Mantan Ketua Hima-Himi PERSIS Kabupaten Bandung Tekankan Intelektualitas dan Relevansi Gerakan di Tengah Perubahan Zaman

oleh M Aditya Ramadan

•

06 Oktober 2026 | 13:44

Para mantan ketua PD Hima-Himi PERSIS Kabupaten Bandung saat sarasehan penyerta Musda.

Kabupaten Bandung, persis.or.id — Intelektualitas dan kemampuan membaca perubahan menjadi salah satu pesan penting yang mengemuka dalam Sarasehan Himpunan Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswi Persatuan Islam (Hima-Himi PERSIS) Kabupaten Bandung sebagai agenda penyerta Musyawarah Daerah (Musda) Hima-Himi Kabupaten Bandung, hari Ahad (04/10/2026).


Dalam kegiatan yang diselenggarakan di kampus IAI Bandung ini, dihadirkannya para mantan Ketua Pimpinan Daerah (PD) Hima dan Himi PERSIS dari berbagai periode ini menjadi ruang untuk refleksikan kembali karakter gerakan mahasiswa PERSIS, sekaligus membahas tantangan yang dihadapi organisasi dalam merespons perubahan sosial.


Mantan Ketua PD Hima PERSIS Kabupaten Bandung, Defa Hudzaifa, S.Sos., menegaskan bahwa aspek intelektualitas harus tetap menjadi salah satu landasan utama gerakan Hima-Himi. “Nilai intelektualitas tetap harus menjadi landasan gerak Hima-Himi. Hima-Himi adalah dua tubuh yang saling mengingatkan dan saling menasihati,” ungkap Defa.


Pernyataan tersebut menempatkan tradisi intelektual bukan hanya sebagai aktivitas akademik, tetapi sebagai bagian dari karakter gerakan mahasiswa PERSIS. Kajian, diskusi, dan proses pertukaran gagasan menjadi instrumen penting untuk memastikan gerakan organisasi tetap memiliki dasar pemikiran yang kuat.


Sementara itu, Jahira Salsabila, M.Ag., mengingatkan bahwa organisasi perlu memiliki daya tarik yang mampu menghubungkan kebutuhan generasi muda dengan identitas organisasi.


Menurutnya, karakter kader Kabupaten Bandung memiliki kekhasan, khususnya dalam ketertarikan terhadap kajian-kajian strategis. Hal tersebut dapat menjadi modal untuk membangun gerakan yang lebih responsif terhadap persoalan aktual tanpa meninggalkan landasan organisasi.


Pandangan mengenai relevansi gerakan juga disampaikan Fahmi Mujahid Waliyuddin, S.Ag., yang menceritakan pengalaman keterlibatan Hima-Himi dalam berbagai ruang eksternal. Pada masanya, gerakan organisasi tidak hanya diarahkan pada aktivitas internal, tetapi juga berupaya menerjemahkan perubahan sosial dan politik ke dalam bentuk khidmat nyata.


Di antaranya melalui keterlibatan dalam ruang kepemudaan, pemberdayaan pemuda melalui kerja sama dengan unsur pemerintahan, hingga advokasi terhadap persoalan masyarakat. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa tidak berhenti pada ruang diskusi, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kerja sosial yang memberikan manfaat kepada masyarakat.


Adapun Nuriah Siti Khofifah, S.E., mengungkapkan bahwa pada periode kepemimpinannya, Himi PERSIS Kabupaten Bandung memberikan perhatian terhadap isu-isu keperempuanan serta persoalan penyimpangan orientasi seksual. Perhatian tersebut kemudian diwujudkan melalui pembentukan lembaga khusus yang menangani isu tersebut.


Berbagai pengalaman dari para mantan ketua tersebut memperlihatkan bahwa bentuk gerakan Hima-Himi PERSIS dapat berubah mengikuti konteks zaman. Namun, perubahan tersebut tetap membutuhkan pijakan nilai dan intelektualitas agar organisasi tidak kehilangan arah.


Sarasehan akhirnya tidak hanya menjadi forum nostalgia para mantan pimpinan, tetapi juga menjadi ruang transfer gagasan antargenerasi. Para kader yang hadir mendapatkan kesempatan untuk membaca kembali sejarah sekaligus memahami bagaimana organisasi merespons berbagai persoalan pada setiap periode kepemimpinan.


Pesan yang mengemuka dalam forum tersebut menjadi penting bagi kepemimpinan Hima-Himi PERSIS Kabupaten Bandung berikutnya adalah mampu menjaga tradisi intelektual, membaca perubahan zaman, memperkuat kaderisasi, serta menghadirkan khidmat organisasi di tengah masyarakat.


[]

BACA JUGA:

Dari Keterbatasan Waktu hingga Regenerasi, Mantan Ketua Ungkap Dinamika Kaderisasi Hima-Himi PERSIS Kabupaten Bandung