Bandung, persis.or.id — Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia (Wamenlu RI), Anis Matta mendorong Persatuan Islam (Persis) mengambil peran lebih besar dalam menghadapi perubahan geopolitik global dan menjadi salah satu kekuatan penggerak peradaban Indonesia.
Hal itu disampaikan Anis Matta dalam silaturahmi bersama Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS) di Kantor PP PERSIS, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Selasa (29/9/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Anis Matta menguraikan pandangannya mengenai perjalanan PERSIS, sejarah Indonesia, serta perubahan tatanan global yang menurutnya tengah memasuki fase penting.
Anis menyebut terdapat tiga arus utama yang perlu menjadi perhatian. PERSIS sebagai gerakan yang berkembang dari orientasi keagamaan menuju gagasan tentang negara dan pembangunan dunia peradaban.
Menurut Anis, perjalanan Indonesia dapat dilihat dalam tiga gelombang besar yakni pencarian jari diri menjadi Indonesia, menjadi negara modern, dan era peradaban. Ia juga mengembangkan gagasan tersebut dalam bukunya yang berjudul Gelombang Ketiga Indonesia.
“Indonesia itu shifting dari kerajaan-kerajaan kecil menjadi lebih besar,” kata Anis dalam pertemuan tersebut.
Ia menilai Indonesia memiliki karakter historis yang berbeda dengan banyak negara lain di dunia Islam. Menurutnya, identitas keislaman Indonesia telah berkembang dalam perjalanan sejarah bangsa dan kemudian berinteraksi dengan gagasan kebangsaan serta sistem kenegaraan.
“DNA Indonesia adalah Islam. Konstitusi Indonesia adalah Pancasila yang merupakan hasil perdebatan panjang tokoh-tokoh yang belajar di Timur Tengah dan Barat,” ujarnya.
Anis kemudian mengaitkan posisi Indonesia dengan perkembangan ekonomi dan geopolitik global. Ia menyebut Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran lebih besar karena memiliki populasi Muslim yang besar sekaligus kapasitas ekonomi yang terus berkembang.
Ia menyoroti posisi Indonesia dalam kelompok negara dengan ekonomi terbesar dunia atau G20. Menurutnya, dari negara-negara mayoritas Muslim, Indonesia, Turki, dan Arab Saudi merupakan bagian dari kelompok tersebut.
Bagi Anis, perpaduan antara agama, demokrasi, dan kesejahteraan menjadi salah satu karakter penting yang dapat dikembangkan Indonesia dalam menghadapi perubahan dunia.
“Indonesia mayoritas Islam dan ekonominya kuat. Indonesia masuk G20, hanya tiga negara Islam, yakni Indonesia, Turki dan Arab Saudi,” katanya.
Tatanan Global Mengalami Perubahan
Dalam paparannya, Anis juga menyinggung turbulensi geopolitik yang terjadi di berbagai kawasan. Ia menyebut kondisi tersebut melahirkan tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia.
Ia menilai perubahan kekuatan ekonomi dan politik dunia membuka ruang bagi Indonesia untuk meningkatkan posisi strategisnya. Bahkan, ia melihat ekonomi Indonesia berpotensi masuk jajaran lima besar, bahkan empat besar dunia.
Anis menyebut dunia saat ini menghadapi krisis yang bersifat sistemis, mulai dari krisis ideologi, institusi, kepemimpinan, hingga perubahan keseimbangan kekuatan global.
Menurutnya, kondisi tersebut tercermin dalam berbagai peristiwa besar seperti perang, krisis ekonomi, serta revolusi sosial dan politik.
“Tatanan global yang sekarang ini sudah mati, namun tatanan baru belum muncul. Inilah pertanyaan dunia,” ujar Anis.
Dalam situasi tersebut, Anis menilai Indonesia perlu mengambil posisi sebagai salah satu pengisi arus utama dalam pembentukan tatanan global yang baru.
Ia menyebut terdapat tiga arus baru yang perlu diperhatikan, yakni hubungan antara agama, negara, dan dunia peradaban. Dalam konteks tersebut, Persis dinilai memiliki ruang untuk bergerak dari gerakan keagamaan menuju peran yang lebih luas dalam kehidupan bernegara dan peradaban dunia.
“Indonesia harus menjadi pengisi arus utama. Dan kontennya adalah gerakan. Semua hal yang baik mengalir ke Indonesia sebagai implementasi negara peradaban,” katanya.
Anis juga mengingatkan adanya potensi menghadapi periode resesi yang panjang. Menurutnya, tantangan ekonomi ke depan tidak semata berkaitan dengan harga minyak yang tinggi, tetapi juga persoalan yang lebih kompleks dalam sistem ekonomi global.
PERSIS Didorong Menjadi Produsen Perubahan
Dalam konteks peran PERSIS, Anis menilai organisasi tersebut memiliki sejarah dalam melahirkan pemimpin nasional. Karena itu, Persis dinilai memiliki modal sosial dan intelektual untuk berkontribusi dalam menghadapi perubahan geopolitik.
“Persis melahirkan pemimpin nasional dan menjadi solusi Indonesia dalam turbulensi geopolitik,” tuturnya.
Ia mendorong PERSIS tidak hanya menjadi organisasi yang merespons perubahan, tetapi juga menjadi produsen perubahan dan ikut menentukan arah peradaban.
“Ini yang harus dilakukan Persis sehingga bisa menjadi jantung dan tulang punggung negara,” kata Anis.
Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP PERSIS), Dr. KH. Jeje Zaenudin, M.Ag., mengatakan bahwa Anis Matta bukan sosok yang asing bagi PERSIS. Menurutnya, Anis telah beberapa kali melakukan silaturahmi dengan PERSIS.
Jeje mengatakan gagasan mengenai tiga gelombang perjalanan Indonesia yang disampaikan Anis relevan untuk menjadi bahan refleksi PERSIS dalam menentukan arah gerak organisasi.
“Indonesia mengalami tiga gelombang. Pertama, gelombang menemukan jati diri. Kedua, gelombang mau seperti apa kita. Ketiga, gelombang what next?” ujar Jeje.
Menurut Jeje, gagasan tersebut dapat diterapkan dalam konteks perjalanan PERSIS sebagai gerakan tajdid yang telah berkembang menjadi organisasi kemasyarakatan.
“Bisa diterapkan oleh PERSIS. Harokah tajdid, menjadi ormas. Mau apa ke depan? Apa peran kita yang berdampak bagi dunia,” katanya.
Jeje menilai PERSIS perlu memperluas perspektif dalam menentukan peran organisasi, termasuk dengan melihat dinamika geopolitik dan dampaknya terhadap perkembangan dakwah Islam di tingkat global.
Ia mengatakan PERSIS perlu mulai mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar mengenai kontribusi organisasi bagi agama, bangsa, dan dunia.
“Saatnya kita bertanya, apa yang akan diberikan kepada agama, bangsa dan dunia. Apakah menjadi pengamat dan penggembira? Atau menjadi pelaku,” ujar Jeje.
Karena itu, menurut Jeje, perkembangan geopolitik dunia perlu menjadi salah satu pertimbangan dalam merumuskan strategi dakwah dan gerakan PERSIS ke depan.
“Apa peran geopolitik dunia terhadap dakwah dunia Islam, sehingga PERSISbisa merumuskan strategi,” katanya.
BACA JUGA:Grand Launching BMT Berkah Umat STAIPI Jakarta, Perkuat Ekosistem Ekonomi Syariah Berbasis Kampus