Menimbang Kembali Kritik Atas Tradisi Akhir Tahun Sekolah

oleh Agung Aditya Subhan

24 Juni 2026 | 08:42

Penulis: Agung Aditya Subhan, M. Pd

Kekeliruan Dikotomi antara Intelektualitas dan Pengalaman

Tulisan tersebut secara implisit mempertentangkan kegiatan akademik dengan kegiatan pengalaman lapangan. Seolah-olah ketika siswa tampil dalam pentas seni atau mengikuti study tour, mereka sedang meninggalkan dunia intelektual.


Padahal penelitian pendidikan selama beberapa dekade menunjukkan sebaliknya. Kerangka Kompetensi Abad ke-21 yang dikembangkan OECD dan UNESCO menempatkan kreativitas, komunikasi, kolaborasi, kemampuan sosial, kepemimpinan, pemecahan masalah, dan kesadaran budaya sebagai kompetensi penting yang tidak dapat diperoleh hanya melalui pembelajaran di kelas.


Pentas seni yang dirancang dengan baik dapat melatih: keberanian tampil di depan public, kemampuan komunikasi, kerja sama tim, manajemen waktu, disiplin Latihan, kreativitas, apresiasi budaya, dan lainnya


Demikian pula study tour yang dirancang secara akademik dapat melatih: observasi lapangan, kemampuan bertanya, keterampilan penelitian sederhana, kemampuan menulis laporan, penguatan literasi kontekstual, kecakapan sosial.


Ironisnya, justru banyak perusahaan dan institusi saat ini mengeluhkan lulusan yang unggul secara akademik tetapi lemah dalam komunikasi, kepemimpinan, dan kerja sama. Apakah kelemahan itu dapat diatasi hanya dengan menambah jam pelajaran? Tentu tidak.


Realitas Lapangan yang Terlupakan

Sebagai guru dan pengelola sekolah, saya menemukan fakta yang berbeda dari narasi yang dibangun dalam tulisan tersebut. Sering kali siswa yang biasa-biasa saja di kelas justru menemukan kepercayaan dirinya melalui panggung seni.


Ada siswa yang tidak pernah menjadi juara akademik, tetapi mampu menjadi pemimpin tim produksi pentas sekolah. Ada siswa yang pendiam, tetapi berubah menjadi komunikator yang baik setelah menjadi pemandu dalam kegiatan kunjungan edukatif. Ada siswa yang tidak menonjol dalam ujian tertulis, namun menemukan bakatnya dalam seni, fotografi, dokumentasi, desain, atau kepemimpinan kegiatan.


Apakah semua pengalaman itu tidak termasuk pendidikan? Jika jawabannya tidak, maka definisi pendidikan kita terlalu sempit. Jika jawabannya ya, maka pentas seni dan kegiatan lapangan tidak dapat begitu saja dicap sebagai tradisi nir-intelektual.



BACA JUGA:

Sekolah Tanpa Pendidikan: Menyoal Tradisi Nir-Intelektual Akhir Tahun Ajaran