Bandung, persis.or.id - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS), Dr. KH Haris Muslim, menilai pelaksanaan ibadah haji 1447 Hijriah atau 2026 Masehi berjalan dengan lancar dan sukses.
Menurutnya, sejumlah perbaikan yang dilakukan Pemerintah Arab Saudi dan otoritas penyelenggara haji berhasil meningkatkan kualitas layanan, terutama dalam pengaturan mobilisasi jamaah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
KH. Haris Muslim yang juga mendapat amanah sebagai Musyrif Dini dari Kementerian Haji dan Umrah, Republik Indonesia mengatakan, indikator keberhasilan paling terlihat pada kelancaran pergerakan jamaah menuju Arafah hingga Mina.
"Secara umum pelaksanaan haji tahun 1447 Hijriah berjalan lancar dan sukses. Mobilisasi atau pengaturan jamaah, khususnya di Armuzna, bisa dikatakan lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya," ujar Ustaz Haris.
Ia menjelaskan, seluruh jamaah yang mengikuti skema reguler telah tiba di Arafah pada malam 9 Zulhijah, sementara jamaah yang mengikuti program Tarwiyah juga sudah berada di Arafah sebelum waktu Zuhur. Dengan demikian, rukun utama ibadah haji berupa wukuf di Arafah dapat dilaksanakan dengan baik oleh seluruh jamaah.
Kelancaran juga terlihat saat perpindahan jamaah dari Arafah menuju Muzdalifah dan Mina. Menurut Ustaz Haris, pelaksanaan mabit dan murur di Muzdalifah tahun ini menjadi salah satu yang terbaik.
"Pada pukul 07.00 pagi tanggal 10 Zulhijah, seluruh jamaah sudah bergerak menuju Mina. Muzdalifah sudah clear sejak pagi hari. Ini merupakan capaian yang jarang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya," katanya.
Selain mobilisasi jamaah, Ia juga mengapresiasi pengelolaan dam atau hadyu yang dinilai lebih tertib dibanding musim haji sebelumnya. Melalui sistem resmi Adahi yang dikelola Pemerintah Arab Saudi, penyembelihan dam dapat dilakukan secara lebih terkontrol dan sesuai ketentuan syariat.
Data yang dihimpun menunjukkan sekitar 150 ribu jamaah haji Indonesia melaksanakan pembayaran dan penyembelihan dam melalui sistem tersebut.
"Melalui Adahi, penyembelihan dam menjadi lebih tertib, lebih terkontrol, dan memberikan kepastian bahwa pelaksanaannya dilakukan sesuai syariat pada waktu yang telah ditentukan," ungkapnya.
Meski memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan haji tahun ini, Haris menegaskan masih terdapat sejumlah catatan yang perlu menjadi perhatian dalam persiapan musim haji mendatang.
Menurutnya, aspek ritual dan pemahaman manasik haji masih perlu diperkuat, baik di kalangan jamaah maupun petugas haji.
"Sisi utama dari pelaksanaan haji adalah ibadah dan ritualnya. Karena itu pemahaman manasik dan teknis pelaksanaan ibadah haji perlu terus diperkuat kepada jamaah maupun petugas," tandasnya.
Ia juga mengingatkan agar penerapan konsep fikih taisir atau fikih kemudahan tidak bergeser menjadi fikih tasahul, yakni kecenderungan mencari kemudahan tanpa mempertimbangkan alasan syar'i yang kuat.
Menurutnya, berbagai keringanan dalam pelaksanaan ibadah haji harus tetap didasarkan pada kondisi kesulitan nyata yang dialami jamaah, baik karena faktor kesehatan, usia maupun kondisi lapangan.
Dalam evaluasinya, Ia juga turut menyoroti pelaksanaan skema tanazul, yakni kebijakan yang memungkinkan jamaah menginap di hotel saat hari tasyrik guna mengurangi kepadatan tenda di Mina.
Secara konsep, kebijakan tersebut dinilai baik. Namun dalam praktiknya masih ditemukan sejumlah kendala karena fasilitas utama tetap berada di Mina, sementara jamaah tetap harus berjalan menuju kawasan tersebut untuk melaksanakan mabit.
"Perlu ada evaluasi lebih lanjut terkait tanazul karena dalam praktiknya tidak sesederhana yang dibayangkan. Jamaah tetap menghadapi sejumlah tantangan di lapangan," paparnya.
Catatan lain yang menjadi perhatian adalah terkait penerapan istitha'ah kesehatan. Meski standar kesehatan tahun ini dinilai lebih ketat dibanding sebelumnya, Haris menilai masih terdapat jamaah berisiko tinggi yang lolos dan berangkat ke Tanah Suci.
Sebab, kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan selama operasional haji berlangsung.
"Ke depan proses istitha'ah kesehatan perlu lebih teliti dan lebih cermat agar risiko di lapangan dapat diminimalisasi," katanya.
Petugas Haji Perlu Perkuat Pemahaman Manasik dan Kondisi Lapangan
Terkait persiapan penyelenggaraan haji tahun 2027, Ia menyambut baik langkah pemerintah yang mulai melakukan persiapan lebih awal, termasuk proses seleksi calon petugas haji.
Ia berharap, para petugas tidak hanya dibekali kemampuan administratif dan teknis pelayanan, tetapi juga mendapatkan penguatan pemahaman fikih haji, manasik, serta kondisi lapangan di Makkah, Madinah, dan Armuzna.
"Petugas haji tahun ini sudah bekerja dengan baik. Namun, ke depan, mereka perlu dibekali wawasan manasik yang lebih kuat, pemahaman kondisi lapangan yang lebih matang, serta kemampuan kerja sama tim yang lebih baik," ungkapnya.
Menurutnya, petugas haji merupakan ujung tombak pelayanan jamaah sehingga perlu memiliki pemahaman yang komprehensif, tidak hanya terkait aspek operasional, tetapi juga aspek ibadah dan ritual yang menjadi inti pelaksanaan haji.
Ia menilai, pembekalan mengenai kondisi riil di lapangan, khususnya saat puncak pelaksanaan haji di Armuzna, harus menjadi bagian penting dalam pelatihan petugas.
Dengan demikian, petugas dapat memberikan pendampingan yang tepat ketika menghadapi berbagai situasi yang dialami jamaah.
Selain itu, kemampuan koordinasi dan kerja sama lintas bidang juga perlu terus diperkuat agar pelayanan kepada jamaah semakin efektif.
PP PERSIS optimistis, apabila proses seleksi dilakukan lebih awal dan diikuti pembinaan yang memadai, kualitas petugas haji Indonesia akan semakin meningkat.
“Sehingga mampu mendukung penyelenggaraan ibadah haji yang lebih baik pada masa mendatang,” pungkasnya.
[]
BACA JUGA:Sekum PP PERSIS, KH Haris Muslim Diamanahi Musyrif Diny Haji 2026: Siap Kawal Kemabruran Jamaah