Sarasehan Hima-Himi Kabupaten Bandung, Ruang Refleksi Perjalanan Gerakan dari Masa ke Masa

oleh M Aditya Ramadan

•

06 Oktober 2026 | 13:25

Kegiatan sarasehan Hima Himi PERSIS Kabupaten Bandung sebagai agenda penyerta Musda.

Kabupaten Bandung, persis.or.id — Pada Ahad (04/10/2026), Pengurus Daerah Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PD Hima PERSIS) dan Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (Himi PERSIS) Kabupaten Bandung menggelar sarasehan yang menghadirkan para mantan Ketua PD Hima dan Himi PERSIS Kabupaten Bandung dari berbagai periode.


Selaian sebagai salah satu agenda penyerta Musyawarah Daerah (Musyda) ini, kegiatan juga menjadi ruang refleksi perjalanan organisasi, sekaligus menatap arah gerakan pada masa yang akan datang.


Ketua PD Hima PERSIS Kabupaten Bandung, Fauzi Hamdani, S.Pd., menyampaikan bahwa sarasehan menjadi momentum penting bagi kader untuk melihat kembali perjalanan organisasi sejak awal berdiri hingga kondisi gerakan saat ini.


“Diadakannya sarasehan ini adalah momentum bagi kader untuk merefleksikan pergerakan Hima-Himi PERSIS Kabupaten Bandung dari awal berdiri hingga saat ini,” ungkap Fauzi di IAI PERSIS Bandung..


Menurutnya, pengalaman para mantan pimpinan merupakan bagian penting dari sejarah organisasi yang perlu diketahui oleh kader hari ini.


Dengan menghadirkan para ketua dari berbagai periode, kader dapat memperoleh gambaran mengenai dinamika, tantangan, serta keputusan-keputusan strategis yang pernah diambil dalam perjalanan Hima-Himi PERSIS Kabupaten Bandung.


Senada dengan hal tersebut, Ketua PD Himi PERSIS Kabupaten Bandung, Siti Nurohmah Asania, S.Sos., menilai bahwa sarasehan bukan sekadar agenda seremonial, tetapi menjadi ruang untuk mengambil pelajaran dari perjalanan kepemimpinan sebelumnya.


“Agenda ini sangat penting dihadiri dan dimaknai bersama, karena dalam momentum ini sangat banyak evaluasi yang dapat diambil untuk kepemimpinan selanjutnya,” tutur Siti.


Sarasehan tersebut menghadirkan sejumlah mantan Ketua PD Hima PERSIS, di antaranya Adi Tahir Nugraha, M.Ag., Muhammad Nur Rahman, S.Pd., Amirul Muttaqien, S.Ag., Defa Hudzaifa, S.Sos., dan Fahmi Mujahid Waliyuddin, S.Ag.


Sementara dari jajaran mantan Ketua PD Himi PERSIS hadir Ekie Batholah Wahidiyah, S.Ag., Ratih Rahmawati, S.Ag., Jahira Salsabila, M.Ag., dan Nuriah Siti Khofifah, S.E.


Dalam forum tersebut, para mantan pimpinan membagikan pengalaman kepemimpinan mereka, mulai dari persoalan keanggotaan, kaderisasi, dinamika internal organisasi, pengembangan ruang diskusi, hingga keterlibatan Hima-Himi PERSIS dalam isu sosial kemasyarakatan.


Salah satu pengalaman disampaikan Ekie Batholah Wahidiyah, yang merupakan ketua pertama Himi PERSIS setelah pemekaran Himi Baraya atau Bandung Raya. Ia mengungkapkan bahwa pada masa kepemimpinannya, terdapat sejumlah persoalan mendasar terkait keanggotaan, termasuk ketentuan kader Himi PERSIS yang tidak dapat merangkap keanggotaan dengan Pemudi PERSIS.


Sementara itu, Amirul Muttaqien menekankan bahwa karakter gerakan Hima PERSIS memiliki kekhasan tersendiri dan berbeda dengan Pemuda PERSIS.


Menurutnya, perbedaan karakter gerakan tersebut justru menjadi ruang yang memberikan kesempatan lebih luas bagi banyak kader untuk mengambil peran dan berkhidmat di Jam’iyyah PERSIS.


Forum kemudian berkembang menjadi ruang pertukaran pengalaman antargenerasi. Para kader mendapatkan kesempatan untuk melihat bahwa setiap periode memiliki persoalan dan tantangan yang berbeda, tetapi tetap memiliki benang merah yang sama, yakni menjaga keberlangsungan gerakan Hima-Himi PERSIS di Kabupaten Bandung.


Melalui sarasehan ini, perjalanan organisasi tidak hanya dipandang sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai bahan evaluasi dan pijakan untuk merumuskan gerakan Hima-Himi PERSIS Kabupaten Bandung pada periode berikutnya.


[]

BACA JUGA:

SIKAMI PERSIS Satukan Langkah Kader Mudi Kabupaten Bandung