Transformasi Gerakan Jamiyah: Sebuah Keniscayaan

oleh Pepen Irfan Fauzan

27 Maret 2026 | 10:16

Penulis: Dr. Pepen Irpan Fauzan, M.Hum

Oleh: Pepen Irpan Fauzan

Borosngora Persatuan Islam


Hingga awal 1930-an, struktur organisasi Persatoean Islam (PERSIS) Bandoeng sangat sederhana. Koran Sipatahoenan menyebut model organisasinya adalah “paguyuban”. Struktur organisasi hanya terdiri dari Voorzitter (Ketua) KHM Zamzam, Vice Voorzitter (Wakil Ketua) KHM Yunus, Juru Surat I Sobirin, Juru Surat II M. Natsir, dan Penningmester (Bendahara) KM. Tosin.


Demikian kabar koran Moestika pada 31 Agustus 1931. Tiga orang dari Palembang, satu orang dari Padang, dan satu lagi urang Sunda dari Bandung. Memang sebagaimana warta dari De Nieuwe Vorstenlanden tahun 1926, paguyuban PERSIS didominasi ”Palembangsche Kooplul” (para pedagang asal Palembang).


Namun, walaupun “stuktur organ”-nya sederhana, reputasi PERSIS sangatlah tinggi di kalangan masyarakat terpelajar Indonesia, khususnya warga urban Bandung. Dalam menjalankan roda organisasi dan memperluas peran-pengaruhnya, PERSIS pun membentuk organ baru (baca: underbouw). Hingga tahun 1933, organ underbouw PERSIS itu berupa: Komite Pembela Islam, Pendidikan Islam (Pendis), dan Persatuan Isteri.


Waktu itu, sebagai paguyuban, PERSIS belumlah menjadi hoofd bestuur (pengurus besar, sebuah sistem organisasi massa), sehingga tidak membentuk cabang-cabang di berbagai daerah. Padahal, murid-murid tuan A. Hassan di studi klub PERSIS tersebar di mana-mana: dari Aceh di ujung Barat hingga Sulawesi di ujung Timur.


Koran Sipatahoenan pada 25 Januari 1933 memberitakan:

“Oerang Bandoeng mah tangtoe moal aja noe bireuk ka djenengan Djrg. H. Zamzam teh...kapan nja ieu pisan noe djadi loeloegoe ti pagoejoeban “Persatoean Islam” di Bandoeng teh. Handjakal ieu pagoejoeban henteu njieun tjabang-tjabangna di sababaraha tempat. Noe dipentingkeun ku ieu pagoejoeban teh djaba ti ngajakeun biantara-biantara..., ngaloearkeun boekoe-boekoe..., malah dina saboelan doea kali ngaloearkeun orgaan nu make ngaran “Pembela Islam”. Dina pingpinan Djrg. H. Zamzam, pagoejoeban “Persatoean Islam” geus bisa ngajakeun sakola Frobel, H.I.S. djeung Mulo noe make dadasar Kaislaman.”


Kita harus paham, berita koran itu adalah cermin opini publik kala itu. Dengan kata lain, masyarakat pada umumnya memandang apa yang telah dilakukan tokoh-tokoh PERSIS telah begitu besar. Padahal, “baju” yang dipakai masih model-ukuran lama. Jadi, tentu saja sudah tak muat lagi. Tak heran, jika kemudian banyak usulan-gagasan bermunculan terkait eksistensi PERSIS ketika itu terutama untuk masa depan: hendaknya “ganti baju!”


Momentum itu terjadi pada tahun 1934. Komite Pembela Islam—yang membesarkan nama PERSIS—kala itu sudah mulai sulit bergerak, karena terus dirongrong pihak Kolonial. Di berbagai tempat, majalah Pembela Islam dilarang beredar sampai akhirnya berhenti terbit.


Sebaliknya dengan kondisi Komite Pendidikan Islam (PENDIS) yang dikelola M. Natsir dan kawan-kawan. Sekolah-sekolahnya terus berkembang, baik secara kuantitatif jumlah lembaganya, maupun secara kualitatif dengan bertambahnya jenjang pendidikan. Yakni, berdirinya pendidikan menengah (Dikmen), dari asalnya jenjang PAUD dan Dasar. Lengkap sudah: Frobelschool jenjang TK, HIS dan MULO pada jenjang dasar, serta Holland Inlandsche Kweekschool (HIK) pada jenjang menengah.


Trigger yang paling penting adalah nasehat dari Syeikh Ahmad Soorkati, guru yang dihormati oleh jamaah dan para tokoh PERSIS di samping Tuan Hassan. Apa nasehatnya itu? Untuk semakin meluaskan dakwah, PERSIS hendaknya mengembangkan sayap di daerah-daerah dengan menjadi organ hoofd bestuur, sehingga bersifat organisasi massa (ormas), bukan paguyuban.



BACA JUGA:

Kolektivitas Berjamiyyah, Belajar dari Gajah