Oleh: Fia Afifah Rahmah, S.Sos (Wakil Ketua PC Pemudi PERSIS Cianjur)
Perjalanan Commuter Line (KRL) arah Bekasi biasanya riuh dengan obrolan ringan para pekerja yang melepas penat. Namun, sore itu menjadi berbeda ketika sebuah benturan keras menghantam salah satu rangkaian kereta. Yang memilukan, titik benturan telak mengenai gerbong khusus wanita.
Kecelakaan kereta yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026, melibatkan KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak bagian belakang KRL. Dampak terparah terjadi pada gerbong khusus wanita yang berada di ujung rangkaian KRL, hingga menyebabkan luka-luka dan korban jiwa.
Kecelakaan ini menyisakan duka mendalam karena seluruh korbannya adalah perempuan. Mereka mayoritas adalah pekerja sektor formal dan pelaku UMKM yang baru pulang mencari nafkah.
Bahkan, kerusakan parah yang terjadi pada gerbong khusus wanita itu membuat suasana proses evakuasi menjadi sangat emosional.
Salah satunya terlihat pada potongan kejadian saat petugas menemukan adanya cooler bag ASIP di dalam gerbong. Adegan ini seolah menunjukkan bahwa langkah sang Ibu untuk pulang meraih anaknya, tidak sampai.
Ini adalah sepenggal cerita seorang ibu yang tetap berjuang memberi yang terbaik untuk anaknya, bahkan di tengah pekerjaan kantor dan perjalanan pulang pergi yang harus ditempuh setiap hari.
Bahu Tangguh di Balik Sosok Lembut
Peristiwa ini membuka mata kita tentang realitas sosial saat ini. Banyak perempuan yang saat ini bukan lagi sekadar "pendamping".
Banyak dari korban tersebut yang merupakan tulang punggung keluarga. Perempuan pekerja saat ini bukan sekadar mengejar karier, melainkan sedang bertaruh nyawa demi bertahan hidup.
Banyak dari mereka adalah perempuan yang harus membiayai anak sekaligus orang tua yang sudah lanjut usia, atau sering disebut ‘generasi sandwich’.
Terbayang bahwa sebelum naik kereta pagi buta, mereka sudah berkutat dengan urusan dapur. Bahkan saat pulang malam, mereka masih memikirkan tugas sekolah anak.
Pemilihan KRL juga menjadi bukti ketergantungan pada transportasi publik. KRL menjadi pilihan karena lebih hemat biaya dan waktu, meski mereka harus berdesakan di gerbong khusus demi sedikit rasa aman.
Bagi mereka, bekerja bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Mereka adalah "pejuang subuh" yang seringkali melupakan lelahnya sendiri demi senyum orang rumah.
Kemuliaan Perempuan dalam Islam
Dalam pandangan Islam, apa yang dilakukan para wanita ini—keluar rumah untuk membantu ekonomi keluarga—adalah ibadah yang sangat tinggi nilainya.
Rasulullah Saw sendiri sangat memuliakan wanita. Ketika beliau menyebut "Ibu" sebanyak tiga kali, itu bukan sekadar urutan, melainkan pengakuan atas beban berat yang dipikul perempuan.
Al-Qur'an melalui Surat An-Nisa memberikan kedudukan terhormat bagi perempuan. Janji Allah sangat jelas: "Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga..." (QS. An-Nisa: 124).
Keringat yang jatuh saat mereka berdesakan di kereta demi mencari nafkah, insya Allah dihitung sebagai tetesan pahala yang menghapus dosa.
Tragedi di Bekasi ini adalah pengingat bahwa para korban bukan sekadar angka. Mereka wafat dalam keadaan berikhtiar—sebuah jalan yang dalam banyak riwayat disejajarkan dengan kemuliaan para pejuang di jalan Allah.
‘Hati-Hati di Jalan’: Kalimat Sederhana yang Menjelma Luka
Sebelum berangkat kerja, mungkin banyak dari para korban yang mendengar—atau justru mengucapkan—kalimat sederhana: ‘Hati-hati di jalan, ya.’
Selama ini, kita menganggap kalimat itu hanyalah pelengkap pamitan atau pengisi pesan singkat. Namun, pasca-tragedi di Bekasi ini, kalimat tersebut kini seakan memiliki makna yang berbeda.
‘Hati-hati di jalan’ menjadi sebuah kontrak tak tertulis bahwa seseorang akan kembali ke rumah dalam keadaan utuh.
Mengucapkan ‘hati-hati’ juga adalah cara sederhana untuk mengatakan ‘aku masih membutuhkanmu di sini.’
Bagi para ibu dan istri yang menjadi korban, kalimat itu adalah doa yang mereka bawa di atas rel, sebuah pengingat bahwa ada nyawa dan masa depan keluarga yang mereka pikul di pundak mereka.
Kini, setiap kali kalimat itu terdengar, ia bukan lagi sekadar basa-basi, melainkan sebuah pengingat betapa rapuhnya garis antara ‘pergi mencari nafkah’ dan ‘pergi untuk selamanya.’
‘Hati-hati di jalan’ adalah harapan agar sang pejuang nafkah bisa kembali memeluk buah hatinya. Kini, kalimat itu meninggalkan tanya yang tak terjawab bagi keluarga yang menanti.
Kehilangan mereka adalah kehilangan besar. Semoga kalimat ‘hati-hati di jalan’ tidak lagi kita ucapkan dengan hambar, melainkan dengan ketulusan doa.
Sebab bagi para pejuang nafkah di gerbong khusus itu, jalan menuju rumah kini telah berganti menjadi jalan menuju keabadian yang mulia.
[]
BACA JUGA:Menjadi Perempuan Kartini dan Rahmah El Yunusiyah di Era Modern