Bandung, persis.or.id – Persatuan Islam (PERSIS) terus memperkuat kaderisasi dan wawasan kebangsaan melalui penyelenggaraan Nadwah Siyasah sebagai ruang pembelajaran politik yang memadukan pendekatan akademis dan praktis.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya strategis organisasi dalam melahirkan kader yang memahami politik secara komprehensif sekaligus mampu berkontribusi dalam pembangunan masyarakat dan bangsa.
Ketua Bidang Garapan Siyasah dan Kebijakan Publik Pimpinan Pusat (PP) PERSIS, Dr. Muslim Mufti, M.Si menegaskan, Nadwah Siyasah merupakan salah satu strategi kaderisasi yang bertujuan meningkatkan literasi politik kader.
"Melalui kegiatan ini, peserta didorong untuk memiliki kesadaran politik yang sehat, kemampuan menganalisis berbagai isu strategis, memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara, serta berpartisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ujarnya dalam acara Nadwah Siyasah PERSIS di Balai Besar Gitu dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat, Jalan Diponegoro Bandung, Ahad 14 Juni 2026.
Menurutnya, program tersebut akan terus berlanjut sebagai sarana pemberian pengetahuan politik yang aplikatif dan akademis guna memperkuat peran jam’iyyah dalam menghadapi dinamika sosial dan kebangsaan yang terus berkembang.
Dalam kesempatan yang sama, Muhammad Khoerudin Amien menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara Islam dan nasionalisme. Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, kepemimpinan (imamah) merupakan suatu kebutuhan yang penting dalam kehidupan umat.
"Karena itu, pemahaman terhadap konsep kepemimpinan dan tata kelola masyarakat perlu terus dikembangkan agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan prinsip-prinsip syariat," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Jam’iyyah PP PERSIS, KH. Salam Rusyad, Lc., menyoroti pentingnya transformasi organisasi sebagai bagian dari agenda besar PERSIS menuju Milenium II.
Ia menjelaskan bahwa salah satu dari tujuh poin transformasi yang tengah diusung adalah perubahan paradigma dari gerakan yang bersifat reaktif menjadi gerakan yang visioner dan berorientasi pada pembangunan peradaban.
“PERSIS tidak cukup hanya menjawab persoalan yang muncul, tetapi harus mampu memimpin arah peradaban umat,” ujarnya.
Menurut KH. Salam Rusyad, cita-cita PERSIS untuk mewujudkan penerapan nilai-nilai syariah dalam seluruh aspek kehidupan harus diwujudkan melalui pendekatan yang konstruktif dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, siyasah atau politik PERSIS tidak boleh dipahami sekadar sebagai upaya meraih kekuasaan, melainkan sebagai instrumen untuk menghadirkan kemaslahatan dan menegakkan keadilan di tengah masyarakat.
Dijelaskan, politik dalam perspektif Islam merupakan bagian dari dakwah peradaban (civilizational dakwah), yakni ikhtiar mewujudkan masyarakat yang beriman, berilmu, beramal, adil, dan berkemajuan. Dalam kerangka tersebut, tauhid menjadi fondasi utama kehidupan politik.
“Dalam Islam, kekuasaan adalah amanah. Hukum harus berorientasi pada keadilan, pemimpin bertanggung jawab kepada Allah SWT, dan seluruh aktivitas politik harus tunduk pada nilai-nilai moral,” jelasnya.
Lebih lanjut, Ia memaparkan lima tahapan strategis transformasi Islam yang menjadi landasan perubahan sosial, yaitu Islamisasi individu, keluarga, masyarakat, institusi, dan kebijakan.
Tahapan tersebut diyakini sebagai proses berkesinambungan untuk menghadirkan nilai-nilai Islam dalam seluruh sendi kehidupan.
Pada era Milenium II, lanjutnya, PERSIS tidak hanya berupaya mempertahankan eksistensi organisasi, tetapi juga memastikan keberadaannya tetap menjadi instrumen yang efektif dalam menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Karena itu, Grand Desain PERSIS Milenium II diarahkan pada pembangunan sumber daya manusia unggul, penguatan institusi, transformasi dakwah, serta peningkatan kontribusi nyata bagi kemajuan peradaban.
“PERSIS masa depan harus menjadi gerakan yang memadukan kemurnian manhaj Al-Qur’an dan Sunnah, kedalaman ilmu pengetahuan, kekuatan organisasi, kecanggihan teknologi, serta visi peradaban yang kuat,” ungkapnya.
Melalui Nadwah Siyasah, PERSIS berharap lahir generasi kader yang tidak hanya memahami dinamika politik secara kritis, tetapi juga mampu menjadikan politik sebagai sarana dakwah, pelayanan umat, dan pembangunan peradaban yang unggul, adil, serta bermartabat.
Dengan demikian, organisasi dapat terus memberikan kontribusi nyata bagi terwujudnya Indonesia yang berkemajuan dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
[]
BACA JUGA:Launching Madrasah Siyasah, PP PERSIS Dorong Kader Miliki Politik Cerdas dan Berintegritas