Oleh: Fajar Shiddiq (Kabid Kaderisasi PD Pemuda PERSIS Kabupaten Tasikmalaya)
Dalam sirah sahabat, sosok Abu Dzar al-Ghifari dikenal sebagai sahabat yang zuhud, jujur, dan berani menyuarakan kebenaran. Bahkan, Ia termasuk yang mendapatkan pujian dari Nabi Muhammad Saw: "Tidaklah bumi membawa dan tidak pula langit menaungi seseorang yang lebih jujur lisannya daripada Abu Dzar.” (H.R. Tirmidzi)
Namun, dari sosok Abu Dzar ada satu pelajaran yang tidak sederhana ketika Ia mendapat arahan dari Nabi soal kepemimpinan, beliau Saw suatu waktu berkata:
“Wahai Abu Dzar, aku melihatmu sebagai orang yang lemah, dan aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku sendiri…” (H.R. Muslim)
Penilaian ‘lemah’ terhadap Abu Dzar oleh Nabi bukan dalam konteks iman atau integritas, melainkan dalam kapasitas memikul beban kepemimpinan. Dari sini kita belajar bahwa kesalehan pribadi tidak otomatis berbanding lurus dengan kapasitas kepemimpinan.
Di titik ini, kita dipaksa membedakan dua hal yang sering disamakan: kesalehan moral dan kompetensi manajerial. Abu Dzar adalah teladan dalam yang pertama, tetapi tidak diposisikan dalam yang kedua oleh Nabi sendiri.
Artinya, kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar soal baik atau tidaknya seseorang, melainkan tentang kecocokan peran dan kekuatan mental dalam mengelola amanah.
Dalam perspektif kenabian —memotret arahan nabi di atas –, jabatan bukanlah simbol kemuliaan, melainkan beban yang berat. Nabi tidak ingin jabatan jatuh ke tangan orang yang tidak siap secara psikologis dan manajerial.
Sebab kepemimpinan menuntut lebih dari sekadar kejujuran: Ia menuntut ketegasan, kemampuan mengambil keputusan sulit, mengelola konflik, serta menjaga keseimbangan antara idealisme dan realitas.
Abu Dzar adalah pribadi yang sangat idealis—bahkan keras dalam memegang prinsip –. Dalam beberapa situasi, karakter seperti ini justru bisa menyulitkan dalam kepemimpinan yang membutuhkan fleksibilitas dan kompromi strategis.
Maka, ‘kelemahan’ yang dimaksud Nabi bukanlah celaan, tetapi diagnosis kepemimpinan yang sangat presisi.
Dari kisah Abu Dzar ini, kita juga bisa membaca perbedaan antara dua kata kunci penting dalam konteks kepemimpinan, yaitu leader dan manager. Seorang leader menggerakkan visi, membangkitkan semangat, dan menjaga arah.
Sementara manager memastikan sistem berjalan, sumber daya terkelola, dan target tercapai secara efektif. Tidak semua orang yang kuat sebagai leader akan otomatis kuat juga sebagai manager —dan sebaliknya.
Abu Dzar mungkin sangat kuat sebagai penjaga nurani umat dan dalam prinsip serta kejujuran, tetapi ketika dihadapkan dalam konteks tertentu bisa menjadi tantangan ketika dihadapkan pada tuntutan kepemimpinan yang membutuhkan keluwesan dan pengelolaan yang kompleks.
Di sinilah letak pelajaran penting pada konteks hari ini, organisasi yang sehat tidak hanya membutuhkan orang baik, tetapi juga orang yang tepat di posisi yang tepat.
Refleksi untuk Muktamar Pemuda PERSIS
Penilaian Nabi Saw terhadap Abu Dzar di atas jika ditarik dalam konteks Pemuda PERSIS, khususnya menjelang atau dalam momentum Muktamar mendatang menjadi sangat relevan.
Muktamar bukan sekadar ajang memilih figur populer atau yang paling dikenal kesalehannya, tetapi momentum strategis untuk menentukan arah organisasi ke depan melalui pemilihan kepemimpinan yang kompeten dan kontekstual.
Ada kecenderungan dalam banyak organisasi—termasuk organisasi keumatan—untuk memilih pemimpin berdasarkan kedekatan emosional, senioritas, atau reputasi moral semata.
Padahal, realitas organisasi modern menuntut lebih: kemampuan membaca zaman, mengelola program, membangun tim, dan mengambil keputusan yang kadang tidak populer namun diperlukan.
Jika pelajaran dari Abu Dzar diabaikan, maka organisasi berisiko terjebak dalam romantisme moral tanpa kekuatan struktural. Akibatnya, program berjalan lambat, konflik tidak terselesaikan, dan visi besar hanya menjadi slogan.
Muktamar seharusnya menjadi ruang ijtihad organisasi dalam menentukan siapa yang paling tepat, bukan siapa yang paling disukai. Sebab dalam logika kenabian, seseorang bisa sangat baik—bahkan mulia—tetapi tetap tidak tepat untuk memimpin dalam konteks tertentu.
Di sinilah pentingnya keberanian bersikap objektif: menilai kapasitas, rekam jejak, portofolio, dan kesiapan mental calon pemimpin. Bukan untuk merendahkan siapa pun, tetapi untuk menjaga amanah organisasi.
Di sisa waktu yang terhitung hanya satu pekan lagi, kisah Abu Dzar sengaja disuguhkan. Sebab di sini ada satu pelajaran penting untuk ribuan kader Pemuda PERSIS renungkan dan menjadi bahan refleksi.
Nabi Saw mengajarkan kejujuran yang langka dalam kepemimpinan: kejujuran untuk mengatakan bahwa tidak semua orang cocok memimpin, dan tidak semua yang ingin memimpin harus diberi kesempatan. Ini bukan bentuk penolakan terhadap individu, tetapi bentuk perlindungan terhadap amanah.
Bagi Pemuda PERSIS, refleksi ini penting agar kepemimpinan yang lahir dari muktamar bukan hanya baik secara moral, tetapi juga kuat secara manajerial dan relevan secara strategis.
Sebab di era yang kompleks ini, organisasi tidak cukup dipimpin oleh orang yang benar, tetapi harus oleh orang yang tepat.
[]
BACA JUGA:Sosialisasi Grand Design Muktamar Menguat dalam Rangkaian Turba Pemuda PERSIS