Menjaga Cahaya Dakwah dan Pendidikan di Ujung Kepulauan Sumenep
Reporter: Previo Caesar Aslah (Kafilah duat 2026)
Di tengah hamparan laut Kabupaten Sumenep, tepatnya di Kecamatan Sapeken, Desa Pagerungan Kecil, berdiri sebuah lembaga pendidikan Islam yang terus bertahan dalam kesederhanaan. Pondok Pesantren Ma’had Al Ittihad Al Islami Al Barkah hadir bukan sekadar sebagai tempat menimba ilmu, tetapi sebagai ruang pembinaan ruhani, tempat nilai-nilai Islam ditanamkan dan dijaga di wilayah kepulauan.
Pesantren ini berdiri sejak tahun 1990, lahir dari semangat dakwah dan niat yang kokoh untuk menghadirkan pendidikan Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mudir ‘Am Pondok Pesantren Al Barkah, Ustadz Moh. Shadiq Ja’far, menjelaskan bahwa pesantren ini merupakan bagian dari perluasan sayap dakwah Persatuan Islam (Persis), dengan tanggung jawab membentuk santri yang memahami Islam secara kaffah yang tidak parsial, tidak setengah-setengah.
Seiring perjalanan waktu, Pondok Pesantren Al Barkah berkembang dengan menaungi beberapa jenjang pendidikan formal, mulai dari PAUD, Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA). Pada tahun ajaran 2025/2026 berjalan, jumlah santriwati di Pondok Pesantren Al Barkah tersebar di dua jenjang pendidikan. Pada tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs), tercatat sebanyak 49 santriwati, dengan rincian 21 orang di kelas pertama, 17 orang di kelas kedua, dan 11 orang di kelas ketiga. Sementara itu, pada jenjang Madrasah Aliyah (MA), jumlah santriwati mencapai 39 orang, yang terdiri dari 14 santriwati kelas empat, 12 santriwati kelas lima, dan 13 santriwati kelas enam.
Adapun jumlah santriwan juga menunjukkan distribusi yang relatif seimbang. Di jenjang MTs, terdapat 34 santriwan, dengan komposisi 12 orang di kelas pertama, 10 orang di kelas kedua, dan 12 orang di kelas ketiga. Sedangkan pada jenjang MA, jumlah santriwan mencapai 35 orang, masing-masing 14 santriwan di kelas empat, 14 santriwan di kelas lima, dan 7 santriwan di kelas enam.
MTs Al Barkah kini telah memasuki angkatan ke-31, menandai konsistensi panjang pesantren dalam menjaga pendidikan Islam di wilayah terpencil. Sementara itu, Madrasah Aliyah Al Barkah berdiri sejak tahun 2007 dan pada tahun ajaran ini telah memasuki angkatan ke-16.
Pulau Kecil dengan Keterbatasan Nyata
Pagerungan Kecil adalah pulau yang dapat disusuri dengan sepeda motor sekitar 30 menit dari satu ujung ke ujung lainnya. Di balik keindahan lautnya, pulau ini masih dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur. Listrik belum menyala selama 24 jam penuh. Sebagian warga masih mengandalkan panel surya dan charger aki. Meski jaringan PLN telah masuk, distribusinya belum merata ke seluruh wilayah pulau.
Kondisi geografis ini berjalan beriringan dengan realitas sosial ekonomi masyarakat. Mayoritas warga menggantungkan hidup pada laut. Mereka bekerja sebagai nelayan, berburu ikan yang kemudian dijual hingga ke Pulau Jawa. Penghasilan tidak menentu, sangat bergantung pada cuaca. Ketika angin besar dan ombak berubah menjadi badai, aktivitas melaut terpaksa dihentikan. Hidup pun ikut tertahan, menunggu cuaca reda, menunggu waktu yang tepat, menunggu pasang dan surut air laut.
Kebutuhan pokok pun harus didatangkan dari luar pulau. Stok sembako terbatas, dan barang-barang sederhana seperti sabun, sampo, serta kebutuhan harian lainnya menjadi relatif mahal karena harus dibeli dari Jawa dan dikirim menyeberangi laut.
Kehidupan Santri di Tengah Keterbatasan
Realitas sosial tersebut turut membentuk wajah kehidupan santri di Pondok Pesantren Al Barkah. Pada tahun ajaran 2025/2026, santri yang belajar di pesantren ini berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Di jenjang MTs, puluhan santri putra dan putri menjalani pendidikan dasar keislaman, sementara di MA, para santri melanjutkan pendalaman ilmu agama dan akademik sebagai bekal dakwah di masa depan.
Operasional makan santri hingga kini masih menjadi tantangan tersendiri. Setiap hari, orang tua santri membawa makanan sebanyak tiga kali untuk anak-anak mereka. Selain itu, santri dibebankan infak harian sebesar Rp2.000, atau sekitar Rp60.000 per bulan, meskipun tidak semua santri mampu membayarnya secara rutin. Dalam kondisi tersebut, peran para asatidz menjadi sangat penting. Tidak hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai teladan kesabaran, keikhlasan, dan pengabdian.
Ritme Harian Pendidikan Pesantren
Kehidupan santri di Pondok Pesantren Al Barkah berjalan dalam ritme yang teratur dan disiplin. Hari mereka dimulai sejak pukul 03.00 dini hari. Para santri bangun untuk melaksanakan shalat tahajud, lalu dilanjutkan shalat Subuh berjamaah. Setelah itu, hingga sekitar pukul 05.30, santri mengikuti tilawah jama’i, ziyadah hafalan Al-Qur’an, serta menghafal matan Tuhfatul Athfal.
Pagi hari diisi dengan piket kebersihan, membersihkan lingkungan pesantren, dilanjutkan persiapan mandi dan makan. Menjelang pagi, santri melaksanakan shalat Dhuha, kemudian menyampaikan kultum singkat secara bergiliran. Kegiatan belajar mengajar (KBM) berlangsung hingga waktu Dzuhur. Setelah makan siang dan shalat Dzuhur, santri beristirahat hingga menjelang Ashar.
Selepas Ashar, tilawah jama’i kembali dilaksanakan, disusul pelajaran kepesantrenan hingga sore hari. Malam hari diisi dengan shalat Magrib dan Isya berjamaah, tilawah, murojaah Al-Qur’an, serta murojaah matan Tuhfatul Athfal. Setelah makan malam yang kembali dibawa oleh orang tua santri mengikuti belajar malam hingga pukul 21.00, sebelum akhirnya diwajibkan tidur dengan lampu dimatikan.
Menariknya, di pesantren ini hari libur hanya jatuh pada hari Jumat. Sementara hari Ahad atau Minggu, kegiatan KBM dan aktivitas pesantren tetap berjalan seperti biasa.
Study Tour sebagai Penunjang Dakwah dan Ilmu
Di antara program yang menunjang perkembangan dakwah dan wawasan santri adalah kegiatan study tour yang dilaksanakan setahun sekali. Kegiatan ini menjadi sarana penting bagi Pondok Pesantren Al Barkah untuk membuka cakrawala santri, sekaligus memperluas jejaring dakwah dan pendidikan.
Melalui study tour, Ma’had Al Barkah menjalin relasi dan kerja sama dengan berbagai lembaga pendidikan, termasuk universitas di Pulau Jawa, baik dalam negeri maupun luar negeri. Program ini diharapkan menjadi jembatan bagi santri untuk mengenal dunia luar tanpa tercerabut dari nilai-nilai Qur’an dan Sunnah yang mereka pelajari di pesantren.
Jembatan Dakwah di Wilayah Kepulauan
Di tengah keterbatasan geografis, ekonomi, dan infrastruktur, Pondok Pesantren Al Barkah tetap berdiri sebagai jembatan dakwah Persis di wilayah kepulauan. Pesantren ini menjaga eksistensi dakwah Islam yang murni, sekaligus menjadi benteng pendidikan bagi masyarakat pesisir.
Di pulau kecil yang sunyi, dengan listrik yang tak selalu menyala dan laut yang menentukan ritme hidup, cahaya ilmu tetap dijaga pelan, konsisten, dan penuh keikhlasan.
Sebagai bagian dari ikhtiar menjaga keberlangsungan dakwah dan pendidikan di wilayah kepulauan ini, kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Rumah Zakat yang telah memberikan dukungan nyata terhadap perjalanan dakwah di Pondok Pesantren Ma’had Al Ittihad Al Islami Al Barkah. Bantuan dan perhatian yang diberikan menjadi penguat langkah para asatidz dan santri dalam menuntut ilmu serta menebarkan nilai-nilai Islam di tengah keterbatasan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas setiap kebaikan dengan pahala yang berlipat ganda, melapangkan rezeki para donatur, dan menjadikan dukungan ini sebagai amal jariyah yang terus mengalir hingga akhir hayat.
BACA JUGA:Kafilah Du'at Kebun Tebu Lampung Barat Bantu Penyaluran Berkah Ramadan LAZ PERSIS