PERSIS dan Hari Santri: Merawat Ilmu, Menyiapkan Kader Muda, Melanjutkan Perjuangan

oleh -

•

26 Oktober 2026 | 21:56

Ilustrasi: Para santri menjadi kader muda PERSIS.

Bagi Pemuda PERSIS, hubungan itu bahkan terasa lebih dekat. Pemuda PERSIS lahir pada 22 Maret 1936 di Bandung sebagai bagian dari ikhtiar menyiapkan generasi muda penerus perjuangan dakwah Persatuan Islam. Sejak awal, keberadaan Pemuda PERSIS berkaitan erat dengan kebutuhan untuk membina kaum muda yang tidak hanya memiliki semangat keislaman, tetapi juga kesanggupan berpikir, berorganisasi, dan mengambil bagian dalam perjuangan.


Sejarah ini menegaskan bahwa Pemuda PERSIS bukan organisasi yang berdiri jauh dari tradisi pendidikan PERSIS, melainkan salah satu ruang tempat nilai dan semangat perjuangan itu diteruskan oleh generasi muda.


Tidak semua kader muda PERSIS menempuh jalur pendidikan yang sama. Sebagian tumbuh melalui pendidikan formal di Pesantren PERSIS, mendalami ilmu agama sekaligus membangun dasar keilmuan dan kepribadiannya.


Sebagian lainnya mengenal dan memperdalam tradisi keilmuan PERSIS melalui pengajian, halaqah, kajian, serta proses pengkaderan di lingkungan Pemuda PERSIS. Jalurnya mungkin berbeda, tetapi keduanya bertemu pada tanggung jawab yang sama: menjadi kader muda yang memahami ajaran Islam, memiliki kesadaran berjam’iyyah, dan bersedia melanjutkan kerja dakwah.


Di sinilah Pemuda PERSIS perlu memandang dirinya bukan hanya sebagai organisasi kepemudaan, melainkan juga sebagai ruang pendidikan dan pembentukan manusia. Pengkaderan bukan sekadar proses untuk mengisi struktur kepengurusan atau memenuhi kebutuhan regenerasi administratif.


Ia merupakan ikhtiar membentuk kader yang berilmu, berkarakter, mampu bekerja bersama, serta sanggup membaca persoalan umat dan zamannya. Seorang kader tidak cukup hanya mengenal sejarah organisasi dan menguasai materi pengkaderan; ia juga perlu menunjukkan bagaimana ilmu itu bekerja dalam sikap, keputusan, pelayanan, dan keberpihakannya kepada masyarakat.


Sebab, tantangan yang dihadapi generasi muda hari ini tidak selalu hadir dalam bentuk yang mudah dikenali. Ada persoalan kemiskinan dan ketimpangan, kerusakan lingkungan, perubahan teknologi, krisis keteladanan, melemahnya literasi, hingga kehidupan sosial yang semakin mudah terpecah oleh prasangka.


Menghadapi semua itu, semangat santri tidak cukup diwujudkan melalui simbol dan nostalgia. Ia harus hadir sebagai kemampuan memahami masalah secara jernih, menyampaikan kritik dengan ilmu, menawarkan jalan keluar, serta bekerja bersama masyarakat untuk menciptakan perubahan.


Dalam konteks tersebut, kader muda PERSIS perlu membawa dua bekal yang tidak dapat dipisahkan: kedalaman pemahaman keislaman dan keluasan kepedulian terhadap kehidupan. Ilmu agama memberikan arah dan landasan moral, sedangkan pengetahuan tentang masyarakat membantu kita memahami persoalan yang nyata.


Keduanya perlu bertemu dalam amal yang terukur. Sebab, dakwah bukan hanya tentang menyampaikan apa yang benar, tetapi juga tentang menemukan cara agar kebenaran itu dipahami, diamalkan, dan membawa kemaslahatan.


Hari Santri juga menjadi kesempatan bagi Pemuda PERSIS untuk kembali melihat hubungan antara pesantren dan gerakan kepemudaan. Pesantren menanamkan dasar keilmuan dan karakter, sementara organisasi menyediakan ruang bagi kader untuk belajar mengelola amanah, bekerja kolektif, menguji gagasan, dan berkhidmat kepada masyarakat.


Keduanya tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri. Pendidikan membekali kader dengan ilmu dan nilai; pengkaderan membantu mereka mengolah bekal itu menjadi kapasitas kepemimpinan dan kerja nyata. Dari hubungan yang saling menguatkan inilah generasi penerus jam’iyyah dapat tumbuh dengan akar yang kokoh sekaligus memiliki kemampuan menjawab perubahan zaman.


Pada akhirnya, Hari Santri bukan hanya milik mereka yang hari ini masih duduk di bangku pesantren. Ia juga milik mereka yang pernah belajar di sana, mereka yang terus belajar melalui halaqah dan pengkaderan, serta setiap orang yang berusaha menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.


Bagi kader Pemuda PERSIS, menjadi bagian dari tradisi santri berarti bersedia terus belajar, menjaga akhlak, merawat semangat tajdid, dan mengambil tanggung jawab dalam kehidupan umat. Status sebagai alumni pesantren atau peserta pengkaderan tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang penerus perjuangan; yang menentukan adalah bagaimana ia menjaga nilai dan mewujudkannya dalam tindakan.


Karena itu, memperingati Hari Santri seharusnya membuat kita bertanya kepada diri sendiri: apakah ilmu yang kita pelajari telah menjadikan kita lebih bermanfaat, apakah pengkaderan yang kita jalani telah membuat kita lebih siap memikul amanah, dan apakah keberadaan kita di tengah jam’iyyah telah memberi arti bagi orang lain?


Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar peringatan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi kesempatan untuk menilai kembali arah pendidikan dan perjuangan kita.


PERSIS telah mewariskan tradisi pendidikan, pesantren, dan pembinaan generasi yang panjang. Pemuda PERSIS memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa warisan tersebut tidak hanya tersimpan dalam catatan sejarah, tetapi terus hidup dalam kualitas kader dan kerja dakwah hari ini.


Para Rijalul Ghad dan Ummahatul Ghad sedang tumbuh, sementara kader-kader muda PERSIS sedang mengambil tempat dalam estafet perjuangan. Masa depan itu tidak akan terbentuk dengan sendirinya; ia membutuhkan pendidikan yang sungguh-sungguh, pengkaderan yang bermakna, dan kesediaan untuk terus bekerja.


Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa banyak orang yang telah menyelesaikan pelajaran, melainkan berapa banyak manusia yang tumbuh menjadi pembawa manfaat.


Dan ukuran keberhasilan kaderisasi bukan hanya berapa banyak kader yang berhasil dilahirkan, melainkan seberapa jauh mereka mampu menjaga ilmu, menegakkan nilai, serta melanjutkan perjuangan dengan cara yang relevan bagi zamannya.


Selamat Hari Santri. Dari pesantren, halaqah, dan ruang-ruang pengkaderan, mari kita rawat ilmu, kuatkan karakter, dan siapkan kader muda PERSIS yang bukan hanya mewarisi sejarah, tetapi juga sanggup menulis babak berikutnya bagi dakwah, jam’iyyah, dan Indonesia.


[]

BACA JUGA:

Karinding Oetara Warnai PERSIS Ramadhan Expo, Kesenian Santri yang Lahir dari Kreativitas dan Kegelisahan

Reporter: - Editor: Fia Afifah Rahmah