Gorontalo, persis.or.id - Madrasah Diniyah Ma'rifah PERSIS Gorontalo mengawali perjalanannya dengan strategi memperkenalkan pendidikan Islam kepada masyarakat tanpa langsung menonjolkan identitas organisasi. Langkah tersebut ditempuh untuk membangun kepercayaan orang tua yang saat itu belum banyak mengenal Persatuan Islam (PERSIS).
Ketua Pimpinan Wilayah (PW) PERSIS Gorontalo, Ustaz Ramli Djaffar, mengungkapkan perjalanan tersebut dalam rapat evaluasi dan persiapan Festival Anak Saleh serta Wisuda Santri ke-5 di Gorontalo, Sabtu (31/10/2026).
Ustaz Ramli menjelaskan, penggunaan nama Ma'rifah pada awal pendirian madrasah merupakan bagian dari strategi untuk meyakinkan masyarakat agar bersedia menyekolahkan anak-anak mereka. Selain itu, langkah tersebut juga dimaksudkan untuk mempermudah madrasah memperoleh dukungan fasilitas dari pemerintah maupun lembaga lain.
"Dahulu kami bersembunyi di balik nama Ma'rifah ketika merintis Madrasah Diniyah. Kami lakukan strategi itu karena dua hal, agar masyarakat yang belum paham apa itu PERSIS yakin memasukkan anaknya di sekolah kami dan agar mudah mendapatkan fasilitas baik dari pemerintah maupun lembaga lain," ujar Ustaz Ramli.
Menurut dia, strategi tersebut membuahkan hasil. Madrasah Diniyah Ma'rifah kini mulai mendapat kepercayaan masyarakat sekaligus dukungan dari sejumlah lembaga, salah satunya Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Gorontalo.
Selama dua tahun terakhir, madrasah tersebut menerima subsidi melalui nota kesepahaman (MoU) dengan Baznas Kota Gorontalo. Bantuan itu digunakan untuk mendukung pembayaran honor tenaga pendidik.
“Dari tujuh tenaga pendidik yang dimiliki, lima orang di antaranya mendapat dukungan pembiayaan penuh dari Baznas,” tambah Ustaz Ramli.
Selain itu, ia menambahkan, Baznas Provinsi Gorontalo juga beberapa kali menyalurkan santunan kepada masyarakat dhuafa melalui Madrasah Diniyah Ma'rifah.
Lebih lanjut, Ustaz Ramli mengungkapkan, selama kurang lebih empat tahun, keberadaan PW PERSIS Gorontalo tidak banyak ditonjolkan di balik pengelolaan madrasah. Namun, seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat, identitas organisasi kini mulai diperkenalkan secara terbuka.
Perkembangan itu terlihat dari jumlah santri yang terus bertambah. Jika pada awal berdiri madrasah hanya memiliki 13 santri, kini jumlahnya telah melampaui 100 orang.
Bahkan, tingginya minat masyarakat membuat pihak madrasah belum dapat menerima seluruh calon peserta didik. Keterbatasan ruang kelas dan tenaga pendidik menjadi kendala utama dalam menampung pendaftar baru.
Kepercayaan masyarakat, lanjut Ustaz Ramli, juga terlihat dari keterlibatan para orang tua dalam program Pesantren Al-Qur'an Dewasa dan Lansia PERSIS Gorontalo yang mulai digagas sekitar enam bulan lalu.
"Alhamdulillah hari ini progresnya terus berkembang. Dari awalnya santri hanya 13 orang, hari ini jumlahnya lebih dari 100 orang. Bahkan saat ini kami menolak siswa-siswi yang mau didaftarkan karena faktor kelas dan tenaga pendidiknya yang masih terbatas," ungkapnya.
Seiring perkembangan tersebut, Ustaz Ramli menegaskan, PW PERSIS Gorontalo kini mulai memperkenalkan identitas jam'iyyah secara terbuka di lingkungan Madrasah Diniyah Ma'rifah. Langkah ini dilakukan agar masyarakat mengetahui bahwa lembaga pendidikan tersebut berada di bawah pembinaan organisasi PERSIS.
Rapat yang digelar pada Sabtu itu sekaligus membahas evaluasi dan persiapan Festival Anak Saleh, Khatam Al-Qur'an ke-4, serta Wisuda Santri ke-5 yang direncanakan berlangsung dalam waktu dekat.
Ustaz Ramli berharap, Madrasah Diniyah Ma'rifah PERSIS dapat terus berkembang dan menjadi salah satu alternatif pendidikan keagamaan bagi anak-anak yang menempuh pendidikan formal di sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama di Gorontalo. []
BACA JUGA:Muswil V PERSIS Gorontalo Dibuka Waketum PP PERSIS, Tekankan Peran Strategis Jamiyyah