi ilmiah pada wisuda kesebelas STAI PERSIS Garut.

Apa yang disampaikan Rektor Universitas Bandung (Unisba) tersebut sangat berarti bila kita renungkan. Bagi penulis, ini menggugah kesadaran untuk bersyukur kepada siapa pun. Sikap syukur tersebut ada karena terdapat kebaikan dari pihak yang harus disyukuri. Prof. Edi bersyukur disebabkan mendapat kemuliaan untuk berorasi di hadapan senat, dosen, sarjana, orang tua peserta wisuda, dan tamu undangan. Kesempatan tersebut terwujud dalam rangkaian wisuda.

Wisuda ialah forum kemuliaan. Ia adalah peresmian yang dilakukan dengan upacara khidmat. Pelantikan ini diberikan kepada para mahasiswa yang telah melakukan studi sehingga menyandang gelar kehormatan. Bertahun-tahun kuliah secara teori dan praktik kini terlihat beres dengan diakhiri upacara khusus. Mereka pun layak menyandang gelar kehormatan. Untuk strata satu maka yang disematkan adalah sarjana. Penyematan gelar kehormatan yang sangat berarti dalam kehidupan mereka.

Kehormatan wisuda tidak hanya terlihat dalam pelantikan dan pemberian gelar. Tetapi posisi, pembicara, rangkaian acara, dan tempat duduk pun memperlihatkan kemuliaan tersebut. Meskipun hadir di suatu ruangan dan kegiatan yang sama, tetapi kemuliaannya berbeda.

Secara umum terdapat dua tempat duduk: senat dan hadirin. Di panggung senat ada yang di belakang dan di depan; bagian depan pun ada yang di pinggir dan di bagian tengah. Sementara hadirin, ada sebagai tamu undangan, orang tua, peserta wisuda, panitia, dan tamu kehormatan yang duduk paling depan.

Mereka duduk untuk mengikuti rangkaian acara. Acaranya pun berbeda-beda. Ada yang hanya asal ada, penyerta, dan yang utama; rangkaian acara sekedarnya, penyerta, dan yang utama.

Hadirin menyimak para pembicara. Pembicara pun bermacam-macam. Ada yang memimpin acara, pembaca surat keputusan, memberi sambutan, dan memberikan orasi. Sama bersuara, tetapi dengan posisi masing-masing yang di dalamnya sarat kemuliaan.

Peserta wisuda pun tidak sama dalam kemuliaannya. Semuanya memang telah menyelesaikan kewajiban perkuliahan, tetapi ada yang terbaik. Maka dipilihlah penyandang Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi. Tidak hanya itu, dinominasikan pula pemilik penelitian terbaik dari skripsi yang disusun para mahasiswa. Di STAI PERSIS Garut ditambahkan dengan kategori mahasiswa yang telah hafal Al-Qur`an secara sempurna 30 juz. Dan tidak ketinggalan ialah para pengabdi setahun kemudian di luar pulau Jawa.

“Saya kagum sekali ada yang ditempatkan di pelosok untuk berdakwah,” demikian petikan sambutan perwakilan Kopertais II Jawa Barat.

Bermacam kemuliaan tersebut terikat dengan syukur. Berbagai keutamaan didapatkan disebabkan kebaikan pihak lain. Orang beriman menyadari nikmat yang didapat untuk kemudian bersyukur kepada pemberinya. Tidak hanya kepada Allah Al-Syakur, kepada sesama makhluk pun semestinya berterima kasih.

Dalam wisuda ini tercurah berbagai ucapan selamat dan terima kasih kepada orang tua, peserta wisuda, dosen, lembaga, organisasi, dan Sang Khalik.

“Bersyukur kita kepada Allah karena bisa menyelenggarakan kegiatan akademik berupa wisuda di tengah pandemi,” kata Ketua STAI Persi Garut.

“Alhamdulillah wisuda sudah bisa offline meski pakai ‘cadar’,” demikian ucapan Ustaz Ena.

“Kalian duduk di sini tidak mudah, penuh perjuangan dan derai air mata hingga menyelesaikan perkuliahan,” puji Dr. Candra mewakili bapak Gubernur.

“Selamat menempuh babak baru dengan memberi manfaat kepada masyarakat,” petikan dari sambutan Bidgar Dikti PP PERSIS.

“MOU dengan Unisba semoga dapat mengembangkan STAIPI ke depan dengan lebih baik … Kami berterima kasih atas kerja sama PD dengan STAIPI. Dengan catur darma, pengembangan kejamiyahan, telah membantu pendirian tiga PC di Kabupaten Garut, yaitu Caringin, Banjarwangi dan Cibalong … Keberadaan kampus di PERSIS bukan sekedar keinginan tetapi kebutuhan, miindung ka usum mibapa ka jaman, perkembangan sekarang diperlukan guru tingkat sarjana.” Demikian bentuk syukur Ketua Dewan Penyantun sekaligus Ketua PD PERSIS Garut.

Sementara ketua Bidgar Dikti PP PERSIS menyampaikan posisi penting perguruan tinggi dalam dakwah PERSIS. “PERSIS yakin bahwa dakwah dan pendidikan merupakan komitmen dan kekuatan yang dapat dijadikan instrumen mengatasi perubahan sosial … Perguruan Tinggi merupakan alat untuk melakukan perubahan sosial ... Harus memelihara dan meningkatkan komitmen berjamiyah, berorientasi pada regulasi internal dan eksternal, serta sinergi dengan intern dan ekstern jamiyah.”

Dengan demikian, wisuda adalah penghargaan kepada hasil perjuangan mahasiswa. Di dalamnya terdapat posisi yang bebeda. Keragaman ini berdasar pada peran, fungsi, dan penghargaan. Betapa setiap pihak merasa bahagia. Yang terlibat ingin terlihat dan diabadikan.

Wisuda pun dapat pula dijadikan sebagai cermin balasan Allah berupa surga di akhirat kelak. Hal itu disebabkan kemuliaan yang lahir dari rasa syukur.

(Yusup Tajri, Ketua Prodi PGMI STAI PERSIS Garut/dh)


Sebarkan Tulisan ini

Apa Komentar Anda?