Bandung, persis.or.id – Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS) mengadakan rapat koordinasi bersama Majelis Penasihat, IAI PERSIS Bandung, dan Universitas PERSIS, bertempat di lantai 4 Gedung Kantor PP PERSIS, Bandung. Rapat ini bertujuan untuk menyamakan persepsi terkait rencana penggabungan kampus-kampus perguruan tinggi PERSIS, serta membahas pola dan langkah strategis yang akan diambil demi kemajuan bersama.
Ketua Umum PP PERSIS, Al Ustaz Dr. Jeje Zaenudin, dalam pengantar dan taujihnya, menekankan pentingnya musyawarah dan tabayyun dalam menyikapi setiap kebijakan jamiyah. Ia mengingatkan, adab berjamiyah harus dijaga agar tidak mudah terpengaruh oleh opini keliru di media sosial yang keluar dari konteks, bahkan bisa ditunggangi oleh sentimen pribadi.
Lebih lanjut, Ustaz Jeje menjelaskan, ide penggabungan perguruan tinggi ini bukanlah keputusan yang mendadak, melainkan merupakan amanat historis dari para pendiri pendidikan Persis yang telah dirumuskan dengan landasan filosofis, yuridis, sosiologis, ideologis, dan praktis. Prinsip dasar pendidikan PERSIS adalah integrasi antara ilmu agama dan umum, meskipun dalam praktiknya ditempuh secara bertahap.
"Keinginan penyatuan ini didorong oleh harapan agar PERSIS ke depan memiliki universitas yang besar, kokoh, dan benar-benar unggul, bukan sekadar banyak lembaga," jelasnya.
Menanggapi kritik terhadap Surat Keputusan (SK) PP PERSIS mengenai penggabungan tersebut, Ustaz Jeje menegaskan, SK tersebut hanyalah sebagai dasar legalitas kerja bagi Bidang Tarbiyah, khususnya Bidgar Dikti, dalam membentuk tim kajian. Selain itu, SK tersebut bukan instruksi langsung penggabungan kampus secara otomatis, karena keputusan finalnya akan dikeluarkan oleh kementerian terkait.
Ketum PP PERSIS juga menanggapi munculnya penolakan terhadap rencana ini, yang menurutnya tidak proporsional dan emosional. Padahal, beberapa pimpinan IAI PERSIS sendiri sebelumnya telah menyampaikan dukungan terhadap ide penggabungan.
"PP PERSIS heran dengan munculnya penolakan yang justru bertentangan dengan aspirasi yang diterima sebelumnya," ujar Ustaz Jeje.
Meski demikian, PP PERSIS tetap terbuka terhadap masukan, saran, dan kritik yang disampaikan secara proporsional, etis, dan sesuai adab jamiyah. Bahkan, Ketum PP PERSIS menyatakan kesiapannya untuk merevisi SK jika terdapat kekeliruan dalam isi maupun redaksinya.
Menepis tudingan bahwa penggabungan ini bertujuan untuk meniadakan salah satu kampus, seperti IAI PERSIS, Ustaz Jeje menegaskan, itu adalah asumsi yang keliru.
"Visi pendidikan PERSIS adalah meningkatkan kualitas, status, dan efektivitas lembaga pendidikan agar lebih besar, kuat, dan efisien," tegasnya.
Ia juga menyebut bahwa berbagai model penggabungan masih terbuka, mulai dari penggabungan manajemen hingga institusi, dengan mempertimbangkan skema terbaik tanpa merugikan pihak manapun.
"PP PERSIS tidak akan mengorbankan lembaga yang telah dibangun dengan perjuangan besar. Sebaliknya, kami sedang mengikhtiarkan perawatan dan pengembangan dengan prinsip kemaslahatan bersama," tambahnya.
Menutup rapat, Ustaz Jeje kembali menekankan pentingnya kedewasaan dalam berjamiyah, serta menyerukan sikap tabayyun dan musyawarah sebagai jalan terbaik dalam menyikapi setiap kebijakan besar jamiyyah.
“Sebagaimana difatwakan oleh Dewan Hisbah pada sidang terakhirnya di Kabupaten Sumedang,” tutup Ketum PP PERSIS.
BACA JUGA: Universitas Persatuan Islam Sukses Tuntaskan Asesmen Akreditasi Tujuh Program Studi