Belajar Ishlah dari Mars Pemuda PERSIS

oleh -

18 Mei 2026 | 20:25

Anggota LPKL PP PERSIS, Aldy Istanzia Wiguna.

Oleh: Aldy Istanzia Wiguna (Anggota LPKL PP PERSIS)


Mukadimah


Menyikapi berbagai dinamika yang terjadi di organisasi Pemuda Persatuan Islam pasca Muktamar menjadi suatu hal yang cukup menarik untuk disimak. Problematika yang mengiringi langkah gerak kepemimpinan ustadz Cepi Hamdan Rafiq di Masa Khidmat 2026-2031 mulai terlihat tengah diuji pasca Muktamar dan penetapan para tasykil pimpinan yang akan membantu beliau.


Dinamika ini muncul seiring dengan kehadiran sebuah whatsapp group yang awal mulanya merupakan grup informasi seputar muktamar Pemuda PERSIS yang berlangsung dari tanggal 25-26 April silam di Hotel Sutan Raja, Soreang di mana grup tersebut sekarang telah berubah nama menjadi Pemuda PERSIS dan menampung seluruh anggota Pemuda PERSIS dari berbagai wilayah Nusantara.


Kehadiran dan percakapan yang terjadi dalam grup tersebut tak pelak menambah dinamika yang semakin menarik terutama dalam persoalan umur ketua dan penetapan tasykil pimpinan pusat yang kurang merepresentasikan Pemuda PERSIS sebagai organisasi nasional.


Tak ayal sejumlah konflik pun muncul ke permukaan hingga ramai diperbincangkan di beragam media online termasuk di WA Grup Forum Mubahatsah yang rata-rata anggotanya merupakan para asatidz di lingkungan Persatuan Islam. Yang menarik dari sejumlah persoalan di WA Grup tersebut adalah ikhtiar untuk ishlah yang dikemukakan sejumlah kader terbaiknya.


Lantas bagaimana jika fragmen ishlah ini terjadi dan kita mengambil hikmah terbaik dari uraian baris demi baris mars Pemuda PERSIS yang dicipta Ustadz Suraedi? Seperti apa resep ishlah yang dikemukakan ustadz Suraedi dalam lirik mars ciptaannya tersebut?


Sejarah Ringkas dan Resep Ishlah ala Mars Pemuda PERSIS


Jika melihat linimasa pergerakan Pemuda Persatuan Islam, maka kehadiran mars yang diciptakan oleh ustadz Suraedi ini memiliki catatan yang cukup panjang sebagai bagian dari perjalanan perjuangan.


Merujuk kepada sejumlah catatan yang ada, pada mulanya mars yang kerapkali menghiasi agenda-agenda keumatan Pemuda PERSIS ini ditulis ustadz Suraedi dengan judul Pemuda Pembela Agama dan terinspirasi dari QS Ali Imran ayat 104. Kehadiran mars Pemuda PERSIS sebagai mars pertama di lingkungan jam’iyyah Persatuan Islam menjadikannya sebagai sesuatu yang cukup menarik.


Dengan lirik khas ketentaraan, kehadiran mars Pemuda PERSIS ini menjadi penyemangat dan sumber inspirasi bagi siapa saja yang hendak berjuang mempertahankan Islam dari keragaman musuh yang ingin menghancurkannya ditambah mars tersebut diciptakan oleh ustadz Suraedi di masa perang ideologi dengan kaum komunis.


Sebagai sebuah gerakan dakwah, Pemuda Persatuan Islam di masa tersebut diharapkan mampu menjadi benteng utama dalam membentengi aqidah serta meluruskan aktivitas ibadah dan muamalah umat sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah.


Hal ini senada dengan bunyi terjemah dari QS Ali Imran ayat 104 yang dijadikan inspirasi oleh Ustadz Suraedi dalam menulis lirik demi lirik mars Pemuda PERSIS tersebut yakni: “Hendaklah ada diantara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”


Jika merujuk kepada bentuk tafsir tahlili, dalam ayat ini Allah memerintahkan agar orang mukmin mengajak manusia kepada kebaikan, menyuruh kepada perbuatan ma’ruf dan mencegah kepada perbuatan yang munkar.


Namun, untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan orang-orang atau kader-kader yang secara terus menerus bergerak dalam lapangan dakwah untuk senantiasa memberikan peringatan bilamana muncul gejala-gejala perpecahan dan penyelewengan.


Selain itu dalam ayat ini pula dianjurkan di kalangan umat Islam wajib ada umat atau kader yang terlatih dalam bidang dan lapangan dakwah yang dengan tegas menyerukan kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf (kebaikan) dan mencegah dari yang munkar (maksiat).


Dengan adanya orang-orang ini, tentu keadaan umat Islam akan lebih terpelihara dari perpecahan dan infiltrasi pihak manapun. Hal ini senada dengan salah satu larik dalam mars tersebut yang berbunyi: bersatulah, bersatulah, hai muslimin. siapa yang menentang Islam musnahlah dalil dan hujjahnya.


Bait pertama mars Pemuda PERSIS ini berbunyi, ‘kami pemuda pembela agama, pembangkit umat yang utama, bertabligh memikat hati yang suci, berdalilkan Qur’an dan Hadis’.


Bait pertama ini dibuka dengan awalan kalimat ‘kami pemuda pembela agama’ dimana baris pertama ini menandakan bahwasannya sebagai pemuda terkhusus Pemuda PERSIS sudah sepatutnya berperan menjadi pembela agama baik dalam kehidupan keseharian, kehidupan berjam’iyyah maupun kehidupan bermasyarakat dan bernegara.


Baris pertama ini menjadi penanda serta penegas tentang identitas Pemuda PERSIS sebagai seorang muslim yang siap memperjuangkan dan mengorbankan jiwa, harta serta tenaganya demi tegaknya kemuliaan Islam yang mana penegas ini disambung di baris kedua dengan kalimat pembangkit umat yang utama.


Di mana baris ini bisa diterjemahkan bahwa selain berperan sebagai seorang pembela agama, Pemuda PERSIS pun mesti berperan sebagai agen perubahan di masyarakat, jam’iyyah juga negara.


Selain memiliki posisi sebagai pembela agama juga pembangkit umat, Pemuda PERSIS pun wajib berperan sebagai penyampai pesan-pesan Ilahiyah dan Sunnah Rasulullah untuk mengajak umat bergerak dalam kebaikan iman juga islam sebagaimana terdapat di baris ketiga yang berbunyi ‘bertabligh memikat hati yang suci’.


Sementara baris keempat dalam mars ini, kurang lebih menjelaskan bahwa landasan Penuda PERSIS menjalankan perannya sebagai pembela, pembangkit umat, serta penyampai risalah keumatan mesti berlandaskan aturan Qur’an dan Sunnah sebagaimana larik baris tersebut yang berbunyi ‘berdalilkan Qur’an dan Hadits’.


Secara singkat, bait pertama dalam mars Pemuda PERSIS ini paling tidak menerangkan tentang fondasi awal serta peran fungsi Pemuda PERSIS.


Pemuda PERSIS dalam bait awal mars ini diharapkan bisa menjadi seorang pembela agama, pembangkit umat, serta berperan serta dalam mendakwahkan syiar Islam dalam naungan Qur’an dan Sunnah. Hal ini seturut dengan motto Pemuda PERSIS yang berbunyi ‘ana muslim qobla kulli syaiin’,


Bila di bait pertama kita sudah menemukan bagaimana identitas seorang Pemuda PERSIS dibentuk, maka pada baris kedua Ustadz Suraedi mengungkapkan bahwa identitas Pemuda PERSIS sebagai kader pembela, pembangkit dan penyampai risalah mesti dibentuk dengan serangkaian tahapan penting mengingat peran serta fungsi Pemuda PERSIS di hadapan umat.


Di baris pertama pada bait kedua ini dibuka dengan kalimat ‘ditanam iman, disebar amal’. Satu kalimat yang dimaksudkan bahwa segala bentuk kegiatan Pemuda PERSIS mesti dilandasi dengan kesungguhan iman serta diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan yang tentunya sesuai dengan tuntunan syari’at Islam.


Sementara di baris kedua pada bait kedua ini, peran dan fungsi Pemuda PERSIS tidak hanya bisa diejawantahkan dalam sebentuk iman dan juga amalan melainkan juga dengan ikhtiar untuk menjadi seorang pemimpin sebagaimana hadits baginda Nabi yang menerangkan bahwa "setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya” yang dinarasikan ustadz Suraedi dalam larik “memimpin jiwa dan akhlaknya”.


Di mana salah satu tugas kepemimpinan tersebut adalah berikhtiar mengembalikan kemurnian Islam sesuai dengan tuntunan Qur’an dan Sunnah sebagaimana lirik ketiga dalam bait kedua yakni ‘membasmi bid’ah agama’ yang bisa dilaksanakan dengan cara berjihad (berjuang), berdakwah (menyampaikan), serta beruswah (menjadi contoh/keteladanan) sebagaimana tercantum dalam larik terakhir yang berbunyi ‘berjihad, berdakwah, beruswah’.


Menariknya dalam lirik asli mars ini, kata berjihad, berdakwah dan beruswah justru berbunyi bergembar, bergembor, berkhutbah yang kemudian disempurnakan dengan kalimat berjihad, berdakwah, beruswah.


Bait ketiga ini paling tidak memberikan gambaran lengkap tentang bagaimana jalan juang seorang Pemuda PERSIS sebagai seorang pembela, pembangkit dan pelanjut dakwah para pendahulu.


Lalu bagaimana akhir dari proses pembentukan identitas Pemuda PERSIS dari yang berperan sebagai pembela, pembangkit dan pelanjut dakwah hingga ikhtiar pembentukan itu diwujudkan melalui kekuatan iman serta penyebaran amal jama’i (bersama) dalam kerangka mendakwahkan Islam dengan diwujudkannya jihad (perjuangan), dakwah (penyampaian) serta uswah (keteladanan).


Lirik akhir dari mars ini menegaskan bagaimana tujuan akhir dari proses pembentukan dan penegasan identitas tersebut. Sebagai kader Persatuan Islam, Pemuda PERSIS diharapkan bisa mempersatukan umat serta menghindarkan umat dari hal-hal yang bersifat kebathilan seperti bid’ah, khurafat dan takhayul yang masih eksis hari ini serta serangkaian bentuk perang pemikiran (ghazwul fikri) dari musuh-musuh Islam.


Sebagaimana dijelaskan dalam baris yang berbunyi, ‘bersatulah, bersatulah, bersatulah, bersatulah, hai muslimin, siapa yang menentang Islam, musnahlah dalil dan hujjahnya’.

Di lirik ini tentu digambarkan dengan jelas bagaimana seharusnya gerakan Pemuda PERSIS yang diharapkan mampu menyatukan umat sebagaimana motto Persatuan Islam yang berusaha agar umat tetap dalam satu suara, satu rasa, satu usaha, dan satu pemikiran Islam.


Khatimah


Jika melihat uraian di atas, maka akan terlihat bagaimana seorang ustadz Suraedi allahu yarham menginginkan kader Pemuda PERSIS yang senantiasa ishlah dengan dirinya sendiri.


Tetap berperan aktif sebagai bagian dari masyarakat dan miniatur Islam serta senantiasa mengedepankan akhlaq Islam dalam mewujudkan tatanan masyarakat madani yang sesuai dengan tuntunan Qur’an dan Sunnah serta berusaha untuk menjauhi hal-hal yang dapat merusak persatuan dan kesatuan Pemuda Persatuan Islam itu sendiri. Wallahu a’lam bish shawwab.


[]


Sumber Tulisan

  1. Wiguna, Aldy Istanzia. (2026, Mei 18). Mendaras Hikmah Mars Pemuda PERSIS. PERSIS. PERSIS.or.id


BACA JUGA:

Prof. Atip: Pemuda PERSIS Harus Tampil sebagai Kekuatan Intelektual Umat

Reporter: - Editor: Fia Afifah Rahmah