Oleh: Andri Nurkamal (Ketua PD Pemuda PERSIS Kab. Tasikmalaya)
Tarik napas panjang dulu, seruput kopinya pelan-pelan. Muktamar XIV Pemuda PERSIS akhirnya beres juga. Setelah berhari-hari kita dibikin melek oleh tensi forum yang naik turun, adu argumen yang tajam, sampai lobi-lobi pinggir jalan yang tembus waktu subuh, sekarang saatnya kita cooling down.
Tapi jujur saja, vibes Muktamar kali ini terasa sangat berbeda dan meninggalkan kesan yang susah hilang. Kalau kita mau sedikit menyelam dan tidak cuma melihat dari luarnya saja, ada beberapa hal keren yang bikin perhelatan kemarin pantas banget diberi tepuk tangan sambil berdiri.
Satu hal yang paling terasa dan bikin merinding bangga adalah bagaimana kedewasaan politik seluruh kader Pemuda PERSIS benar-benar diuji sekaligus dibuktikan di arena kemarin. Bayangkan, perdebatan bisa sepanas itu di dalam ruangan, interupsi menyambar dari sana-sini, dan persaingan gagasan luar biasa ketat.
Tapi begitu palu sidang diketok, suasana langsung cair lagi. Tidak ada cerita baper-baperan, apalagi blok-blokan yang berlarut-larut. Semuanya kembali berpelukan, tertawa bareng, dan sadar penuh kalau kita semua sedang mendayung di perahu yang sama.
Kedewasaan ini mahal harganya. Ini jadi bukti nyata kalau kader kita sudah naik kelas; tidak cuma jago berwacana, tapi juga matang secara mental dan akhlak dalam berdemokrasi.
Ngomong-ngomong soal naik kelas, Muktamar kemarin juga memberikan panggung utama buat mereka yang benar-benar bekerja dalam sunyi lewat apresiasi pemenang basis lembaga. Ini semacam tamparan positif buat kita semua.
Era di mana organisasi cuma mengandalkan figur "Superman" yang jago pidato sudah pelan-pelan digeser oleh kekuatan "Super-Team". Kemenangan di level basis ini membuktikan kalau rapinya administrasi, hidupnya kaderisasi, dan denyut nadi dakwah di akar rumput itu benar-benar dihargai.
Harapannya sih simpel, tim yang menang ini jangan cuma dapat piagam untuk dipajang, tapi sistem kerjanya harus bisa dicontek dan ditularkan ke pimpinan daerah atau cabang lain yang mesin penggeraknya mungkin masih sering mogok.
Terus, yang tidak kalah epik tentu saja soal sistem pemilihan ketua umum secara demokrasi langsung. Ini asyik banget.
Kalau biasanya pemilihan pucuk pimpinan suka terjebak di sistem perwakilan yang kadang bikin akar rumput merasa aspirasinya kurang terakomodir, kemarin ceritanya beda. Setiap suara kader dihargai setara, benar-benar dari dan untuk jamaah.
Meski, kita juga melihat ada ruang perenungan serius tersendiri di mana dalam pemilihan balon yang dilakukan melalui proses kelembagaan (perwakilan PC-PD-PW) menunjukkan dominasi suara di nama ustadz M. Edwin Khadafi, yang kemudian musyawarah mufakat menyepakati untuk terjadinya pemilihan kembali melalui voting, yang hasilnya Ustadz Cepi Hamdan Raifq sebagai pengunggul suara. Dengan raihan suara itu, ia dinyatakan sah sebagai ketua umum untuk 5 tahun ke depan.
Ada cukup banyak arti di sini, di antaranya bahwa ketua umum yang terpilih sekarang punya tiket legitimasi super kuat yang murni datang dari bawah. Beliau tidak punya utang budi ke segelintir elit, tapi memikul utang janji langsung kepada ratusan peserta muktamar yang sudah menitipkan kepercayaan penuh.
Kalau nanti pergerakannya dirasa kurang membumi, ya siap-siap saja barisan bawah ini yang bakal paling awal mengingatkan.
Melihat energi yang tumpah ruah selama Muktamar kemarin, rasanya wajar kalau kita menyalakan optimisme setinggi-tingginya.
Kita sepertinya sudah mulai berani bermimpi lebih dari sekadar menjalankan rutinitas program kerja tahunan. Ada keberanian untuk mulai memikirkan rancang bangun atau semacam blueprint arah gerak organisasi untuk jangka panjang, katakanlah hingga membentang jauh ke tahun 2050, atau minimalnya di satu periode kepemimpinan; 2031.
Lewat kepemimpinan yang lahir dari rahim demokrasi langsung dan ditopang solidnya mesin basis lembaga ini, kita punya landasan paling ideal untuk menyusun strategi panjang itu. Pemuda PERSIS sudah siap menjadi sutradara perubahan, bukan cuma sekadar figuran yang kaget melihat cepatnya dunia berputar.
Harapan pun makin mekar saat menyadari betapa melimpahnya potensi kader di berbagai level. Berhadapan dengan laju era masyarakat 5.0, ruang-ruang pergerakan kita sekarang jelas butuh sentuhan kebaruan.
Bayangkan betapa kerennya kalau ritme dakwah ini mulai kawin silang dengan literasi digital yang mumpuni, pemanfaatan kecerdasan buatan untuk syiar yang lebih luas, sampai pada lahirnya pusat-pusat inkubasi pelatihan yang mencetak para penggerak sociopreneur.
Kita sedang menyongsong fase di mana kader-kader kita tak hanya tangguh secara akidah, tapi juga mandiri secara ekonomi dan siap memberikan dampak sosial yang riil bagi masyarakat di sekitarnya.
Tentu saja, pekerjaan rumah ke depan jelas masih numpuk. Sinkronisasi ritme gerakan dari pusat sampai ke cabang terbawah harus seirama, gaya dakwah juga harus makin asyik dan relevan buat anak muda tanpa harus kehilangan jati diri organisasi, ditambah urusan kemandirian ekonomi yang masih jadi tantangan abadi.
Tapi dengan modal kedewasaan dan kesolidan yang sudah kita pamerkan bareng-bareng di Muktamar kemarin, rasanya jalan terjal ke depan bakal lebih ringan buat dilewati.
Sekarang, waktunya istirahat sebentar dan kembalikan lagi energi yang terkuras. Besok, kita rapatkan barisan lagi untuk kerja-kerja nyata. Bismillah, mari kita tunaikan secara seksama dan bersama-sama.
[]
BACA JUGA:Cepi Hamdan Rafiq Terpilih Sebagai Ketua Umum Pemuda PERSIS 2026–2031