Bandung, persis.or.id — Ketua Umum Ikatan Pelajar Persatuan Islam (IPP) menyoroti krisis spiritualitas sebagai salah satu persoalan mendasar yang dihadapi pelajar di tengah kompleksitas tantangan dakwah kontemporer.
Hal tersebut disampaikannya dalam sesi talkshow pada Grand Launching Muktamar Pemudi PERSIS yang diselenggarakan di Balai Kota Bandung, Ahad (11/10/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Ikatan Pelajar PERSIS hadir bersama Bidang Jam’iyyah PERSIS, Persatuan Islam Istri (PERSISTRI), serta unsur Barisan Muda PERSIS yang terdiri atas Pemuda PERSIS, Pemudi PERSIS, Hima PERSIS, Himi PERSIS, dan Ikatan Pelajar Putri PERSIS (IPPi).
Dalam pemaparannya, Ketua Umum IPP Ferdiansyah menjelaskan bahwa pelajar, yang mayoritas berada pada fase remaja, menghadapi persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga pembentukan karakter, pencarian identitas, dan penentuan arah kehidupan.
“Di era tantangan dakwah yang kompleks, karena pelajar berfokus pada pembinaan kader yang rata-rata usianya remaja, persoalan perundungan, budaya konsumtif, dan sikap apatis terhadap lingkungan menjadi persoalan yang nyata. Apalagi, remaja identik dengan pencarian identitas dirinya,” ungkapnya.
Ia menilai, derasnya arus informasi yang tersedia bagi remaja tidak selalu mempermudah mereka dalam menentukan arah hidup. Di satu sisi, informasi membuka beragam pilihan dan kesempatan untuk berkembang.
Namun, tanpa fondasi nilai dan pendampingan yang kuat, banyaknya pilihan tersebut justru berpotensi menimbulkan kebingungan dalam menentukan orientasi kehidupan.
“Banyaknya informasi yang seolah menjadi pilihan bagi remaja untuk menentukan jalan hidupnya justru bisa menjadi bias. Sebab, belum tentu pilihan tersebut menguatkan tujuan hidup, bahkan bisa menimbulkan misorientasi,” lanjutnya.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu ditanggapi melalui pendekatan dakwah yang tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan keagamaan, tetapi juga menyentuh fondasi spiritualitas remaja.
Pengenalan terhadap Allah sebagai Rabb menjadi bagian mendasar dalam proses pembinaan, agar pelajar memiliki pijakan nilai ketika menghadapi perubahan sosial dan perkembangan zaman.
“Yang paling mendasar adalah pengenalan remaja kepada Rabb-nya. Jangan-jangan para remaja lupa terhadap Tuhannya sampai bingung dengan alur hidupnya. Krisis spiritualitas ini menjadi syarat akan krisis identitas para pelajar,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya menempatkan pembinaan spiritual sebagai bagian integral dari kaderisasi pelajar. Dalam perspektif IPP, penguatan spiritualitas perlu berjalan beriringan dengan pembentukan adab, pengembangan kapasitas intelektual, dan penumbuhan tanggung jawab sosial.
Pelajar PERSIS tidak cukup hanya dibekali kemampuan memahami ajaran Islam, tetapi juga perlu memiliki kecakapan untuk membaca realitas, berpikir kritis, menyaring informasi, serta menghadirkan solusi atas persoalan yang dihadapi di lingkungan sekolah, pesantren, dan masyarakat.
Sejalan dengan gagasan “Dakwah Membumi, Entitas Meninggi”, IPP memandang bahwa dakwah di kalangan pelajar harus mampu menjawab persoalan konkret generasi muda tanpa kehilangan landasan nilai Islam.
Perundungan, budaya konsumtif, sikap apatis terhadap lingkungan, serta kebingungan dalam pencarian identitas perlu menjadi perhatian bersama dalam agenda pembinaan dan kaderisasi.
Lebih jauh, sinergi antar otonom di lingkungan PERSIS menjadi penting untuk membangun kesinambungan pembinaan lintas generasi.
Setiap otonom memiliki ruang dan karakteristik pembinaan masing-masing, tetapi seluruhnya dapat saling menguatkan dalam menyiapkan kader yang memiliki kedalaman spiritual, kematangan intelektual, integritas moral, dan kepedulian terhadap umat.
Bagi IPP, proses tersebut diarahkan pada pembentukan kader ilmuwan-ulama, yakni generasi yang memadukan penguasaan ilmu pengetahuan dengan landasan tauhid, pemahaman keislaman, dan komitmen untuk memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.
Melalui forum talkshow dalam Grand Launching Muktamar Pemudi PERSIS ini, isu pembinaan remaja dan penguatan spiritualitas menjadi pengingat bahwa masa depan dakwah tidak hanya ditentukan oleh banyaknya aktivitas organisasi, tetapi juga oleh kualitas manusia yang dibentuk melalui proses kaderisasi yang berkelanjutan.
“Kaderisasi pada akhirnya bukan sekadar memperkenalkan organisasi kepada pelajar, melainkan membantu mereka mengenal Rabb-nya, memahami dirinya, membaca zamannya, dan menemukan arah pengabdian dalam kehidupan,” tandasnya.
[]
BACA JUGA:PP IPP dan PP IPPI Resmi Luncurkan Sekolah Ideologi Pelajar PERSIS di Bandung