Pilih Kemanusiaan Ketimbang Robot, AMDK TGM Perkuat Kemandirian Ekonomi Umat

oleh Henri Lukmanul Hakim

11 Maret 2026 | 16:10

AMDK TGM Perkuat Kemandirian Ekonomi Umat

Jakarta, persis.or.id – Gerakan kemandirian ekonomi melalui produk lokal kini mulai menunjukkan taji. Salah satunya adalah TGM99, produk Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) demineral asal Cimanggung, Sumedang, yang terus memperluas jangkauan pasarnya di bawah naungan PT Bestama (CV Tirta Guna Mandiri).


Digagas oleh Malik Idris, seorang kader Pemuda Persatuan Islam (PERSIS), TGM99 hadir bukan sekadar sebagai entitas bisnis pencari laba. Usaha yang mulai dikelola secara komersial sejak tahun 2022 ini membawa misi besar: kedaulatan ekonomi dan pembukaan lapangan kerja bagi masyarakat.


Dalam bincang-bincang bersama tokoh senior PERSIS Jakarta, Haji Asep Saepudin, Malik menceritakan perjalanan spiritual dan bisnisnya. Bermula dari produksi skala kecil, kini TGM99 telah mendistribusikan jutaan produk yang tersebar di wilayah Jawa Barat.


"Alhamdulillah, dukungan dari para tokoh dan investor di lingkungan jam'iyyah sangat luar biasa. Momen kebangkitan kami terjadi pascapandemi Covid-19, saat kami memberanikan diri mengambil alih sebuah pabrik air minum yang hampir jatuh ke pihak asing," ujar Direktur Utama TGM99, Malik Idris di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (9/3/2026).


Satu hal unik dari manajemen TGM99 adalah komitmennya untuk membatasi penggunaan teknologi robot di lini produksi tertentu. Secara hitungan bisnis, teknologi otomasi memang dapat menekan biaya operasional, namun Malik memilih jalur yang berbeda.


"Secara teknologi, penggunaan robot memang efisien. Namun, kami mendapat nasihat dari para asatiz agar tetap mengutamakan padat karya. Kami percaya bahwa kemajuan dan keberkahan perusahaan ini adalah buah doa dari teman-teman yang bekerja di sini," ungkap Malik.


Prinsip "ekonomi berjiwa takwa" ini menjadi pembeda TGM99. Bagi manajemen, kesejahteraan karyawan dan keberkahan usaha jauh lebih utama dibanding efisiensi buta yang mengorbankan mata pencaharian warga lokal.


Berdasarkan analisis data, potensi pasar air minum di Jawa Barat sangat besar, mencapai angka puluhan triliun rupiah. Malik mengaku sangat optimis TGM99 mampu mengakuisisi pangsa pasar tersebut secara bertahap melalui dukungan jaringan organisasi dan pesantren.


Ia juga menyoroti fenomena ketergantungan lembaga keagamaan terhadap produk korporasi besar yang memiliki afiliasi asing. Malik mendorong agar pesantren dan instansi mulai beralih ke produk milik kader sendiri.


"Sumber daya alamnya punya kita, yang bekerja orang kita. Sudah saatnya perputaran ekonomi ini kita kelola sendiri secara mandiri agar manfaatnya kembali ke umat," tegasnya.


Pada kesempatan yang sama, Haji Asep Saepudin menekankan pentingnya aspek spiritual dalam menjalankan roda usaha. Menurutnya, keberadaan karyawan yang berkhidmat dengan niat ibadah menjadi kunci bertahannya rezeki sebuah perusahaan.


"Membuka lapangan pekerjaan itu mulia. Jika para pekerjanya adalah ahli ibadah, maka rezeki yang turun akan lebih berkah dan bertahan lama," pungkas Haji Asep.


Saat ini, TGM99 terus memperkuat kemitraan strategis, termasuk menjajaki kerja sama dengan berbagai unit bisnis dan jaringan pesantren, guna memastikan kedaulatan ekonomi tetap terjaga di lingkaran internal.

[]

BACA JUGA:

Qaris Tajudin Bahas Masa Depan Media di PERSIS Ramadhan Expo, Ajak Generasi Muda Berani Berkarya di Dunia Digital