Oleh: Elmyra Amanda, S.Ag, Ketua Bidang Kajian Keilmuan PW Himi PERSIS Jawa Barat
Sebuah revolusi yang digagas oleh perempuan tidak akan bisa lepas dari sisi kelembutan. Perjuangan pada masa pra kemerdekaan menghidupkan semangat perempuan untuk bangkit dari kegelapan. Baiknya dalam simbol kelembutan itu seringkali terpancar nilai yang kuat saat perempuan berani bersuara dalam kebenaran demi menggapai sebuah tujuan.
Sebelum kemerdekaan ada dalam genggaman, nasib perempuan pada masa itu terjebak dalam kegelapan. Adalah sampah, saat mereka melihat perempuan jika tidak segera dijadikannya sebagai budak.
Namun, kekuatan pemikiran beliaulah yang mengantarkannya pada narasi paling bersejarah bagi kita, sebuah emansipasi dan kepedulian terhadap perempuan. Ialah bernama ibu Raden Ajeng (R.A.) Kartini, seorang perempuan hebat dari Jepara.
Namun tidak hanya ibu Kartini yang kuat akan pemikirannya dan tangguh dalam prinsipnya, salah satu perempuan hebat itu juga hadir di daerah Sumatera Barat. Beliau sangat familiar di kalangan muslimah, bahkan hinga ke mancanegara. Itulah sosok perempuan cantik bernama ibu Rahmah El Yunusiyah.
Ibu Rahmah El Yunusiyah merupakan tokoh perempuan luar biasa yang lahir sebagai aktivis dakwah. Beliau fokus berkecimpung di dunia pendidikan dan aksi nyata pada masyarakat di masa itu.
Kesungguhan dalam mencari ilmu, keberaniannya dan juga keteguhan hatinya mampu membawanya pada keberanian perjuangan melawan penjajah dengan membentuk organisasi bernama TKR dan Pasukan Srikandi.
Tidak hanya itu, beliau juga membantu kebutuhan logistik pada masyarakat padang saat itu. Ibu Rahmah El Yunusiyah membawa kita pada karakter perempuan yang asli.
Melihat sudut pandang perempuan yang tak hanya harus cantik, tapi kita juga perlu untuk berpikir cerdas, religius, terampil dan memiliki keberanian untuk menyuarakan kebenaran tanpa peduli halang rintang. Tentunya menjadi tangguh dan mandiri adalah impian setiap perempuan.
Dengan kemandirian membuktikan perempuan untuk terus mencintai dirinya, tidak bergantung pada orang lain dan terus bertumbuh seperti bunga indah di taman.
Semangat yang dimiliki oleh kedua tokoh ini, tidak akan lekang oleh waktu. Pesan yang disampaikan juga akan tetap bergema kuat dalam sukma. Mereka menyampaikan bahwa perempuan berhak memiliki mimpi setinggi langit, dan perempuan harus kuat juga berani.
Di masa lalu, "kegelapan" bagi perempuan adalah keterbatasan akses pendidikan, pelecehan, dan sempitnya ruang gerak bagi perempuan yang mengharuskan mereka untuk tetap hidup dalam bayang-bayang gelap.
Namun, berkat keberanian Ibu Rahmah El Yunusiyah dan Ibu R.A. Kartini serta tokoh perempuan lain atas keterlibatannya dalam perjuangan kemerdekaan dengan kebangkitan peradaban, akhirnya cahaya kesetaraan dan harapan untuk bangkit telah menyingsing dengan indah.
Dewasa ini, kita memang sudah hidup di era perempuan yang bisa menjadi apa saja. Perempuan bisa menjadi pendidik, pemimpin perusahaan, ilmuwan, seniman, hingga penggerak organisasi dan hal lainnya.
Namun, tantangan baru muncul "Bagaimana kita tetap bisa melangkah maju dengan gagah berani tanpa kehilangan jati diri dan kelembutan hati yang menjadi kekuatan kita?"
Dunia saat ini membutuhkan tangan-tangan lembut dengan sentuhan kreatifitas perempuan hebat. Berkarya dengan tidak hanya tentang menghasilkan sesuatu yang bisa dilihat, tetapi tentang bagaimana kita bisa berdampak positif bagi lingkungan kita.
Mulai membentuk keberanian dalam berkarya ialah berani mengambil risiko, berani menyuarakan kebenaran untuk membela yang lemah dan memberikan perspektif yang penuh empati. Dan tentunya berani menjadi diri sendiri serta menunjukan kelembutan hati, karena dengan demikian akan mengantarkannya pada ketulusan jiwa.
Seorang perempuan yang berani berkarya dengan hati yang lembut, maka Ia akan memimpin dengan cinta, bekerja dengan dedikasi, dan menciptakan perubahan dengan keanggunannya.
Kita ciptakan kolaborasi untuk bahu membahu agar membentuk peradaban bangsa yang kuat. Inilah nilai luhur yang dititipkan oleh dua tokoh hebat dengan kecerdasan yang berpadu dengan budi pekerti juga nilai pendidikan dan keberanian yang mantap.
Untuk perempuan-perempuan hebat di luar sana, jangan pernah ragu dengan kapasitas yang dimiliki. Teruslah belajar, teruslah bertumbuh, dan jangan pernah berhenti dalam menebar manfaat. Jadilah perempuan mandiri secara pikiran, dan gerakan, namun tetap rendah hati dalam perilaku dan tindakan.
Dunia harus mengenalmu bukan hanya dari kesuksesanmu, tetapi juga karena kebaikan budimu. Karena akhirnya, peradaban suatu bangsa akan sangat bergantung pada kualitas perempuan di dalamnya.
Kita adalah rahim peradaban, maka dari itu mari kita lanjutkan estafet perjuangan ini dengan berani dan berkarya. Tetaplah menjaga kelembutan hati sebagai arah kehidupan.
[]
BACA JUGA:Refleksi 29 Tahun HIMI PERSIS: Kontributor Cendekiawan Persatuan Islam