Menimbang Kembali Kritik Atas Tradisi Akhir Tahun Sekolah

oleh Agung Aditya Subhan

24 Juni 2026 | 08:42

Penulis: Agung Aditya Subhan, M. Pd

Bahaya Reduksi Pendidikan Menjadi Administrasi Pembelajaran

Tulisan tersebut mengusulkan agar kegiatan kelulusan cukup dilakukan secara sederhana dengan pembacaan surat kelulusan dan do’a. Gagasan ini terlihat efisien. Namun pendidikan bukan hanya persoalan efisiensi.


Dalam antropologi pendidikan, ritual memiliki fungsi sosial yang sangat penting. Perayaan kelulusan merupakan penanda transisi kehidupan. Seorang anak TK yang naik ke SD, siswa SD yang melanjutkan ke SMP, atau siswa SMA yang memasuki dunia dewasa sedang mengalami fase perkembangan psikologis yang penting.


Momen-momen simbolik tersebut membantu mereka memahami perjalanan hidup, menghargai usaha, dan membangun memori positif terhadap sekolah. Masalahnya bukan pada adanya seremoni, melainkan pada kemewahan yang berlebihan. Karena itu yang perlu dikritik adalah extravagansi, bukan perayaannya. Yang perlu diperbaiki adalah orientasinya, bukan eksistensinya.


Perspektif Pendidikan Islam

Menariknya, jika kita menengok tradisi pendidikan Islam klasik, kita menemukan bahwa pendidikan tidak pernah dibatasi pada ruang kelas. Para ulama besar lahir melalui perjalanan ilmiah yang panjang.


Tradisi rihlah fi thalabil ilmi (perjalanan mencari ilmu) justru menjadi salah satu ciri utama peradaban Islam. Imam Bukhari melakukan perjalanan lintas negeri, Ibnu Batutah belajar melalui pengembaraan, Ibnu Khaldun membangun banyak pemikirannya melalui interaksi dengan masyarakat dan berbagai wilayah.


Pengalaman lapangan bukan musuh pendidikan. Pengalaman lapangan adalah salah satu sumber pendidikan. Tentu study tour modern tidak dapat disamakan dengan rihlah ilmiah para ulama, tetapi semangat dasarnya sama: belajar dari realitas. Karena itu yang harus diperbaiki bukan keberangkatan siswanya, melainkan tujuan keberangkatannya.


Masalah Sebenarnya: Komersialisasi, Bukan Kegiatannya

Ada satu bagian tulisan yang patut diapresiasi, yakni kritik terhadap biaya yang memberatkan orang tua. Ini adalah persoalan nyata, banyak sekolah memang terjebak dalam budaya konsumtif. Wisuda berubah menjadi proyek foto, study tour berubah menjadi wisata massal. Pentas seni berubah menjadi ajang kemewahan.


Namun akar masalahnya bukan kegiatan tersebut, akar masalahnya adalah komersialisasi pendidikan. Menghapus study tour tidak otomatis menghapus budaya konsumtif. Menghilangkan pentas seni tidak otomatis meningkatkan kualitas akademik. Yang dibutuhkan adalah tata kelola yang sehat, transparansi anggaran, dan orientasi pendidikan yang benar.


Sekolah yang Ideal

Sekolah ideal bukan sekolah yang hanya dipenuhi kegiatan akademik. Sekolah ideal juga bukan sekolah yang sibuk dengan acara seremonial. Sekolah ideal adalah sekolah yang mampu mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, karakter, pengalaman, spiritualitas, dan kebudayaan secara seimbang.


Anak tidak hanya membutuhkan kemampuan menjawab soal. Mereka membutuhkan keberanian berbicara, mereka membutuhkan kemampuan bekerja sama, mereka membutuhkan pengalaman memimpin, mereka membutuhkan ruang berekspresi, mereka membutuhkan kenangan indah tentang proses bertumbuh.


Pendidikan yang terlalu akademis berisiko melahirkan manusia yang cerdas tapi kering. Sebaliknya, pendidikan yang terlalu seremonial melahirkan manusia yang ramai tetapi dangkal. Tugas sekolah bukan memilih salah satunya melainkan mempertemukan keduanya. Karena hakikat pendidikan bukan sekadar menghasilkan nilai rapor yang tinggi, tapi juga membentuk manusia yang utuh.


Maka persoalan akhir tahun ajaran bukanlah bagaimana menghilangkan pentas seni, wisuda, atau study tour. Persoalan sesungguhnya adalah bagaimana memastikan seluruh kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses pendidikan yang bermakna.


Sekolah tidak boleh menjadi event organizer, tetapi sekolah juga tidak boleh berubah menjadi pabrik nilai yang miskin pengalaman kemanusiaan. Di antara keduanya terdapat jalan tengah yang lebih bijaksana: pendidikan yang berilmu sekaligus berjiwa. []


BACA JUGA:

Sekolah Tanpa Pendidikan: Menyoal Tradisi Nir-Intelektual Akhir Tahun Ajaran