Bandung, persis.or.id — Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar PERSIS (PP IPP) menggelar kegiatan Melancong Sejarah PERSIS di Kota Bandung, Ahad (04/01/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pelajar PERSIS untuk menelusuri kembali jejak historis perjuangan Persatuan Islam (PERSIS) dalam lintasan dakwah dan pembaruan pemikiran Islam di Indonesia.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta mengunjungi sejumlah titik bersejarah yang memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan PERSIS.
Di antaranya adalah Gang Pak Gade serta kawasan PPI 01 Pajagalan, yang dikenal sebagai ruang penting dalam dinamika awal gerakan PERSIS.
Melalui kunjungan langsung ke lokasi-lokasi tersebut, peserta diajak memahami sejarah tidak hanya sebagai catatan masa lalu, tetapi sebagai sumber inspirasi perjuangan.
Ketua Umum PP IPP PERSIS, Ferdiansyah, menegaskan bahwa melancong sejarah ini merupakan ikhtiar agar kader PERSIS tidak tercerabut dari akar sejarahnya.
Menurutnya, perjuangan para pendahulu PERSIS berlangsung dalam medan dakwah yang penuh tantangan dan keterbatasan, namun tetap dijalani dengan keteguhan prinsip dan keikhlasan.
Ia menjelaskan, kegiatan melancong sejarah ini menjadi salah satu ikhtiar agar tidak melupakan perjuangan orang tua dulu.
“Bagaimana mereka berdakwah dengan medan dakwah yang kala itu sangat sulit. Maka, kita sebagai kader PERSIS selayaknya harus menggantikan orang tua kita dalam berjuang dan berdakwah,” ujar Ferdiansyah.
Kegiatan SIPP tersebut diikuti oleh para pelajar yang merupakan delegasi dari berbagai pimpinan daerah IPP.
Kehadiran peserta dari beragam wilayah tersebut menunjukkan semangat kolektif pelajar PERSIS dalam merawat ingatan sejarah sekaligus memperkuat identitas ideologis organisasi di tengah tantangan zaman.
Melalui kegiatan melancong sejarah ini, PP IPP berharap para pelajar tidak hanya mengenal PERSIS sebagai organisasi, tetapi juga memahami nilai-nilai perjuangan yang melandasinya.
Dengan demikian, sejarah tidak berhenti sebagai romantisme masa lalu, melainkan menjadi pijakan untuk melanjutkan dakwah dan pengabdian di masa depan.
Ia menambahkan, pengenalan sejarah secara langsung di ruang-ruang autentik perjuangan diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran ideologis pelajar PERSIS.
Dengan memahami sejarahnya, kader tidak hanya mengenal PERSIS sebagai organisasi formal, tetapi sebagai gerakan nilai yang menuntut keberlanjutan perjuangan.
Bangun Paradigma Ulama-Ilmuwan
Ferdiansyah menegaskan pentingnya membangun paradigma ulama-ilmuwan sejak usia pelajar sebagai fondasi kaderisasi ulama masa depan.
Ferdiansyah menjelaskan bahwa SIPP dirancang sebagai program awal kaderisasi ulama dengan kerangka berpikir ulama-ilmuwan.
Yakni sosok ulama yang tidak hanya memiliki otoritas keilmuan keislaman, tetapi juga kemampuan analitis, metodologis, dan tanggung jawab sosial dalam merespons persoalan umat.
“SIPP adalah ikhtiar awal kami dalam menyiapkan kader ulama sejak usia pelajar. Paradigma ulama-ilmuwan yang kami dorong menuntut penguasaan ilmu-ilmu dasar keislaman sekaligus kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab terhadap persoalan umat,” ujar Ferdiansyah.
Menurutnya, kaderisasi ulama tidak dapat dilakukan secara instan dan pragmatis, melainkan harus dimulai dari proses pembinaan ideologis dan keilmuan yang terstruktur.
Oleh karena itu, SIPP memadukan penguatan ilmu-ilmu dasar Islam dengan pembentukan cara pandang kritis terhadap realitas sosial dan sejarah.
Melalui SIPP, PP IPP menegaskan arah gerak kaderisasinya untuk melahirkan generasi ulama-ilmuwan yang berakar pada tradisi keilmuan Islam, memiliki kejernihan metodologi, serta mampu menjawab tantangan zaman dengan sikap intelektual dan keberpihakan pada umat.
[]
BACA JUGA:IPP PERSIS Tasikmalaya Gelar ROFI 1 Vol 2, Cetak Kader Kritis dan Responsif