Kabupaten Bandung, persis.or.id — Persoalan kaderisasi menjadi salah satu pembahasan penting dalam Sarasehan Himpunan Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswi Persatuan Islam (Hima-Himi PERSIS) Kabupaten Bandung yang digelar sebagai agenda penyerta Musyawarah Daerah PD Hima-Himi Kabupaten Bandung pada Ahad (04/10/2026).
Bertempat di Kampus IAI PERSIS Bandung, sejumlah mantan ketua dari berbagai periode mengungkapkan pengalaman mereka dalam menghadapi dinamika kader, mulai dari keterbatasan waktu, regenerasi, hingga upaya menciptakan ruang bertumbuh bagi anggota.
Mantan Ketua Pimpinan Daerah (PD)Himi PERSIS Kabupaten Bandung, Ratih Rahmawati, S.Ag., menceritakan tantangan kaderisasi yang dihadapi pada masa kepemimpinannya. Salah satu persoalan yang cukup terasa adalah bagaimana kader membagi waktu antara aktivitas organisasi, perkuliahan, pekerjaan, dan keluarga.
“Problematika kader pada zamannya adalah ketersediaan waktu antara kuliah, kerja dan keluarga, karena pada waktu itu banyak kader yang sudah menikah,” ungkap Ratih.
Namun, keterbatasan waktu tersebut tidak kemudian menjadi alasan untuk menghentikan proses pengembangan kader. Menurut Ratih, Himi PERSIS pada masa itu tetap berupaya menyediakan ruang bagi kader untuk berkembang, salah satunya melalui forum-forum diskusi.
Di tengah kesibukan kader, ruang diskusi menjadi salah satu sarana yang dipertahankan untuk memastikan kader tetap memiliki kesempatan belajar dan bertumbuh bersama.
Pengalaman berbeda disampaikan Nuriah Siti Khofifah, S.E. yang menghadapi persoalan regenerasi ketika dirinya terpilih menjadi ketua setelah menyelesaikan masa perkuliahan. Kondisi tersebut membuat proses pencarian kader yang memiliki kesamaan visi dan frekuensi gerakan menjadi tantangan tersendiri.
Menurut Nuriah, kondisi tersebut bahkan menyebabkan terjadinya pergantian tasykil hingga tiga kali. Dinamika itu kemudian berdampak pada munculnya persoalan dalam memahami dan melaksanakan program jihad organisasi.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa regenerasi bukan hanya berkaitan dengan keberadaan kader baru, tetapi juga menyangkut kesinambungan pemahaman, visi, dan orientasi gerakan dari satu periode kepada periode berikutnya.
Sementara itu, Jahira Salsabila, M.Ag., menyoroti pentingnya organisasi memiliki daya tarik bagi calon kader tanpa kehilangan identitas dan landasan geraknya. “Organisasi harus memiliki daya tarik tersendiri bagi para calon kader, namun sesuai dengan landasan gerak organisasi tersebut,” ungkap Jahira.
Ia juga menilai bahwa kader Kabupaten Bandung memiliki karakteristik tersendiri, terutama dalam hal ketertarikan terhadap kajian-kajian strategis. Karakter tersebut menurutnya perlu dibaca sebagai potensi yang dapat dikembangkan dalam membangun gerakan organisasi.
Pembahasan mengenai kaderisasi juga tidak terlepas dari upaya pendataan potensi kader. Salah seorang mantan pimpinan, Kimid, menyampaikan pengalaman mengenai upaya membentuk wadah pelajar dan mahasiswa sebagai salah satu langkah untuk mendata potensi kader di Kabupaten Bandung.
Selain itu, pada masanya, gerakan Himi PERSIS juga diarahkan untuk memperluas khidmat di ruang eksternal. Keterlibatan dalam berbagai ruang kepemudaan, pemberdayaan masyarakat, hingga advokasi menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat organisasi.
Berbagai pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa tantangan kaderisasi Hima-Himi PERSIS Kabupaten Bandung selalu berubah mengikuti kondisi zaman. Karena itu, regenerasi membutuhkan kemampuan untuk membaca kebutuhan kader tanpa meninggalkan identitas dan landasan gerakan organisasi.
Sarasehan kemudian menjadi ruang bagi kader lintas generasi untuk melihat kembali berbagai pengalaman tersebut sebagai bahan evaluasi sekaligus pembelajaran dalam menyiapkan kepemimpinan Hima-Himi PERSIS Kabupaten Bandung pada periode berikutnya.
[]
BACA JUGA:Sarasehan Hima-Himi Kabupaten Bandung, Ruang Refleksi Perjalanan Gerakan dari Masa ke Masa