Karinding Oetara Warnai PERSIS Ramadhan Expo, Kesenian Santri yang Lahir dari Kreativitas dan Kegelisahan

oleh Anggita Aufa Marwah

07 Maret 2026 | 13:59

Karinding Oetara: Kreativitas Santri PERSIS Menghidupkan Dakwah Melalui Seni

Bandung, persis.or.id — Penampilan grup musik tradisional Karinding Oetara menjadi salah satu sajian menarik dalam rangkaian acara PERSIS Ramadhan Expo yang digelar di Trans Studio Bandung, Jum'at (6/3/2026). Grup kesenian yang berasal dari kalangan santri ini berhasil menarik perhatian pengunjung dengan alunan musik karinding yang khas serta sarat makna.


Kang Dhifad, salah satu anggota Karinding Oetara menjelaskan bahwa kelompok ini berawal dari rasa kejenuhan dan “kegabutan” para santri yang sebelumnya tergabung dalam grup musik lain. Dari kondisi tersebut, mereka kemudian mencoba mengeksplorasi wahana kesenian yang baru dan terasa asing bagi mereka, hingga akhirnya menemukan karinding sebagai media ekspresi.


“Karinding Oetara ini lahir dari kegabutan dan kejenuhan kami di grup musik sebelumnya. Akhirnya kami mencoba sesuatu yang baru dan berbeda, yaitu memainkan karinding sebagai bentuk kreativitas kesenian santri,” ujarnya.


Nama Karinding Oetara sendiri memiliki makna tersendiri. Istilah “Oetara” merujuk pada letak geografis para anggotanya yang berasal dari wilayah Tasik Utara. Selain itu, kata “Oetara” juga dimaknai sebagai simbol untuk mengutarakan berbagai pesan dan nilai yang ingin mereka sampaikan melalui karya musik.


Dalam setiap penampilannya, Karinding Oetara selalu berusaha menghadirkan lagu-lagu yang memiliki pesan mendalam. Salah satu yang ditampilkan pada penampilan terakhir di acara tersebut merupakan karya asli mereka yang berasal dari sajak atau musikalisasi puisi.


Puisi tersebut ditulis oleh ulama Persis, Syarif Sukandi, yang berisi pesan reflektif tentang kehidupan manusia agar senantiasa mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Melalui musik karinding yang sederhana namun khas, pesan spiritual tersebut disampaikan dengan cara yang unik dan menyentuh.


“Lagu terakhir tadi berasal dari sajak ulama Persis, Syarif Sukandi. Maknanya mengingatkan kita bahwa hidup di dunia ini harus selalu ingat kepada kematian. Kenapa juga dinamakan ‘Utara’, karena kami ingin mengutarakan apa yang para ulama Persis utarakan melalui karya seni,” jelasnya.


Meski mendapat sambutan positif dari para pengunjung, para anggota Karinding Oetara mengakui bahwa penampilan mereka dalam acara tersebut masih belum maksimal. Mereka berharap ke depan dapat mempersiapkan diri dengan latihan yang lebih matang sehingga dapat memberikan penampilan yang lebih baik.


Selain itu, mereka juga berharap semakin banyak santri yang tertarik untuk mengenal dan mengembangkan kesenian tradisional. Menurut mereka, kesenian dapat menjadi salah satu sarana dakwah sekaligus media ekspresi kreatif bagi generasi muda.


Karinding Oetara pun berharap kegiatan seperti PERSIS Ramadhan Expo dapat kembali diselenggarakan di masa mendatang dengan cakupan yang lebih luas. Dengan persiapan yang lebih matang, mereka bertekad untuk menghadirkan penampilan yang lebih maksimal serta terus menghidupkan kesenian tradisional di kalangan santri. []

BACA JUGA:

PERSIS Ramadhan Expo 2026 di Trans Studio Mall Bandung, Ini Rangkaian Agendanya