Oleh: K.H. Dr. Jeje Zaenudin, M.Ag (Ketua Umum PP PERSIS)
Ramadhan selalu datang dengan wajah yang sama: tenang, lembut, namun penuh kekuatan yang tidak terlihat. Ia mengetuk pintu hati setiap Mukmin agar kembali memandang hidup dengan kejernihan, dan mengingat bahwa manusia diciptakan bukan untuk berjalan sendirian.
Dalam bulan ini, Allah membentangkan karpet rahmat dan kesempatan agar setiap hamba dapat menata hubungan dengan-Nya sekaligus merekatkan hubungan dengan sesama.
Salah satu pesan paling agung dari Ramadhan adalah solidaritas—rasa kebersamaan, kepedulian, dan persaudaraan yang tumbuh dari iman dan diwujudkan melalui amal.
Puasa datang laksana sekolah kepedulian dan empati. Saat menahan lapar dan dahaga, seorang Mukmin seakan diajak untuk merasakan apa yang selama ini dirasakan oleh sebagian saudaranya yang kekurangan.
Lapar yang dirasakan bukan hanya sekadar ibadah fisik, tetapi jendela untuk melihat dunia orang lain. Di sinilah empati tumbuh, menyadarkan kita bahwa di balik kenyamanan yang kita rasakan, ada saudara-saudara yang tengah berjuang bertahan hidup.
Puasa sebagai madrasah al-ihsan, sekolah yang mengajarkan kepekaan. Ibadah ini menghancurkan egoisme, meluruhkan kesombongan, dan membungkam sifat mementingkan diri sendiri.
Betapa banyak orang yang selama satu tahun penuh tidak menyadari beratnya hidup kaum dhuafa, namun setelah merasakan lapar dari terbit sampai tenggelam matahari, hati menjadi lebih lunak dan tangan menjadi lebih mudah terulur.
Solidaritas tidak lahir dari teori, melainkan dari rasa. Ramadhan menghadirkan rasa itu dengan cara paling sederhana namun luar biasa efektif.
Ramadhan adalah kekuatan kebersamaan, dari hidangan iftar bersama hingga sujud bersama dalam tarawih.
Di malam-malam Ramadhan, kita melihat pemandangan indah yang jarang ditemukan di bulan lain. Orang-orang membuka pintu rumah untuk menyambut tamu berbuka. Masjid-masjid ramai dengan jamaah yang sebelumnya jarang hadir.
Dari anak kecil hingga orang tua, semua berdiri dalam satu shaf, menghadap satu kiblat, membaca takbir yang sama. Perbedaan sosial, ekonomi, jabatan, dan status seakan hilang ketika kaki-kaki tegak dalam shalat tarawih.
Inilah momentum langka yang mengajarkan umat bahwa kebersamaan bukan sekadar slogan, tetapi kekuatan yang mampu membangun peradaban. Solidaritas tumbuh ketika hati-hati disatukan oleh ibadah yang sama, tujuan yang sama, dan harapan yang sama untuk meraih ridha Allah.
Ramadhan mengingatkan kita bahwa umat yang kuat adalah umat yang saling menguatkan. Tidak ada yang dibiarkan berjalan sendiri; setiap kebaikan saling bersambung, setiap doa saling mengangkat, dan setiap langkah menuju Allah menjadi cahaya bagi yang lain.
Sedekah dan Zakat Menjahit Luka Sosial dengan Benang Kebaikan
Salah satu hikmah utama Ramadhan adalah meningkatnya semangat berbagi. Dari harta yang dititipkan Allah, seorang Mukmin diingatkan untuk menyucikannya melalui zakat, infak, dan sedekah. Al-Qur’an menegaskan bahwa dalam setiap rezeki yang kita terima, terdapat hak orang lain yang wajib disalurkan.
Di bulan suci ini, sedekah menjadi lebih bermakna karena dilakukan dengan hati yang bersih. Bahkan sedekah sekecil apa pun—segelas air untuk orang berbuka, sepotong kurma, senyum, atau tenaga—dapat menjadi jembatan persaudaraan.
Allah menjadikan zakat fitrah sebagai penjaga solidaritas: tidak boleh ada seorang pun yang merayakan Idul Fitri dengan kelaparan. Semua merasakan kegembiraan, semua mendapat ruang untuk tersenyum.
Ketika masyarakat menghidupkan zakat dan sedekah, luka-luka sosial dapat dijahit, jurang antara kaya dan miskin menyempit, dan rasa kebersamaan tumbuh subur. Ramadhan mengingatkan kita bahwa kekuatan umat tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi dari kualitas kepedulian.
Solidaritas sejati lahir dari hati yang bersih. Di sepertiga malam Ramadhan, ketika sebagian besar manusia terlelap, sebagian hamba bangkit berdiri, rukuk, sujud, dan memanjatkan doa dengan penuh harap.
Air mata yang jatuh di atas sajadah bukan hanya tanda penyesalan, tetapi juga tanda bahwa hati telah melembut. Jiwa yang lembut akan lebih peka pada kesulitan sesama.
Orang yang dekat dengan Allah tidak mungkin menutup mata terhadap penderitaan manusia. Semakin kuat hubungan dengan Rabb-nya, semakin kuat pula rasa tanggung jawab sosialnya.
Inilah yang diajarkan Nabi Muhammad Saw: ibadah yang baik harus melahirkan akhlak yang baik. Puasa yang benar harus melahirkan cinta kasih, kesabaran, dan pengorbanan.
Ramadhan memberikan kesempatan untuk membersihkan hati dari sifat iri, benci, dan dengki. Jika hati telah bersih, solidaritas tumbuh dengan sendirinya, seperti bunga yang tumbuh di tanah yang subur.
BACA JUGA:Sekum PERSIS KH. Dr. Haris Muslim: Ramadhan, Momen Latihan Kendalikan Lisan dan Perbuatan