Bandung, persis.or.id — Peran kalangan pengusaha dalam menopang gerakan dakwah Persatuan Islam (PERSIS) menjadi salah satu sorotan dalam Konferensi Ulama dan Intelektual PERSIS yang berlangsung di Ruang Pertemuan Lantai 3 PP PERSIS, Bandung, Selasa, 16 Juni 2026.
Dalam sesi tersebut, H. Abdulloh yang mewakili Himpunan Pengusaha Persatuan Islam (HIPPI) menegaskan bahwa sejarah perkembangan PERSIS tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para saudagar dan pelaku usaha.
Menurut Abdulloh, sejak masa awal berdirinya, PERSIS bertumbuh di lingkungan para pengusaha yang memiliki kemandirian ekonomi. Kemandirian tersebut melahirkan keberanian dalam menyampaikan dakwah pemurnian Islam tanpa tekanan pihak luar, termasuk pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Para pendiri dan tokoh awal PERSIS memiliki kebebasan berpikir dan bergerak karena tidak bergantung pada kekuatan politik maupun ekonomi tertentu. Ia menjelaskan bahwa dukungan pengusaha tidak hanya berupa pendanaan.
Pada era 1930-an, aktivitas perdagangan justru menjadi jalur strategis penyebaran gagasan PERSIS. “Literatur dan buku-buku dakwah didistribusikan melalui jaringan perdagangan tekstil dari Bandung ke berbagai daerah,” ujar Wakil Sekretaris HIPPPI ini.
Di tengah arus transaksi ekonomi, pemikiran dan dakwah PERSIS ikut menyebar ke berbagai wilayah Nusantara. Abdulloh yang akrab disapa Kang Aab ini juga mengingatkan kontribusi tokoh-tokoh pengusaha yang rela mengorbankan aset pribadinya untuk kepentingan dakwah.
Salah satu contoh yang dikemukakan adalah Haji Muhammad Yunus yang menyediakan fasilitas percetakannya guna mendukung penyebaran literasi dakwah. Langkah tersebut dinilai menjadi fondasi penting bagi penguatan tradisi intelektual PERSIS pada masa awal pertumbuhannya.
Selain dalam bidang literasi, jejak peran pengusaha juga terlihat pada pembangunan infrastruktur jam’iyah. Banyak pesantren PERSIS dan masjid-masjid yang berdiri berkat dukungan filantropi para pengusaha lokal.
Namun, Abdulloh menilai pola tersebut selama ini masih bersifat individual dan perlu ditransformasikan menjadi gerakan yang lebih terorganisasi agar memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.
“Melalui HIPPI, para pengusaha PERSIS didorong untuk bertransformasi dari sekadar donatur menjadi bagian dari korporasi jam’iyah yang terstruktur,” tandasnya.
Langkah yang ditawarkan meliputi penguatan kelembagaan dan jaringan pengusaha PERSIS, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pembentukan unit-unit bisnis berbasis syirkah yang keuntungannya dapat dialokasikan untuk mendukung program-program dakwah PERSIS.
[]
BACA JUGA:HIPPI dan LWP Perkuat Sinergi, Kelola Dana Wakaf Produktif untuk Pertumbuhan Berkelanjutan